Jus dan Buah Setelah Makan?

Kita punya kebiasaan makan buah atau minum jus setelah makan besar. Menurut informasi yang saya dapat, kebiasaan makan buah setelah makan ternyata kebiasaan buruk. Hal ini disebabkan karena buah dicerna lebih cepat daripada meal atau makanan besar seperti daging dan sebagainya, sehingga jika dimakan setelah meal, absorbsi buat tidak maksimal. Ada juga yang mengatakan akan mengganggu proses pencernaan. Setelah saya cari, ada dua pendapat mengenai makan buah setelah meal ini: (1) IT'S OK, dan (2) NOT RECOMMENDED.

http://wiki.answers.com/Q/Do_you_eat_fruit_before_or_after_meals
Fruit takes longer to digest so when eating a meal it can slow down your digestion progress making you feel bloated. It really doesn't matter whether you eat fruit before or after a meal. If you eat fruit before a meal, you tend to eat less. If you eat it after a meal it's kind of like a desert.

http://caloriecount.about.com/eat-fruit-ft90993
Fruit digests very quickly compared to other foods, and is very sugary and therefore 'ferments' in your stomach. This is fine normally, but if you eat fruit after eating a lot of other food that digest more slowly, then the fermenting fruit sits in your stomach a lot longer, and can cause bloating, gas and discomfort.

Mana yang benar? DON'T KNOW. Mungkin Anda tahu jawabannya?

picture: http://en.wikipedia.org/wiki/Orange_juice

Anti Kemapanan

Anti kemapanan bisa diartikan di dua sisi: negatif atau positif. Saya pertama kali mengenal kata ini waktu SMA. Dulu, saya menganggap istilah ini sebagai hal negatif karena kebetulan waktu itu ada kontes 'anti kemapanan' di MTV. Tapi belakangan, istilah 'anti kemapanan' di benak saya mulai bergeser dari negatif ke positif.

Anda pasti ingat hukum inersia. Sebuah benda tidak akan bisa bergerak jika tidak ada gaya yang mendorongnya. Gaya inilah yang akan membuat benda tersebut terus dan terus bergerak maju. Nah, ibarat benda, jika tak ada gaya yang mendorong untuk terus maju, orang akan cenderung diam; diam ditempat yang aman. Anti kemapanan adalah ketidak-inginan seseorang untuk terjebak dalam kondisi ‘mapan’, zona aman dimana kita telah merasa ‘cukup'; tak perlu bergerak. Saya tidak mengatakan ketidakinginan 'mapan' disini adalah ketidakinginan 'mapan' secara finansial, pun tidak ada masalah jika diartikan seperti itu, tergantung definisi mapan secara finansial itu apa.


Ada istilah bahwa diam itu cenderung rusak. Dalam kaidah fiqih, air yang diam adalah air yang rusak, tidak bisa dipakai untuk bersuci dengan syarat-syarat tertentu. Sebaliknya, air yang mengalir adalah air yang baik, bisa dipakai untuk bersuci. Jika air saja kalau diam berarti rusak, bagaimana dengan manusia?

Hal itulah yang mendasari butuhnya gaya yang mendorong kita dalam kehidupan sehari-hari agar kita tidak 'diam'. Lebih spesifik lagi agar kita tidak terbuai dengan diamnya kita dalam menikmati rutinitas kerja: berangkat pagi, kerja, pulang, tidur, makan, begitu seterusnya. Diam untuk tidak bergiat diri dalam beribadah, dalam berdakwah, dalam memperbaiki diri dan orang lain.

Dalam bahasa lain, kita butuh adanya tarbiyah dalam kehidupan sehari-hari kita, terutama tarbiyah dzatiyah; pembinaan diri sendiri. Mengapa? Karena sejatinya, tarbiyah diri sendirilah yang akan menjadi sumber bahan bakar yang takkan habis, yang bisa mendorong kita untuk terus bergerak. Kalau bukan diri sendiri siapa yang akan membina kita? Bukankah kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri? Bukan kelak di akhirat kita bertanggung jawab atas diri-diri kita masing-masing? So, teriakkan 'anti kemapanan', lalu dorong diri-diri kita untuk bisa bergerak.

Bergerak.. Bergerak.. Terus bergerak..

picture: http://www.chip.co.id/gallery/data//512/Aliran_sungai.jpg

Keteladanan Ekstrim

Saya baru dapet istilah ini waktu jadi pembicara tamu di Asrama Etos Ahad lalu. Kebetulan ada kang Hafiz EL'98 juga yang juga jadi pembicara disana. Ceritanya saya sebagai wakil profesional, kang Hafiz wakil enterpreneur.

Alhamdulillah, saya senang sekali bisa sharing, berbagi banyak hal kepada peserta tentang pengalaman saya, yang saya sendiri pun baru menyadari saat itu juga, betapa perlunya saya bersyukurinya atas hal ini. Kalau tidak ada undangan mengisi acara seperti itu, mungkin saya belum menghayati dan mensykurinya.

Kata seorang ustadz, "Kita jadi besar ini sebenarnya hanya karunia Allah. Kita sering berbicara jika ingin menjadi besar maka begini begitu, padahal dulu sebelum jadi besar, tidak dengan kesadaran mempraktekan apa yang dibicarakan sekarang ini, bahkan mengetahui ilmunya pun tidak." Semua itu tidak lain hanya jalan yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya.

Dari acara itu, justru banyak ilmu yang bisa saya ambil . Salah satu yang saya dapatkan adalah istilah "keteladanan ekstrim." Walaupun sebenarnya tidak seratus persen baru karena esensinya pernah saya dapatkan dari murabbi sejak dulu, hanya pengistilahan yang berbeda. saja. Pun hakekat itu telah menempel kokoh di hati saya sejak lama. Tapi kali ini ingatan saya itu kembali tergugah.

Keteladanan ekstrim

Maksud saya adalah: negeri ini butuh sosok-sosok teladan yang extreamly baik, tapi juga seorang da'i. Butuh seorang yang extreamly kaya, pengusaha, tapi juga da'i. Butuh seorang yang extreamly profesional, ahli satu-satunya di Indonesia, tapi juga da'i. Butuh seorang yang extreamly sukses dan dipandang di masyarakat, tapi juga da'i.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa masyarakat menilai seseorang berdasar kedudukannya, dan menghormatinya berdasar penilaian kedudukannya itu. Seperti teori Pak Mario Teguh yang menyebutkan bahwa, "Jika Anda sebagai suami ingin didengar istri, maka tempatkanlah sebagai orang besar dihadapan istri. Jadilah suami yang bijaksana, berwibawa, penuh tanggung jawab, sehingga istri melihat Anda sebagai orang besar yang patut didengarkan," begitu pula hubungan kita dengan masyarakat.

Teori ini benar-benar berlaku di masyarakat. Contoh kecil saja. Byangkan ada seorang calon menteri yang extreamly kaya, lalu pada hari diangkatnya dia sebagai menteri, dia berkata, "Saya akan serahkan semua gaji saya untuk negeri! Bahkan separuh harta saya." Seketika itu juga masyarakat akan terperangah, shock, dan tiba-tiba melihat sosok yang begitu mengagumkan. Lalu peran ke-da'i-an-nya di masyarakat akan semakin dimudahkan. Ini sekedar contoh kecil saja. Dan kita butuh contoh-contoh nyata teladan yang ekstrim ini.

Jika ada pertanyaan siapa orang Indonesia yang ahli bikin chip? Jawabannya: orang Muslim. Siapa orang Indonesia yang jadi pengusaha paling sukses? Orang Muslim. Siapa orang Indonesia yang jadi professor dan dapat Nobel? Orang Muslim. Siapa orang Indoneisa yang dapet cap orang paling dermawan? Pasti orang Muslim! Muslim, Muslim, dan Muslim. Muslim berjaya karena Islam. Begitulah semestinya.

So? Mari kita hadirkan semangat itu dalam hati kita. Jadilah orang ekstrim baik, lalu hadirkanlan keteladanan ekstrim itu di masyarakat. Buktikan bahwa Islam itu tinggi, dan tiada yang lebih tinggi darinya, lalu perhatikan apa yang terjadi.

Saya agak terperangah dengan kalimat kang Hafiz yang katanya mengutip dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu, "Kalau ada 100.000 orang berjuang di jalan Allah, pasti saya ada di salah satunya, kalau ada 1000 orang berjuang, pasti saya salah satunya, kalau ada 10 orang berjuang, pasti saya salah satunya, kalau ada 1 orang berjuang, pasti itu adalah saya!".

Profesionalisme

Tak lengkap rasanya kalau saya tidak menyertakan apa yang saya sampaikan di Asrama Etos. Profesionalisme, dari kamus Merriam-Webster, berarti: "engaged in one of the learned" (see this). Tapi saya lebih suka menyebut profesinal sebagai sikap amanah (walau ada istilah lebih sering dipakai, yaitu, itqan). Amanah adalah sikap untuk menjaga dan memenuhi apa yang dititipkan kepadanya, termasuk dalam hal pekerjaan. Dengan amanah ini, seseorang akan termotivasi untuk selalu menjadi lebih baik dan selalu mencoba untuk bersikap 'professional'.

Lima hal yang saya rangkumkan berdasarkan pengalaman pribadi bergelut di dunia keprofesian adalah: niat, "passion", learn, practise, dan do'a.

_Niat_ adalah satu hal besar yang membedakan kita sebagai seorang Muslim dengan non-Muslim. Setiap hal, setiap waktu, setiap tetes keringat yang kita keluarkan tanpa disertai niat baik untuk beribadah, untuk memberikan sumbangsih pada Islam, maka akan sia-sia. Sungguh sayang jika seperti itu adanya.

_
"Passion"_ adalah rasa ketertarikan akan suatu bidang. Perlu bagi kita untuk menumbuhkan rasa ketertarikan terhadap bidang yang ingin kita profesionalisasi, sebagai bahan bakar yang akan menghembuskan semangat setiap kali menjalaninya.

_Learn
_, jangan berhenti belajar, jangan berhenti bertanya.

_Practise_, ada teori yang dilakukan Malcolm Gladwell tentang orang-orang menonjol di bidangnya, ternyata adalah mereka-mereka yang memberikan waktu lebih untuk mencoba, orang-orang yang sudah melebihi 10.000 jam mencoba.

_Do'a_
, adalah keistimewaan kita sebagai orang Muslim, yaitu senjata orang Muslim. Semua bisa terjadi atas takdir Allah, dan ada takdir yang bisa dirubah dengan berdo'a.

Pada akhirnya, banyak sekali hal yang bisa dilakukan sebagai pintu menuju profesionalisme. Pun tulisan ini akan panjang sekali kalau harus membahas semua point diatas secara detail. Intinya semua bermuara pada diri sendiri. Pada akhirnya, action-lah yang akan menjawab. Dan 'ku tak 'kan lelah untuk membagi ilmu ini kepada orang lain, karena "Hidup akan bermakna kalau sudah bermanfaat bagi orang lain." Semoga tulisan ini memberi inspirasi (ya2n).

Paradoks Kebebasan Ala Amerika

"Saking asingnya dengan shalat, pernah dua orang Muslim yang sedang shalat di samping minimarket di Texas ditangkap polisi karena pemilik toko menganggap itu bagian dari ritual terorisme"

Ustadz Muhammad Awod Joban, Imam masjid Olympia di negara bagian Washington, Amerika Serikat, pada senin 3 Maret 2003 membacakan doa secara Islam pada sidang pembukaan house of representatives (parlemen negara bagian) di State Capitol, Seattle. Alih-alih disambut baik, doa yang disampaikan oleh ustadz kelahiran Purwakarta, Jawa Barat ini malah disikapi dengan walk-out oleh dua perwakilan dari partai Republik (Seattle). Tak ada alasan yang jelas, selain tudingan bahwa doa tersebut menyuguhkan 'Patriotisme Islam.'

Padahal, bukan sekali ini ustadz asli Indonesia menampilkan Islam di muka publik. Amerika. Muhammad Syamsi Ali, pria asli Makassar yang jadi Imam di Masjid Al-Hikmah New York, bahkan pernah membacakan Al-Qur'an di hadapan George Bush dan Bill Clinton pada peringatan WTC 9/11 di Yankee Stadium, New York beberapa hari setelah tragedi tersebut.

Namun itulah Amerika. Kebebasan beragama dan mengekspresikan ajaran agama seringkali disikapi lain. Secara khusus untuk agama Islam, yang sangat mendapat sorotan pasca tragedi 9/11. Padahal, kebebasan beragama dilindungi oleh amandemen pertama konstitusi AS (Bill of Rights 1791).


***

Begitulah potongan buku "The Journal of Muslim Traveler." Paragraf-paragraf berikutnya kemudian menceritakan bagaimana rakyat Amerika yang begitu mengagung-agungkan kebebasan (freedom) dengan semangat "The American Dream" mereka. Dibalik itu mereka justru merong-rong kebebasan warga Mulism disana. Terlihat dari banyaknya film-film Hollywood yang mengambil setting Timur Tengah dan kerap kali menggambarkan sosok umat Islam yang sebagai kelompok yang sadis, radikal, sekaligus bodoh.

Juga sekalipun Amerika adalah negara sekuler, pemisahan antara negara dan agama, pun masalah doa dipermasalahkan. Dan jangan harap bisa menemukan masjid ataupun mushala di tempat-tempat publik. Shalat pun menjadi sesuatu yang asing bagi mereka. "Saking asingnya dengan shalat, pernah dua orang Muslim yang sedang shalat di samping minimarket di Texas ditangkap polisi karena pemilik toko menganggap itu bagian dari ritual terorisme," begitu tuturnya.

Maka bersyukurlah kita yang ada di Indonesia. Bisa beribadah dengan mudah, menemukan masjid dan mushala dimana-mana. Adzan terdengar keras menggema di sepanjang Kepulauan Indonesia. maka jangan sia-siakan kesempatan berharga ini. Dan bagi saudara-saudaraku di seantero jagad, dimanapun berada, negara sekuler, komunis, atheis, atau negara Islam, jagalah diri kalian, manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk ibadah.

Betatapun kita tidak bisa memungkiri bahwa banyak saudara-saudara kita yang sekarang tinggal disana. Dan tak kita pungkiri bahwa geliat Islam di Amerika makin membaik. Tidak ada salahnya pula jika kita tinggal sejenak di negeri orang sekedar menimba ilmu disana. Seperti kata teman saya waktu bercerita perihal sejara Taufik Ismail, sang maestro puisi, "Tahu nggak, Taufik Ismail itu dulunya sekolah di Rusia." Lanjutnya, "Tahu sendiri kan, Rusia itu negara komunis. Waktu itu Taufik Ismail pas dapet beasiswa di Rusia bertanya kepada ayahnya."

Sejurus kemudian dia mengubah intonasinya dan berusaha memerankan Taufik Ismail yang berkata kepada ayahnya, "Bagaimana, Pak? Boleh ndak saya sekolah di Rusia." Ayah Taufik Ismail pun menyahut, "Nak, bagaikan batu bata, semakin dibakar akan semakin keras." Ya, batu bata akan semakin membaik kualitasnya jika telah melewati proses panjang nan melelahkan. Go on, bro! Semangat selalu.

*Untuk saudara-saudaraku dimanapun berada, Allah.. hafidz!! (a quote from a Pakistan brother who are currently living in Swedia for study)

This Morning Chat

Alert: Percakapan ini dilakukan dalam bahasa Jawa. ^^

D: assalamu'alaikum
D: kapan le ujian?
Y: wa'alaikumussalam wr wb
D: adik2 kelasmu angkatan 2005 do semangat ki lo
Y: ho oh po?
Y: sopo mas?
D: *** karo ***
D: cah komputer ketoke
D: wis do arep test bulan depan
Y: weh
Y: iyo
Y: dheke yo tau crito
D: kok kenal?
Y: lha cah elektro -_-!
D: emange critone kapan?
Y: pas isih nang kene
Y: kuwi kan jebolan VS kabeh
D: oalah

Hyah.. Today's morning chat wake me up. Satu pelajaran yang bisa kuambil. Rata-rata anak-anak VS, baik yang masih bertahan maupun jebolan VS, punya semangat dan idealisme tinggi. Alhamdulillah... Go on, bro! Let we meet there soon...!! Semangat dan terus berkarya.

It's OK.. just Circle-ing Around

Sabtu pagi adalah acara rutin buat temen-temen perusahaan: bulutangkis. Pagi itu saya panasi motor, ambil sepatu, lalu.. yak, siap berangkat. Tapi eh ternyata, sampai di sana masih sepi. Usut punya usut, ternyata temen-temen baru bangun bahkan masih pada tidur. Yah ... Akhirnya kuputuskan untuk Circle-ing Around. Muter-muter sajaa.. Menikmati segarnya udara pagi di sekitar ITB. Yah.. beginilah kalau masih single. Sebenarnya ada niatan untuk lari-lari saja di Sabuga. Tapi nggak enaknya di Sabuga, untuk masuk track lari saja harus bayar. Mending sekalian lari-larinya di dalam ITB saja ya.. gratis.. alami.. ^^

Saya jadi inget waktu mampir ke Jurong East, mampir ke tempat tinggal teman di Singapore. Pagi itu saya sempatkan untuk olahraga. Mumpung di Singapore, kapan lagi ada kesempatan olahraga pagi disini, hehe. Kutanya teman katanya ada Stadium dan track lari di Jurong East. "Jurong East Stadium." namanya. Lokasinya enak, nyaman, bersih, dan 100% lebih baik dari Sabuga. Gratis lagi.. Yang paling berkesan adalah track lari-nya tidak terbuat dari tanah seperti Sabuga, tapi dari karet. Sayang foto-foto stadium di HP ku dulu sudah hilang, kehapus, jadi kuambilkan saja dari internet. Check this out.


Waktu nyampe sana (Jurong East Stadium-red), ada banyak kegiatan yang sedang dilakukan. Ada yang belajar Taichi, lari pagi tentunya, bahkan waktu itu ada acara lomba anak-anak seusia TK. Sepertinya itu adalah kegiatan lomba anak-anak Muslim. Wah, kebetulan sekali, event yang langka, kupikir. Kulihat keluarga-keluarga Muslim berdatangan membawa anak-anaknya yang masih kecil. Sebagai gambaran, orang Muslim Singapore terdiri dari banyak ras, Melayu, Arab, Pakistan, dll.



Hmm.. Di Jurong east juga ada club Sepakbola. Saya ingat betul karena namanya yang unik: Gombak United. Di sana juga ada beberapa Community Club, tempat sosialisasi dan bermasyarkat. Saya sendiri nggak paham dengan peta sosial Singapore. Orang Muslim jelas ada disana, tapi sepertinya masih minoritas. Oiya, disana juga ada pasar tradisional lho. Saya sempet beli pulsa disana, tapi karena lupa bawa paspor, ahirnya nggak jadi. Herannya juga, ada yang jualan voucher pulsa Telkomsel di pasar itu. Yeup, pagi itu kututup dengan berjalan, berputar mengelilingi Taman Sari, Salman, Ganesha, sambil menerawang memory waktu itu, lalu pulang.. Nice day lahh.. (with Singlish ^^)

Macet Makin Macet

Ini adalah foto kemacetan jalan Dago, tepat sebelah timur ITB. Foto ini kumabil sore hari tanggal 18/10 saat mengantar temenku ke Stasiun Badung, untuk naik kereta ke Jakarta, ke tempat tinggalnya saat ini.

Fotonya kurang meggambarkan dengan jelas sih memang, tapi bisa kukatakan, "Jalanan ini sungguh macettt bener!." Bahkan macetnya mulai dari simpang dago sampai perempatan jalan layang. Seingatku, tak pernah jalan dago yang ini sampai semacet ini. Dan seingatku, kemacetan ini mulai menjadi-jadi setelah adanya Tol Jakarta-Bandung yang mengakibatkan mobil Jakarta-Bandung lalu lalang. Huff, semoga pemerintah bisa cepat antisipasi, jangan sampai Bandung jadi Jakarta kedua, macet... polusi...

My First Training as a Tutor


Hari ini saya merampungkan dua seri training di perusahaan yang bertajuk "Basic Training on Verification." Ya, disebutnya basic training, atau training dasar. Tapi sebenarnya nggak dasar-dasar amat kok, karena topik yang saya bawakan masih termasuk asing dan baru di kalangan engineer. Kali ini saya berperan sebagai a lecturer, pembawa materi, atau a tutor (*krip-krip).

Ini berawal dari kekhawatiran saya atas munculnya resistansi dari para engineer untuk memigrasi metode verifikasi dari metode lama ke metode baru yang saya propose. Ups, maaf, saya banyak memakai kata verifikasi karena memang itu bidang saya saat ini, hardware verification, yang intinya adalah bagaimana caranya memastikan bahwa chip yang sudah didesain itu bisa berjalan sesuai dengan apa yang seharusnya. Kebayang donk, kalau kita mendesain chip 3G (modem) lalu tidak bisa komunikasi dengan stasiun pemancar (BTS) karena ada kesalahan di desainnya. Tugas verifikasi adalah mencari dimana letak-letak kesalahan itu, membetulkannya, lalu memastikan bahwa chip sudah tidak bermasalah lagi.

Apa yang menarik di training ini? Bagi saya, sangat menarik! Karena ini adalah kali pertama saya memberikan lecture kepada orang lain as a professional, bukan an academia. Sebagai seorang yang kebetulan diamanahi memegang divisi hardware verification di perusahaan, saya banyak meluangkan waktu untuk riset dan mempelajari metodologi dan teknik yang dilakukan oleh kebanyakan perusahaan-perusahaan chip saat ini. Saya mendapati bahwa ada metodologi yang benar-benar baru dan lebih efektif untuk menemukan bug (baca: kesalahan) pada desain chip. Saya menyebutnya sebagai "Assertion-based Verification Methodology."

Pada prakteknya, saya meng-combine berbagai macam methodology dan tools yang ada. Saya juga mem-propose "Standardized Verification Workflow" dimana ada standard alur kerja verifikasi sehingga teknologi dan teknik yang pernah dipakai bisa dengan mudah di-reuse; tidak hanya limbah yang di-resuse, hehe. Nah, kesemua hal itu membentuk satu solusi komplit untuk verifikasi, a complete verification environment.

Saya begitu exciting, dan saya berharap para peserta pun ikut-ikutan exciting. Dan Alhamdulillah sepertinya peserta begitu excited juga. Goal saya adalah, meyakinkan peserta akan kelebihan metode baru dalam verifikasi, dan memberikan kemampuan dasar untuk mengimplementasikannya, mempercepat learning curve. Btw, kebetulan waktu training ada yang iseng ngambil foto, hehehe, thanks to Thoha, walau hasilnya betul-betul noisy karena cuma pakei kamera HP.

Di akhir training saya adakan survey untuk mengevaluasi hasil training ini. One thing that make me relieved is that everyone choose to use a new approach in their design and verification phase: Assertion. Ini adalah hasil surveynya.
(1) Please check bellow language that familiar to you.

Verilog 53 % ***
VHDL 12 %
e 0 %
Vera 0 %
SystemVerilog 6 %
C/C++ 29 %
SystemC 12 %
PSL 0 %

(2) Which is your primary design language?

Verilog 82 % ***
VHDL 9 %
C/C++ 9 %
SystemC 0 %
SystemVerilog 0 %

(3) Which primary verification language do you use?

Verilog 89 % ***
VHDL 0 %
e 0 %
Vera 0 %
SystemVerilog 0 %
C/C++ 0 %
SystemC 11 %

(4) Which are more suitable to describe your job?

Modeling 8 %
RTL Designer 56 % ***
Verification 36 %
System Architect 0 %
Back-End 0 %

(5) How much do you understand the material provided
within this training?

Less than 30 % 0 %
30-60 % 44 % ***
60-90 % 44 % ***
Understand all the material 12 %

(6) What do you think of the material outline?

Suitable 100 % ***
Not suitable 0 %

(7) Was this training helpful for you?

Yes 100 % ***
No 0 %

(8) Do you understand the concept of assertion?

Yes 100 % ***
No 0 %

(9) Which primary verification language do you plan
to use for your design?

Verilog 40 %
VHDL 0 %
e 0 %
Vera 0 %
SystemVerilog 0 %
C/C++ 0 %
SystemC 60 % ***

(10)Do you plan to implement assertion to your next design?

Yes 90 % ***
No 10 %

Kenangan Itu.. Semangat Itu

Saya sungguh beruntung tahun ini, dapat kesempatan untuk mengisi acara reuni akbar SMP, dari ankatan 1980 sampai 2009. Walau yang datang tak sebanyak angkatan yang diundang, tapi acara cukup meriah. Lagian tempatnya juga nggak gede-gede amat kok, itu aja sudah penuh, gimana kalo banyak yang datang?

Yang paling membahagiakanku adalah kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang telah berjasa hingga aku bisa menggapai cita-citaku saat ini; mereka adalah guru-guruku. Ada Bu Lies guru fisika yang saya ingat betul cara mengajarnya, membuat fisika menarik, menantang, begitu pikirku. Ada Bu Tum, guru agama yang kupikir perawakannya masih tetap sama dibanding berpuluh tahun lalu, masih tetap bersahaja dan penuh nasehat. Pak Sur, guru PPKn dengan gaya penuh semangatnya. Tak kalah semangat dengan itu Bu Wanti, guru bahasa, datang bersama suaminya, guru matematika favorit, ternyata sampai sekarang masih favorit. Terbukti dengan disorak soraikannya ia ketika datang dan menyapa mantan anak-anak didiknya, alumni SMP 1 Galur.

Ah, andaikan mereka tahu betapa berjasanya mereka. Dan kini, kududuk disini, di depan mereka semua, dalam acara success story alumni SMP 1 galur. Kebahagiaan apalagi yang bisa kuberikan kepada mereka selain bahwa atas bimbingan meraka semua saya menjadi sukses, walaupun tak pernah kuanggap diri ini sukses, hanya sekedar ingin membagikan semangat dan inspirasi kepada orang lain. "Saya senang sekali bisa diundang panitia di acara ini. Saya kira banyak teman-teman dan saya yang juga sukses. Saya disini hanya mewakili teman-teman saya di kalangan generasi muda. Saya kira alumni SMP 1 Galur banyak yang sukses Bu, Pak." begitu ucap saya dengan mantap.

Saya pun bahagia ketika Pak Sur menyalami dan menyahut, "Selamat", dengan nada tegas dan lugas seperti biasanya, menyiratkan rasa bangga atas almamaternya, SMP 1 Galur. Perkataan itu pula lah yang menyiratkan akan keheranannya atas bekas muridnya yang dulu tak pernah ia duga-duga akan berkata, "Alhamdulillah saya sejak SMP bercita-cita sekolah di ITB." tukas saya ketika pembawa acara talk show menanyai perihal asal mula chip Xirka. "Waktu di ITB, saya masuk lab pada tingkat dua, setelah ertemu dengan dosen yang baru pulang dari Jepang dengan membawa semangat untuk menghidupkan industri elektronik Indonesia. Dari situlah cikal bakal keterlibatan saya pada perusahaan yang didirikan dosen saya ini, Pak Trio, dengan seorang temannya, Pak Eko." Kolaborasi maut, ahli di akademis dan enterpreneur, begitu pikirku berkali-kali.

Pada acara reuni itu, saya pun berkesempatan untuk bersua dengan teman-teman lama, dengan bermacam kenangan yang menyertainya; Akhid, Thoha, Slamet, Rinto, Ahem, Novi. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Kami bercerita, berceloteh, dan menyelami memory 10 tahun lalu, ketika kami bersama-sama belajar dan bermain, disini, di SMP 1 Galur. Anehnya, hampir semua kenangan yang kami gali itu lucu-lucu, menyenangkan, bahkan mengagetkan. Tak satupun kenangan sedih terlintas. Entahlah, mungkin masa-masa SMP memang penuh keceriaan. to be continued..



Template by Oriol Sanchez | blogger template by blog forum