Wednesday, February 29, 2012

Biografi Sa'id bin Musayyab: Penghulu Para Tabi'in

"Adalah Sa'id bin Al-Musayyab telah berfatwa
padalah banyak sahabat yang masih hidup."

Suatu tahun, Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan berhasrat untuk menunaikan haji ke Baitullah Al-Haram dan berziarah ke Haraimain yang mulia dan mengucapkan salam kepada Rasulullah saw.

Sampailah bulan Dzul Qa’dah, beliau berangkat menuju ke bumi Hijaz disertai tokoh-tokoh bani umayyah, para gubernurnya, pejabat pemerintah dan sebagian anaknya. Rombongan bertolak dari Damskus ke Madinah Al-Munnawarah tanpa tergesa-gesa. Tiap kali singgah atau di suatu tempat atau wilayah, mereka berisitirahat sambil mengadakan majelis ilmu dan saling memberikan peirngatan agar bertambah pengetahuannya tentang din dan mengisi jiwa dengan mutiara hikmah dan nasihat yang baik.

Sampailah rombongan tersebut di Madinah Al-Munawarah, Amirul Mukminin menuju tempat suci untuk memberi salam kepada penghuninya, Muhammad saw. Kemudian beliau melakukan shalat di Raudhah Asy-Syarifah. Beliau merasakan kesejukan, ketenangan dan ketentraman jiwa yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Ingin rasanya beliau memperpanjang waktu kunjungannya di kota Rasulullah itu seandainya ada waktu luang.

Pemandangan yang paling mengesankan dan menarik perhatiannya di Madinah Al-Munawarah itu adalah banyaknya halaqah ilmu yang memakmurkan masjid Nabawi. Di sana berkumpul para ulama besar dan tokoh-tokoh tabi’in bagaikan bintang-bintang bercahaya di ufuk langit. Ada halaqah Urwah bin Zubair, ada halaqah Sa’id bin Musayyab, dan ada halaqah Abdullah bin Utbah.



Suatu hari Amirul Mukminin terbangun dari tidur siangnya tiba-tiba, tidak seperti biasa. Lalu dipanggilnya penjaga, “Wahai Maisarah!” Maisarah menjawab, “Saya wahai Amirul Mukminin.” Beliau berkata, “Pergilah ke masjid Nabawi dan undanglah salah satu ulama yang berada di sana untuk memberikan peringatan kepada kita.”

Maisarah bersegera menuju masjid. Dia melihat seluruh sudut-sudut masjid namun tidak melihat kecuali satu halaqah yang dipimpin oleh seorang syaikh yang telah tua. Usianya tampak sudah lebih dari 60 tahun, wajahnya tampak memancarkan kewibawaan seorang ulama. Orang-orang nampak menaruh hormat dan takjub kepadanya.

Maisarah menghampirinya hingga dekat dengan halaqah tersebut lalu menunjukkan jarinya kepada syaikh tersebut. Akan tetapi orang itu tidak menghiraukannya, sehingga akhirnya Maisarah mendekat dan berkata, “Tidakkah Anda melihat bahwa saya menunjuk Anda?”

Sa’id, “Anda menunjuk saya?”

Maisarah, “Benar.”

Sa’id, “Apa keperluan Anda?”

Maisarah, “Amirul Mukminin terbangun dari tidur lalu berkata kepadaku, ‘Pergilah ke masjid Nabawi dan lihatlah kalau-kalau ada seseorang yang bisa menyampaikan hadits untukku, bawalah kemari’.”

Sa’id, “Aku bukanlah orang yang beliau maksud.”

Maisarah, “Tetapi beliau menginginkan seseorang untuk diajak bicara.”

Sa’id, “Barangsiapa menghendaki sesuatu, seharusnya dialah yang datang. Di masjid ini ada ruangan yang luas jika dia menginginkan hal itu. Lagi pula hadit lebih layak untuk didatangi, akan tetapi dia tidak mau mendatangi.”

Utusan itu kembali dan melapor kepada Amriul Mukminin, “Saya tidak menemukan kecuali seorang syaikh tua. Saya menunjuk kepadanya, tapi dia tidak mau berdiri. Saya mendekatinya dan berkata, ‘Amirul mukminin terbangun dari tidur lalu berkata kepadaku, pergilah ke masjid Nabawi dan lihatlah kalau-kalau ada seseorang yang bisa menyampaikan hadits untukku, bawalah kemari.’ Tetapi dia menjawab dengan tenang dan tegasi, ‘Aku bukan yang dia maksud dan masjid ini cukup luas kalau dia menginginkan hadits’.”

Abdul Malik menghela nafas panjang. Dia bangkit lalu masuk ke rumah sambil bergumam, “Pasti dia adalah Sa’id bin Musayyab. Kalau saja engkau tadi tidak menghampiri dan mengajaknya bicara…”

Ketika Abdul Malik telah meninggalkan majlik dan masuk kamar, putranya yang busu bertanya kepada kakaknya, “Siapakah yang orang yang berani menentang amirul mukminin dan menolak untuk menghadap itu, sedangkan dunia tunduk kepadanya dan raja-raja Romawi gentar oleh wibawanya?”

Maka berkatalah saudaranya yang paling besar, “Dia adalah orang  yang putrinya pernah dipinang oleh ayah untuk saudara kita, Al-Walid, tetapi dia menolak menikahkannya.”

Adiknya berkata heran, “Benarkah ia tidak mau  menikahkan putrinya dengan Al-Walid bin Abdul Malik? Apakah dia mendapatkan pasangan yang lebih baik untuk putrinya layak calon pengganti Amirul Mukminin dan khalifah? Atau dia seperti orang-orang yang menghalangi putrinya untuk menikah dan tinggal menganggur di dalam rumah?”

Berkatalah sang kakak, “Sebenarnyalah aku tidak mengetahui berita tentang mereka.” Seorang dari pengasuh mereka, yang berasal dari Madinah berkata, “Sekiranya diizinkan aku akan menceritakan seluruh kisah itu. Gadis itu telah menikah dengan seorang pemuda di kampung saya bernama Abu Wada’ah. Kebetulan dia adalah tetangga dekat dengan kami. Pernikahannya menjadi suatu kisah yang sangat romantis seperti yang dikisahkan Abu Wada’ah sendiri kepada saya.” Orang-orang berkata, “Ceritakanlah kepada kami.”

Diapun berkata, “Abu Wada’ah bercerita kepada saya, ‘Sebagaimana Anda ketahui, aku adalah seorang yang tekun hadir di masjid Nabawi untuk menuntut ilmu. Aku paling sering menhadiri halaqah Sa’id bin Musayyab dan suka mendesak orang-orang dengan siku bila mereka saling berdesak-desakan dalam majelis tersebut. Namun pernah berhari-hari saya tidak menghadiri majelis tersebut. Beliau menduga saya sedang sakit atau ada yang menghalangiku untuk  hadir. Beliau bertanya kepada beberapa orang di sekitarnya  namun tidak pula mendapat berita tentang diriku.

Beberapa hari kemudian aku menghadiri majelis beliau kembali. Beliau segera memberi salam dan bertanya:

Sa’id, “Kemana saja engkau, wahai Abu Wada’ah?”

Aku, “Istriku meninggal sehingga aku sibuk mengurusnya.”

Sa’id, “Kalau saja engkau memberitahu aku wahai Abu Wada’ah, tentulah aku akan takziyah, menghadiri jenazahnya dan membantu segala kesulitanmu.”

Aku, “Jazakallahu khairan, semoga Allah membalas kebaikan Anda.”

Aku bermaskud pulang, namun beliau memintaku untuk menunggu sampai semua orang di majelis itu pulang, lalu beliau berkata:

Sa’id, “Apakah engkau sudah berfikir untuk menikah lagi wahai Abu Wada’ah?”

Aku, “Semoga Allah merahmati Anda, siapa gerangan orang yang mau menikahkan putrinya dengan aku, sedang aku hanyalah seorang pemuda yang lahir dalam keadaan yatim dan hidup dalam keadaan fakir. Harta yang kumiliki tak lebih dari dua atau tiga dirham saja.”

Sa’id, “Aku akan menikahkan engkau dengan putriku.”

Aku, (terkejut dan terheran-heran) “Anda wahai Syaikh? Anda akan menikah putri Anda denganku padahal Anda telah mengetahui keadaanku seperti ini?”

Sa’id, “Ya benar. Bila seseorang datang kepaada kami dan kami suka kepada agama dan akhlaknya, maka akan kami nikahkan. Sedangkan engkau di mata kami termasuk orang yang kami sukai agama dan akhlaknya.”

Lalu beliau menoleh kepada orang yang berdekatan dengan kami berdua, dan beliau memanggilnya. Begitu mereka datrang dan berkumpul di sekeliling kami, beliau bertahmid dan bershalawat,  lalu menikahkan aku dengan putrinya, maharnya uang dua dirham saja.

Aku berdiri dan tak mampu berkata-kata lantaran heran bercampur gembira, lalu aku pun bergegas untuk pulang. Saat itu aku sedang shoum hingga aku lupa akan shaumku. Kukatakan pada diriku sendiri, “Celaka wahai Abu Wada’ah, apa yang telah aku perbuat atas dirimu? Kepada siapa engkau akan meminjam uang  untuk keperluanmu? Kepada siapa engkau akan meminta uang itu?”

Aku sibuk memikirkan hal itu hingga maghrib tiba. Setelah kutunaikan kewajibanku, aku duduk untuk menyantap makanan berbuka berupa roti dan zaitun. Selagi saya mendapatkan satu atau dua suapan, mendadak olehku terdengar ketukan pintu. Aku bertanya dari dalam, “Siapa?” Dia menjawab, “Sa’id.”

Demi Allah, ketika itu terlintas di benakku setiap nama Sa’id yang kukenal kecuali Sa’id bin Musayyab, sebab selama 20 tahun beliau tidak pernah terlihat kecuali di tempat antara rumahnya sampai dengan masjid Nabawi.

Aku membuka pintu, ternyata yang beridiri di depanku adalah Imam Asy-Syaikh Sa’id bin Musayyab. Aku menduga bahwa beliau mungkin menyesal karena tergesa-gesa dalam menikahkan putrinya lalu datang untuk membicarakannya denganku. Oleh sebab itu aku segera berkata:

Aku, “Wahai Abu Muhammad, mengapa Anda tidak menyuruh seseorang untuk memanggilku agar aku menghadap Anda?”

Sa’id, “Bahkan, engkaulah yang lebih layak didatangi.”

Aku, “Silakan masuk!”

Sa’id, “Tidak perlu, karena aku datang untuk suatu keperluan.”

Aku, “Apa keperluan Anda wahai Syaikh? Semoga Allah merahmati Anda.”

Sa’id, “Sesungguhnya putriku sudah menjadi istrimu berdasarkan syari’at Allah sejak tadi pagi. Maka aku tidak ingin membiarkanmu berada di tempatmu sedangkan istrimu di tempat yang lain. Oleh sebab itu kubawa dia sekarang.”

Aku, “Aduh, Anda sudah membawanya kemari?”

Sa’id, “Benar.”

Aku  melihat ternyata istriku berdiri di belakangnya. Syaikh menoleh kepadanya lalu berkata, “Masuklah ke rumah suamimu dengan nama Allah dan berkah-Nya!”

Pada saat istriku hendak melangkah, tersangkut gaunnya sehingga nyaris terjatuh. Mungkin karena dia malu. Sedangkan aku hanya bisa terpaku di depannya dan tidak tahu harus berkata apa. Setelah tersadar, segera aku ambil piring berisi roti dan zaitun, kugeser ke belakang lampu agar dia tidak melihatnya.

Selanjutnya aku naik jendela atas rumahku untuk memanggil para tetangga. Mereka datang dengan kebingungan sambil bertanya, “Ada apa wahai Abu Wada’ah?” Aku berkata, “Hari ini aku dinikahkan oleh Syaikh Sa’id bin Musayyab, sekarang putrinya itu telah dibawa kemari. Kuminta kalian agar menghibur dia sementara aku hendak memanggil ibuku sebab rumahnya jauh dari sini.”

Ada seorang wanita tua diantara mereka berkata, “Sadarkan engkau dengan apa yang engaku ucapkan? Mana mungkin Sa’id bin Musayyab menikahkan putrinya, sedangkan  pinangan Walid bin Abdul Malik putra Amirul Mukminin telah ditolak.”

Beberapa tetanggaku berdatangan dengan rasa penasaran hampir tak percaya, kemudian mereka menyambut dan menghibur istriku itu. Tak lama kemudian ibuku datang. Setelah melihat istriku, dia berkata kepadaku seraya berkata, “Haram wajahku bagimu kalau engkau tidak membiarkan aku memboyongnya sebagai pengantin terhormat.”

Akau katakan, “Terserah ibu.”

Istriku dibawa oleh ibuku. Tiga hari kemudian dia diantarkan kembali kepadaku. Ternyata istriku adalah wanita yang paling cantik di Madinah, paling hafal Kitabullah dan paling mengerti soal-soal hadits Rasulullah, juga paling paham akan hak-hak suami.

Sejak saat itu dia tinggal bersamaku. Selama beberapa hari ayah mapuan keluarganya tidak ada yang datang. Kemudian aku datang lagi ke halaqah Syaikh di masjid. Aku memberi salam kepadanya. Beliau menjawab, lalu diam. Setelah majelis sepi, tinggal kami berdua, beliau bertanya:

Sa’id, “Bagaimana keadaan istrimu, wahai Abu Wada’ah?”

Aku, “Dia dalam keadaan disukai oleh kawan dan dibenci oleh musuh.”

Sa’id, “Alhamdulillah.”

Sesudah kembali ke rumah, kudapati beliau telah mengirim banyak uang untuk membantu kehidupan kami…”

Mendengar kisah itu, putra-putra Abdul Mali berkomentar, “Sungguh mengherankan orang itu.” Orang yang bercerita itu berkata, “Apa yang mengherankan wahai tuan? Dia memang orang yang menjadikan dunia sebagai kendaraan dan perbekalan untuk akhiratnya. Dia membeli untuk diri dan keluarganya, akhirat dengan dunianya. Demi Allah, bukan karena beliau bakhil terhadap putra Amirul Mukminin dan bukannya beliau memandang bahwa Al-Walid tidak sebanding dengan putrinya itu. Hanya saja beliau khawatir putrinya akan terpengaruh oleh fitnah dunia ini.

Beliau pernah ditanya oleh seorang kawannya, “Mengapakah Anda menolak pinangan Amirul Mukminin lalu kau nikahkan putrimu dengan orang awam?” Syaikh yang teguh itu menjawab, “Putriku adalah amanat di leherku, maka aku pilihkan apa yang sesuai untuk kebaikan dan keselamatan dirinya.”

Beliau bertanya, “Apa maksud Anda wahai Syaikh?”

Beliau berkata, “Bagaimana pandangan kalian bila misalnya dia pindah ke istana Bani Umayah lalu bergemilang di antara ranjang dan perabotnya? Para pembantu dan dayang mengelilingi di sisi kanan dan kirinya dan dia mendapati dirinya sebagai istri khalifah. Bagaimana kira-kira keteguhan agamanya nanti?”

Ketika itu datang dari Syam berkomentar, “Tampaknya kawan kalian itu benar-benar lain dari yang lain.” Lalu laki-laki itu berkata, “Sungguh aku mengatakan yang sebenarnya. Beliau suka shaum di siang hari dan shalat di malam  hari. Sudah hampir 40 kali melaksanakan haji dan tak pernah ketinggalan melakukan takbir pertama di masjid Nabawi sejak 40 tahun yang silam. Juga tak pernah melihat punggung orang dalam shalatnya itu, karena selalu mejaga shaf pertama.

Kendati ada peluang bagi beliau untuk memilih istri dari golongan Quraisy, tetapi beliau lebih mengutamakan putri Abu Hurairah r.a. dan memiliki kekayaan mengenai riwayat hadits, yang beliau ingin juga mengambilnya. Sejak kecil beliau telah bernadzar untuk mencari ilmu.

Beliau mendatang rumah istri-istri Rasulullah saw. untuk memperoleh ilmu dan berguru pada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar serta Abdullah bin Abbas. Beliau mendengar hadits dari Utsman, Ali, Suhaib dan para sahabat Nabi saw. yang lain. Beliau berakhlak dengan akhlak mereka dan berperilaku seperti mereka. Beliau selalu mengucapkan suatu kalimat yang menjadi slogannya setiap hari, “Tiada yang lebih menjadikan hambanya berwibawa selain taat kepada Allah SWT dan tiada yang lebih membuat hina seorang hamba dari bermaksiat kepada-Nya.”

Diambil dari buku Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya (Mereka Adalah Para Tabi’in, terj. Abu Umar Abdillah, Pustaka At-Tibyan, 2009).

Saturday, February 18, 2012

Pentingnya Menceritakan Kisah-Kisah Islami Kepada Anak-Anak


Ada kesalahan persepsi di kalangan masyarakat bahwa anak-anak menyukai televisi hanya karena gambar-gambarnya yang bergerak, sehingga kekhawatiran yang muncul hanya sebatas sifat adiktif televisi yang membuat anak-anak seolah-olah tidak ada kegiatan lain selain menonton televisi, bukan kekhawatiran akan dampak buruk dari informasi yang diserapnya.

Usia anak 0 - 5 tahun adalah usia golden-age atau usia emas. Pada masa ini, anak-anak mengembangkan hampir 80% otaknya. Kemampuan otak anak-anak untuk menyerap informasi sangat tinggi. Informasi yang mereka peroleh pada masa ini akan berdampak bagi kehidupannya di kemudian hari. Oleh karena itu, perhatian orang tua mengenai informasi yang diserap pada usia ini sangatlah penting. Anak-anak mendapatkan informasi melalui berbagai macam media, seperti interaksi langsung dengan orang tuanya, benda-benda di sekitarnya, lingkungan tempat bermainnya, buku-buku, dan televisi.

Sayangnya, media informasi yang banyak diminati anak-anak adalah media televisi. Ya, televisi merupakan media informasi yang efektik bagi anak-anak. Ada kesalahan persepsi di kalangan masyarakat bahwa anak-anak menyukai televisi hanya karena gambar-gambarnya yang bergerak, sehingga kekhawatiran yang muncul hanya sebatas sifat adiktif televisi yang membuat anak-anak seolah-olah tidak ada kegiatan lain selain menonton televisi, bukan kekhawatiran akan dampak buruk dari informasi yang diserapnya.



Penelitian menunjukkan, cara anak melihat televisi lebih canggih dari yang kita duga. Daniel Anderson dari University of Massachusetts dan Lizabeth Lorch psikolog dari Armheist College, belakangan--sekitar tahun 1970-an--mulai meneliti hal ini dan menyimpulkan bahwa anak-anak lebih tertarik pada informasi yang didapatkannya daripada unsur-unsur tayangan yang terlihat gemerlap dan berkilat. Dalam sebuah eksperimen, Anderson dan Lorch mempertontonkan episode film anak-anak yang dipotong-potong (disunting) sehingga informasinya menjadi tidak beraturan. Mereka memilih episode yang memang terbukti disenangi anak-anak. Akan tetadpi setelah disunting, episode yang semula sangat digemari anak-anak itu menjadi tidak digemari lagi; anak-anak meninggalkan tayangan tersebut.

Dalam eksperimen lainnya, mereka melakukan percobaan terhadap dua kelompok anak-anak usia lima tahunan. Kelompok pertama berada dalam sebuah ruangan yang diberi banyak mainan, kelompok kedua berada dalam sebuah ruangan tanpa mainan. Dalam dua ruangan tersebut, program televisi anak-anak ditayangkan. Hasilnya? seperti yang kita duga, anak-anak yang diberi mainan hanya menggunakan 47% waktunya untuk menonton televisi, sedangkan anak-anak yang tidak diberi mainan menggunakan 87% waktunya untuk menonton televisi. Tidak mengherankan. [1]

Yang mencengangkan adalah, ketika kedua kelompok tersebut ditanya mengenai isi tayangan, hampir semuanya menjawab dengan porsi yang sama, tidak muncul perbedaan antara kelompok yang diberi mainan dan yang tidak diberi mainan. Mereke menyimpulkan bahwa, "Anak-anak usia lima tahun di ruangan penuh mainan menjalankan permintaan penguji dengan cara yang strategis sekali, yakni membagi perhatian mereka antara bermain dan menonton sedemikian sehingga mereka menonton hanya bagian-bagian yang menurut mereka paling informatif. Strategi ini begitu efektif sehingga anak-anak tersebut tidak harus menonton terus menerus."

Kalau kita cermati hasil penelitian ini, kita akan tersadar betapa besar pengaruh televisi pada anak-anak usia emas. Anak-anak tidak hanya melihat gambar-gambar saja, tapi meresapi informasi yang disampaikan. Informasi ini kemudian membentuk kepribadian yang akan membekas sampai anak menginjak usia dewasa.

Jika tayangan televisi yang ditayangkan berupa fantasi, anak-anak akan mencoba membayangkan dunia ini layaknya di dunia fantasi. Jika tayangan yang ditayangkan berupa Doraemon, anak-anak akan mencoba berimajinasi berada di dunia Doraemon, begitu seterusnya. Dr Muhamad Salah, memperingatkan bahayanya tayangan-tayangan fantasi bagi anak-anak. "Ada banyak cerita yang tidak baik untuk disampaikan kepada anak-anak." kata Dr Muhammad Salah dalam sebuah acara diskusi, "seperti cerita-cerita fiksi atau fiksi ilmiah, juga cerita superhero seperti superman, kura-kura ninja, dan sebagainya." Cerita-cerita tersebut membuat anak-anak berusaha menghubung-hubungkan dunia fantasi--yang tidak rasional--kepada kenyataan yang ada--yang rasional. Bisa dibayangkan jika anak-anak ditanya tentang realita negara Palestina yang dijajah Israel, anak-anak akan berkomentar 'datangkan superman, atau power ranger', bukan berkomentar tentang kepahlawanan Salahuddin Al-Ayubi atau kepemimpinan Umat bin Khattab. Cerita-cerita fiksi membuat nak-anak dilatih untuk berpikir tidak rasional.

Yang lebih membahayakan adalah jika tayangan yang ditayangkan berupa sinetron, gosip artis, dan tayangan kriminal, yang bukan lagi berupa fantasi tapi seakan-akan realita sehari-hari, maka anak-anak akan membayangkan kehidupan sehari-hari mereka akan seperti yang mereka tonton.

Sayangnya, hampir tidak ada acara televisi yang baik untuk anak-anak, entah tayangan fiksi maupun non-fiksi. Kalaupun ada, paling tidak iklannya tidak baik untuk anak-anak. Sangat sulit bagi orang tua memilih tayangan televisi yang baik untuk anak-anak mereka.

Oleh karena itu, kita perlu membiasakan anak-anak mendapatkan informasi denagn media lain selain televisi, yaitu interaksi langsung dengan orang-tua. Hanya dengan cara inilah kita dapat memilih-milih informasi yang tepat untuk anak-anak. Story-telling, atau menceritakan kisah-kisah dengan gaya yang interaktif dan menarik dapat menjadi solusi alternatif yang ampuh sekaligus besar manfaatnya.

Kebiasaan menceritakan kisah-kisah ini harus dimulai sejak dini, sebelum anak-anak lebih tertarik kepada televisi. Kebiasaan ini pula yang akan membuat anak-anak suka membaca. Dr Sigman, seorang penelti dan psikolog dari British Psychological Society mengatakan, "Sangat sulit membuat anak-anak tertarik dengan membaca kecuali dengan membuat mereka tertarik sedini mungkin.", dia menambahkan, "Banyaknya stimulasi dari media televisi dan komputer, menurut para peneliti, berdampak buruk pada anak-anak." [2]



Kisah-kisah terbaik untuk anak-anak adalah kisah Islami, sebagaimana dikatakan Dr Muhamad Salah. Tidak ada alasan bagi kita untuk memilih kisah-kisah selain kisah Islami. Pertama, karena manfaatnya besar, kedua kisah-kisah Islami sedemikian banyaknya hingga tidak akan kehabisan cerita. [3]

Sebut saja kisah-kisah yang ada di Al-QUr'an, kisah Nabi Musa dengan Fir'aun, Nabi Nuh, Nabi Sulaiman dengan ratu Balqis, Nabi Yunus dengan Ikan paus, dan kisah-kisah Nabi lainnya. Kisah ashabul kahfi, kisah Lukman Al-Hakim, kisah keluarga Imran, kisah Khidir, juga kisah Abu Lahab, Samiri, Dzulkarnain dan Ya'juj dan Ma'juj, dan belum lagi kisah-kisah tentang binatang seperti Gajah, burung Hud-Hud, burung Ababil, semut dan Nabi Sulaiman, lebah, sapi betina, dan sebagainya. Dari Al-Quran saja banyak kisah menarik yang dapat diceritakan kepada anak-anak, apalagi ditambahkan kisah-kisah yang berasal dari hadits, seperti kisah tiga orang bani Israil yang diuji dengan penyakit lepra, buta, dan botak, hampir-hampir tak terbatas jumlahnya.

Kisah-kisah tersebut harus diceritakan dengan gaya bahasa anak-anak agar mudah diterima. Lebih baik lagi jika orang tua sudah hafal diluar kepala tentang kisah-kisah tersebut agar tidak perlu membaca buku untuk menceritakan kepada anaknya. Disamping bisa mengimprovisasi dengan gaya bahasa anak-anak, orang tua juga dapat menceritakan kisah-kisah tersebut kapan saja anak-anak membutuhkannya. "Menceritakan kisah-kisah kepada anak-anak bukan seperti memberikan obat yang harus diminum sesuai aturan," kata Dr Muhamad Salah, "Ketika anak-anak bosan, hentikan, ketika anak-anak menginginkannya ceritakan." Selain gaya bahasa, lingkungan juga perlu disesuaikan agar anak-anak terstimuli dengan kisah-kisah tersebut.

Yuk kita mulai membiasakan menceritakan kisah-kisah Islami kepada anak-anak di keluarga kita!

[1] Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference
[2] http://news.bbc.co.uk/2/hi/uk_news/education/1002672.stm
[3] www.youtube.com/watch?v=arkrJt3wAFI



Monday, February 13, 2012

Keutamaan Al-Qur'an dan Ahlul Qur'an


Allah telah memuliakan Ahlul Qur'an baik pembaca, penghafal, ataupun pengamalnya dengan keistimewaan yang banyak sekali, di dunia dan akhirat.

Rasulullah telah memberikan spesifikasi khusus bagi para pembaca Al-Qur'an dalam sabdanya,

"Ahlul Qur'an adalah Ahlullah (yang dekat kepada Allah) dan orang-orang khusus (pilihan)-Nya" (HR An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Ahlul Qur'an adalah orang yang dekat dengan Allah karena demikian agung kedudukan mereka. Betapa tidak, bukankah mereka itu mempelajari seagung-agung dan setinggi-tinggi ilmu serta semulia-mulia kedudukan dalam Islam?

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat mengenai, mana yang lebih utama antara membaca dan menghafal. Diantara mereka ada yang menguatkan bahwa membaca lebih utama dan sebagian lagi ada yang menguatkan bahwa menghafallah yang lebih utama. Masih-maing dari kedua pihak tersebut mengemukakan alasan-alasan bagi pendapat mereka dan kondisi-kondisi tertentu dalam menentukan mana yang lebih utama tersebut.

Para shahabat, demikian antusias membaca Al-Qur'an dan menghafalnya. Sementara itu, Rasulullah juga membanding-bandingkan keutamaan masing-masing para shahabat dalam membaca Al-Qur'an.

Sebagaimana hadits yang shahih dari Abi Mas'ud Al-Anshari Al-Badri, yang meriwayatkan dari Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam,

"Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling baik bacaannya terhadap Kitabullah diantara mereka." (HR Muslim)

Dan dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Nabi shalallahu'alaihi wasallam pernah mengumpulkan antara dua orang laki-laki yang gugur sebagai syuhada Uhud, kemudian beliau berkata,

"Siapa diantara mereka berdua yang lebih banyak hafalan Al-Qur'annya?" Lalu, bila telah ditunjukkan kepada beliau salah seorang diantara keduanya, maka beliau mendahulukannya untuk dikuburkan di Lahd. (HR Bukhari)

Demikian pula, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam, telah mengawinkan seorang wanita dengan salah seorang dari para shahabatnya dan menjadikan maharnya adalah Al-Qur'an yang dihafalnya.

Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam juga menyerahkan panji jihad kepada orang yang paling banyak ahafalannya di kalangan para shahabatnya.

Dari Ibnu Umar, yang meriwayatkan dari Nabi shalallahu'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda,

"Tidak berlaku iri kecuali terhadap dua orang: seorang yang dianugerahi Allah Al-Qur'an lantas dia mengamalkannya sepanjang malam dan sepanjang siang; dan seorang yang dianugerahi Allah harta lantas dia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang." (HR Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan didalam khabar (hadits) bahwa bilangan tangga-tangga surga itu terdiri dari
bilangan-bilangan ayat-ayat Al-Qur'an, lalu dikatakan kepada pembacanya pada hari kiamat, "Bacalah, lalu naiklah." Jika dia hafal setengah Al-Qur'an, maka dikatakan kepadanya, "Andaikata engkau masih memiliki tambahan hafalan lain, niscaya kami akan menambahkan bagimu pula (tingkatan tangganya-penj.)" (Lihat Tanbih Al-Ghafilin, Juz II, h.459)

Khabar ini sesuai sekali dengan hadits yang berasal dari nabi shalallahu'alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda,

"Dikatakan kepada pemilik Al-Qur'an (penghafalnya): 'Bacalah, lalu naiklah, lalu bacalah lagi (secara tartil) sebagaimana dulu kamu membaca (secara tartil) di dunia, sebab kedudukanmu adalah berada pada akhir ayat yang kamu baca.'" (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi, di berkata: "Hasan Shahih")

Pahala yang diraih adalah berdasarkan tingkat kesulitannya sebab manusia berada di dalam kemampuan memperbagusi dan menekuni. Sebagaimana terdapat dalam hadits dari Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam, beliau bersabda,

"Orang yang membaca Al-Qur'an sementara dia mahir, maka dia bersama para malaikat para penulis, yang mulia lagi berbakti, dan orang yang membaca Al-Qur'an dan terbata-bata mambacanya sementara hal itu sulit baginya, maka dia mendapatkan dua pahala." (Muttafaq'alaih)

Sedangkan mengenai majlis-majlis Al-Qur'an dan keutamaannya, maka terdapat hadits yang diriwayatkan dari Nabi shalallahu'alaihi wasallam beliau bersabda,

"Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah-rumah Allah dan saling mengkajinya di antara mereka, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat menyelimuti mereka, dan para malaikat mengelilingi mereka, serta Allah menyebut mereka kepada malaikat yang berada di sisi-Nya." (HR Muslim dan Abu Dawud)

Sebaik-baik manusia adalah orang yang mengaktifkan dirinya dengan Kitabullah dan manjauhi hal-hal yang dapat melalaikannya dari mengingat akhirat. Bilamana dia telah mencapai kepada tingkatan yang diharapkan, maka hendaknya dia mengamalkannya dan memberikan hal yang bermanfaat kepada orang lain.

Hal ini sebagaimana hadits dari Utsman bin Affan, bahwasanya dia berkata, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda,

"Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengamalkannya." (HR Bukhari).

Nafi' bin Harits mengangkat Abdurrahman bin Abza Al-Khuzai sebagai wakil atas pemerintahan di Makkah tatkala dia ingin pergi menemui Umar bin Khattab ke kawasan Usfan. Lalu Umar berkata kepadanya, "Siapa yang engkau angkat sebagai pengganti sementarmu terhadap penduduk Al-Wady (Makkah)?"

Dia menjawab, "Ibnu Abza."
Dia bertanya lagi, "Siapa Ibnu Abza itu?"
Dia menjawab, "Dia seorang alim ilmu faraidh, dan qari Kitabullah."
Dia berkata, "Benar, bukankah Anbi kalian shalallahu'alaihi wasallam telah bersabda,

'Sesungguhnya Allah telah mengangkat banyak kaum melalui Al-Qur'an dan juga merendahkan yang lain melaluinya pula.' "

Demikian juga diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwasanya dia berkata, "Ibnu Abza adalah orang yang telah diangkat (derajatnya) oleh Allah dengan Al-Qur'an" (Lihat Syiar A'lam An-Nubala, Juz I, h.365).

Dari Buku Mu'awwiqat Tilawah wa Hifzh Kitabullah, Haya Ar-Rasyid.


Sunday, August 8, 2010

Sepenggal Duka di Langit Cinta; A Book Review

Sepenggal Duka di Langit CintaSepenggal Duka di Langit Cinta by Abu Umar Basyier

My rating: 5 of 5 stars


"Kenapa wajah Ummi dan Abi selalu terlihat berseri-seri?", tanya Farhan suatu hari.

"Wajah yang selalu tersentuh wudhu", ungkap Hamidah lembut.

"Atsar (bekas sentuhan) air wudhu, akan menjadi tanda bagi kaum beriman di Hari Akhir nanti," tambah Fahrul.

"Apa tanda itu bisa terlihat di dunia, Abi?" tanya Farhan cerdik.

"Bisa. Suatu saat, ada seorang ahli hadits di masa para ulama As-Salaf yang sedang menyampaikan sebuah hadits. Tiba-tiba masuklah seorang pria muda ke dalam majlisnya. Kontan ia berkata,

'Barangsiapa yang di malam hari melakukan shalat, maka di siang hari wajahnya akan berseri-seri.'"

Potongan percakapan diatas adalah bagian paling saya sukai dalam buku ini.

Dialog diatas dituliskan dua kali. Pertama, ketika dialog tersebut benar-benar terjadi. Kedua ketika Fahrul (Abi) setelah sekian lama tidak bertemu dengan Farhan (anaknya), lalu pertama kali kembali melihat anaknya tercintanya di sebuah masjid pesantren waktu pagi-pagi setelah shubuh, sesaat kemudian dia teringat akan dialong dengan anaknya bersama istri, kala keluarga mereka tengah dikaruniai kebahagiaan bersama. Fahrul kembali ke jalan hidayah setelah sempat dirundung kegelapan maksiyat setelah berjumpa dengan kawan lamanya.

Two thumbs up! Buku yang dituis berdasar kisah nyata sarat hikmah ini membuat saya menitikkan air mata dan kembali mentafakuri hikmah-hikmah kehidupan ini.

View all my reviews >>
Saturday, November 14, 2009

Patriotisme Yang Dibenturkan

Belum lama ini saya mendengar berita dari NPR (npr.org) yang kebanyakan mengulas peristiwa insiden penembakan di markas tentara AS - Fort Hood, Texas - oleh seorang Major bernama Nidal M Hasan. Huff.. Saya hanya bisa menghela nafas. Warga Muslim AS kontan mengeluarkan sikap kecaman atas tindakan tersebut, agar tidak berbuntut pada hal yang tidak diinginkan. Yaitu munculnya sikap anti-Muslim, disaat AS, dengan presiden barunya, Obama, sedang berupaya memperbaiki hubungan dengan Muslim dunia.

''Insiden ini sangat mengerikan," kata Imam Elsayyed Shaker, imam besar Masjid Dar Al-Hijrah di Falls Church, Virginia. Belasungkawa juga diucapkan Iqbal Khaled, wakil direktur AAMS Islamic Center di Virginia. ''Kami merasa sangat sedih,'' ucapnya, seperti yang dilansir oleh Republika Online.

Bagaimanapun juga, tindakan ini tidak dibenarkan. Peristiwa ini hanya akan berimbas pada munculnya sikap atipati rakyat AS terhadap komunitas warga Muslim disana. Spekulasi pun bermunculan seakan ingin memicu wacana menyudutkan warga Muslim disana, yang notabene satu agama dengan pelaku insiden penembakan Fort Hood tersebut.

Patriotisme yang dibenturkan

Saya sangat sulit membayangkan jika suatu ketika, harus berhadapan langsung dengan saudara-saudara kita sesama Muslim di medan pertempuran, hanya karena tuntutan pekerjaan. "Contradiction of being a Muslim and serving in an army that is fighting against his own people."

Mungkin ketika seseorang memilih jalur karirinya sebagai tentara, awalnya punya motivasi tinggi untuk membela tanah-airnya, membela negerinya, menjadi seorang patriot, pahlawan, atau
someone who became a hero to his country, sah-sah saja. Tapi siapa sangka patriotisme itu suatu saat akan diuji, siapa yang lebih engkau pilih, patriotisme kah? Atau idealisme?

Ah, saya berharap saudara-saudara kita yang berada di posisi itu diberi kekuatan untuk tetap menjunjung tinggi idealisme mereka sebagai seorang Muslim. Ingatlah saya akan cerita teman-teman tentang situasi kerja di tempat mereka bekerja. Kebetulan mereka bekerja di perusahaan asing, perusahaan non-Indonesia. Kadang teman-teman saya harus merelakan idealisme mereka sebagai seorang Muslim hanya karena tuntutan pekerjaan. Bagi mereka itu pilihan yang sulit.

Dan itu
tak hanya berlaku di pekerjaan loh. Di organisasi pun ada kalanya begitu. Kadang kita diuji untuk memilih antara mengikuti peraturan organisasi atau tetap dalam idealisme. Misalnya, kalau dalam organisasi, ketika ada acara malam yang mengharuskan ikhtilat, campur-baur-nya laki-laki dan perempuan tanpa mengindahkan kaidah syar'i, mana yang engkau pilih?

Hidup memang sering berbenturan. Kita harus akui itu. Seperti yang saya bilang di awal, saya sendiri tak bisa membayangkan berada di posisi Major Nidal M Hasan, ketika harus berangkat ke Iraq, berposisi sebagai musuh warga Muslim Iraq disana. Saya hanya bisa bersyukur bahwa Allah menjauhkan diri saya dari benturan-benturan idealisme semacam itu. Saya hanya bisa bersyukur, dan mudah-mudahan terus bersyukur, untuk masih berada di tubuh yang sama, merasakan pahit dan sedih yang sama, "Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam." (HR. Muslim)

Terakhir saya tuliskan,
Ketika "patriotisme itu dibenturkan",
Mari do'akan semoga Allah memberi kekuatan. (ya2n)


Tempat Kelelahan

Anak kecil ingin jadi besar dan tua,
Sedangkan orang tua ingin muda kembali,

Orang yang tidak punya pekerjaan mencari-cari kerja,
Sedang mereka yang punya kerja merasa jenuh,

Para pemilik harta merasa kepayahan,
Orang miskin juga merasa kesusahan,

Seseorang merasa susah karena kalah,
Tiada pula yang menang merasa bahagia,

Apakah mereka bingung dengan takdir,
Ataukah mereka yang membingungkan takdir?

Abbas Mahmud Al-Aqqad dalam sya'ir-nya.



Menyikapi Musibah

Musibah atau bencana adalah takdir yang telah ditetapkan Allah pada makhluk-Nya. Takdir itu adalah hikmah dan ketetapan Allah yang tidak bisa dihindari. Allah subhanahu wata'ala berfirman, "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid : 22)

Allah menjelaskan hal itu supaya manusia tidak berputus asa dan terus berharap pada-Nya, dan supaya manusia tidak terlalu bergembira dan berbesar hati atas apa yang diraihnya, "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Al-Hadid : 23)

Manusia berbeda-beda sikap dalam menghadapi musibah ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menyebutkan ada empat tingkatan sikap seorang menusia ketika menghadapi musibah. Sebagai seorang yang mengaku beriman kepada Allah, tidak selayaknya kita menyikapi musibah dengan sikap ke-empat. Apakah itu? Mari kita simak ulasan berikut.


Bersabar.

Sikap pertama adalah bersabar. Sebagaimana digambarkan oleh seorang penyair dalam syairnya,

Sabar itu memang seperti namanya
Pahit kalau baru dirasa
Tapi buahnya yang ditunggu-tunggu
Jauh lebih manis daripada madu

Sikap sabar ini berarti masih merasakan sakit dan pahit yang diakibatkan oleh musibah, tetapi berusaha untuk tetap tabah dalam menghadapinya. Masih ada perasaan tidak senang atas ditimpakannya musibah, tetapi menjaganya untuk tidak marah. Tingkatan ini adalah tingatan terandah bagi seorang Muslim. Allah ta'ala berfirman, “Bersabarlah kalian. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al Alnfaal : 46).

Ridha.

Sikap kedua adalah ridha. Berbeda dengan sabar, ridha adalah sikap dimana seseorang sudah tidak merasakan pahit, sakit, sedih, ataupun hal-hal lain yang untuk orang lain adalah hal yang tidak mengenakkan. Ridha adalah, ada atau tidaknya musibah itu sama saja, tidak ada beban. Tingkatan ini lebih tinggi dari bersabar.

Bersyukur.

Sikap ketiga adalah bersyukur. Dan ini adalah tingkatan tertinggi seseorang dalam menyikapi musibah. Dengan ditimpakannya musibah, justru dia bersyukur karena menyadari bahwa hakikat musibah adalah bahwa Allah ingin mengingatkan hamba-Nya atas kesalahan-kesalahan dan dosa yang dia lakukan, bahwa musibah adalah salah satu jalan agar dosa-dosanya terhapuskan, bahwa musibah mengingatkan manusia untuk introspeksi diri dan berusaha untuk memperbaiki diri.

Tingkatan tertinggi ini adalah, dengan adanya musibah justru membawanya kepada yang lebih baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada sebuah musibah pun yang menimpa seorang muslim, kecuali pasti Allah hapuskan (dosanya) dengan sebab musibah itu, bahkan sekalipun duri yang menusuknya.” (HR. Bukhari - Muslim).

Marah.

Sikap keempat adalah marah, dan ini adalah sikap yang tidak selayaknya ada pada setiap Muslim. Marah dibagi lagi menjadi tiga. Pertama, marahnya dismpan dalam hati, yaitu dengan nge-grundel, mengeluh, dan semacamnya. Kedua, marahnya diungkapkan, yaitu dengan ucapan-ucapan kecewa, cercaan, dan semacamnya. Ketiga, marahnya dilampiaskan dengan perbuatan, yaitu dengan menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian, dan semacamnya.

Kesemua hal itu adalah tidak boleh dilakukan dan tidak mungkin dilakukan oleh orang beriman. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di pinggiran. Apabila dia tertimpa kebaikan dia pun merasa tenang. Dan apabila dia tertimpa ujian maka dia pun berbalik ke belakang, hingga rugilah dia dunia dan akhirat.” (QS. Al Hajj: 11).

Ada pertanyaan: Bagaimana kalau terkadang masih muncul perasaan marah? (na'udzubillah) Jawabnya: itu pertanda bahwa imannya belum sempurna. Jadi, yuk, kita perbaiki iman, dan jangan lupa minta pertolongan kepada Allah agar dimudahkan jalannya. (ya2n)

* sepenggal oleh-oleh dari kajian rutin Sabtu sore di Masjid Al-Muhajirin Sadang Serang