Pulang dari sholat berjamaah 'Ashar di masjid, aku kembali ke tempat kerja dengan berjalan kaki. Saat itu tiba-tiba ada yang menyapa dari belakang, "Yuk, ikut!". Ternyata seorang laki-laki paruh baya menaiki motor mengajak saya untuk memboncengnya; ingin mengantarkanku sampai tujuan.
Pertama kali saya kaget karena kami belum kenal sama sekali. Tapi karena melihat niat baiknya, aku dengan senang hati memboncegnya. Di sela-sela perjalanan kami mengobrol asyik layaknya sudah kenal. Ternyata dia juga ikut sholat berjamaah 'Ashar dan melihat aku waktu di masjid barusan. Sampai ditempat aku bilang "Terima kasih", dan senyum menghiasi perpisahan kami.
Kasus2:
Di bandara, seorang ibu-ibu terlihat payah membawa barang bawaannya yang berat. Seseorang menghampirinya lalu berkata, "Mari bu, saya bantu bawakan". Alih-alih mau dibantu, ibu itu malah berjalan cepat berusaha menghindari orang yang menawarkan bantuan kepadanya, seakan-akan takut diapa-apakan.
Orang yang memang tulus mau membantu itu pun berangsur meyingkir dengan senyum simpul, seakan ingin berkata, "Ah, sebegitu susahkah bagi saya untuk sekedar membantu orang lain?". Miris aku melihatnya.
Kasus3:
Aku melihat seorang sedang tergesa-gesa berlari kecil menuju gerbang kampus. Sepertinya sedang terburu-buru karena sudah terlambat, entah kuliah atau ujian. Kulihat jam tangan menunjukkan jam 9 lewat 10 menit. Mungkin dia telat 10 menit. Waktu itu, ingin rasanya menawarkannya untuk kuantar sampai gerbang yang sudah kurang dari 100 meter lagi jaraknya. Tapi itu urung kulakukan dengan alasan belum kenal dan takut dikira mau ngapa-apain.
Ah, setelah kejadian itu aku menyesal telah mengurungkan niat baik itu. Berkali-kali kupikir, aku mengalami kejadian itu. Ah, sebegitu susahkah untuk sekedar membantu orang lain di sini? Tidak, seharusnya tidak begitu.
...
Aku teringat cerita temanku waktu dia berangkat ke Jepang tahun lalu. Kebetulan saat itu adalah pengalaman pertamanya ke luar negeri. Waktu itu harus transit dulu di Malaysia, dan itu yang membuatnya sedikit khawatir. Kebetulan HP nya sedang low bat dan waktu itu tidak membawa jam tangan sehingga takut tidak tahu waktu.
Kebetulan dia ketemu orang Indonesia disana, diajak makan dan ngobrol. Dan yang tidak diduga, orang Indonesia yang kebetulan bawa dua jam tangan, memberikan satu jam tangannya pada temenku. Ah, saya ingat bagaimana setelah cerita itu, aku jadi bersemangat untuk banyak berbuat baik pada orang.
Sampai saat ini, semangat itu masih kujaga, akan terus kujaga. Aku teringat pernah suatu ketika di salah satu MRT station di Fukuoa, aku ketinggalan kamera. Kamera itu tertinggal di mesin tiket, dan aku terlanjur masuk ke dalam. Yang tak terduga kemudian adalah, ada orang Jepang yang membawakan kamera itu padaku. Wah, baik sekali!
Kujaga janjiku pada diri sendiri: untuk membantu orang lain sebanyak yang kita bisa, semampu yang kita bisa. Aku yakin Indonesia juga bisa berubah; berubah menjadi negara beradab dengan masyarakat beradab. Sahabat, ingatkah sang pemilik jawaami'il kalim, perkataan yang sarat makna, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berkata kepada para shahabat, generasi terbaik umat:
"Barangsiapa melepaskan salah satu kesusahan dunia seorang mukmin, maka Allah akan melepaskan salah satu kesusahan hari kiamat darinya. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akherat. Barangsiapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akherat. Allah menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudara-saudaranya..." (HR Ahmad, dari Abu Hurairah, hadits Arba'in An-Nawawi ke-36).
Subhanallah, mari sahabatku, kita budayakan berbuat baik dan saling membantu terhadap sesama saudara. (ya2n)