Wednesday, December 17, 2008

Hangat

Hari ini aku pulang cepat. Selain ingin menyelesaikan membaca Maryamah Karpov yang rencananya mau dipinjem temen, juga karena badan mulai terasa capek, ngelu. Akhir-akhir ini, kerjaan sudah mulai peak. Biasanya pekerjaan mulai peak ketika mendekati deadline, dan kali ini bukan sekedar deadline, tapi very-hard deadline : chip submission*.

Pulang kerja naik motor, aku mampir ke Yomart, confinient store dekat rumah. Jarak kontrakanku dengan tempat kerja memeang tidak terlalu jauh, sekitar tiga kali panjang lapangan bola, tapi dengan kontur jalan yang agak-sedikit naik turun.

Di Yomart kubeli beberapa snack, keripik singkong, kacang Sukro, Lemon Water, yang ada tulisan katakana-nya –remon(g) wateru, dan beberapa bungkus Energen. Berharap bisa menikmatinya sambil membaca buku setibanya dirumah.

Ngomong-ngomong tentang Lemon Water, jadi mengingatkanku akan minuman dingin yang dijual di selling machine di pinggir-pinggir jalan di Fukuoka. Tinggal masukkan uang, pencet minuman yang diinginkan, keluar botol minuman yang masih dingin, atau panas kalau mau. Tinggal pilih. Kuingat rasanya mirip sekali dengan Lemon Water ini. Pikiranku melayang-layang, mengingat kembali masa-masa indah itu. Ah, itu sebabnya, aku suka beli Lemon Water. Bukan kenapa-napa, karena alasan emotional saja.

“Semuanya 15.125 rupiah, Pak.” kata mbak tellernya. Kuambil uang pecahan 50 ribuan. Teller mulai memencet-mencet tuts keyboard, lalu keluar selembar struk. Tertulis “kembali 34.875 rupiah”. Mbak teller mengambil kembalian dari laci disusun-susun berdasarkan jenis uang. Dari receh seratusan sampai pecahan dua puluh ribuan. Aku hanya dapat kembalian 34.800 rupiah, seperti biasa. Kebiasaan yang tidak biasa, setidaknya untuk dua negara yang pernah kukunjungi, Jepang dan Singapore.



Teringat kata-kata Pak Eko dulu waktu melihat aku mengomentari uang recehan Yen yang pecahan terkecilnya adalah 1 Yen, “Uang 1 Yen itu berharga bagi orang sini.”, katanya, “Kalau orang beli sesuatu lalu kembaliannya kurang 1 Yen saja, bisa marah-marah mereka.” 1 Yen waktu itu setara dengan 80 rupiah. Begitu pula Singapore, tidak pernah kulihat uang kembalian yang diberikan lebih sedikit dari yang tertera pada struk.

Mafia, kupikir. Kalau setiap hari, pada seratus yang orang membeli di confinient store –yang tergolong kecil itu-- uang kembalian 75 rupiah tidak pernah dikembalikan, maka ada 7500 rupiah kelebihan tiap harinya. Jumlah yang tidak cukup untuk menyebutnya sebagai ketidakadilan. Mafia.

Aku berfikir kenapa tidak dibuat bulat saja harganya, jadi 15.200 rupiah, toh kembaliannya tetap sama. Aku tidak mengerti kecuali dilihat dari teori pajak: “kalau dijual 15.200 ya pajak penjualannya akan lebih besar dari jika dijual 15.125 rupiah”. Eh, bukankah produsen menjual ke confinient store dalam jumlah yang besar. Yang lebih untung justru Yomart dan kawan-kawan.

Perutku mulai mual. Sudah saatnya meninggalkan Yomart beserta struk-struk-nya yang absurd. Aku terhuyung-huyung memasuki rumah yang kelihatan ramai, kalau tidak mau dibilang kacau. Amboi, bau apa ini? Anak-anak kontrakan sedang masak-masak, nih? Rupanya pempek Palembang yang tadi pagi dikirim teman mas Yarka. Kutinggalkan ribut-ribut itu, langsung masuk kamar.

Hari-hari kututup dengan Lemon Water, struk-struk yang absurd, dan bau pempek dari teman mas Yarka. Kususun meja bacaku yang kubeli dari pasar Punclut beberapa waktu lalu, dari seorang bapak paruh baya. Lumayan, kualitasnya tidak kalah dari meja khas Ikea. Tak lupa kuhidupkan lampu baca favoritku. Cover Maryamah Karpov yang mellow membuat hujan rintik-rintik di luar terasa semakin romantis, plus dua butir coklat Van Hauten-nya mas Dibya yang dibeli dari Singapore. Ah, kawan. Hangat.

*)memasukkan desain ke chip foundry untuk dicetak dalam wafer semikonduktor jadi chip.
*)gambar confinient store : kiri - Singapore, kanan - Fukuoka


Hacking People

Pernah baca novel Digital Fortress? Buku ini ditulis oleh satu pengarang sama yang pernah menulis novel (ilmiah) The Da Vinci Code. Saya sendiri belum baca juga (nantilah, hehe, yang nulis ga valid nih :p).

Nah, novel ini bercerita tentang teknik enkripsi, atau penyandian. Teknik enkripsi sering digunakan untuk melindungi pengiriman data, terutama data digital, agar tidak disadap orang. Seperti yang sedang ngetren sekarang: penyadapan telpon dan SMS oleh KPK, atau bahkan recovery data oleh Roy Suryo atas kasus kekerasan seorang artis. Contoh paling enak adalah penyadapan informasi militer antar pasukan saat perang Dunia ke-2.

Bagaimana cara enkripsi? Caranya adalah dengan mengubah data tersebut kedalam data yang unreadable, tidak bisa dibaca, kecuali oleh yang punya kunci untuk membuka enkripsinya (dekripsi). Enksripsi ini, jadi tidak ada gunanya jika tidak dilakukan pada last-miles, penerima data terakhir. Mengapa? Karena walaupun sudah dienkripsi didepan, dibelakan masih bisa disadap.

Contohnya, chip wireless menggunakan RSA chiper sebagai enkripsi data yang dia terima dari network untuk dikirim lewat udara. OK, diudara tidak bisa disadap. Tapi data kemudian dikirim lewat jaringan internet. Data unencrypted tentunya. Walhasil, orang dengan mudah menyadapnya. Hohoh.

Enkripsi yang paling bagus adalah di last-mile application-nya. Misalnya diletakkan di aplikasi thunderbird. Jadi data masih tidak bisa disadap sebelum sampai ke thuderbird.

Nah, tapi, masih ada satu celah lagi untuk bisa menyadap data tersebut. Data disadap di the very-last-miles nya, ehehehe. Apa itu? Bagaimana bisa terjadi?

Jawabnya adalah hacking people. Sehebat-hebatnya proteksi data di Pentagon, misalnya, kalo ada oknum yang membocorkannya, tetap saja bocor. Teknik sosial mengalahkan teknologi tinggi. Hacking people, membajak data melalui orang, pakai teknik-teknik (baca: ilmu sosial) tertentu. Ehehehe, tul kan? :p


Seri Kebahagiaan: Cinta di Balik Pintu Rumah

Setiap pulang kerja, dalam kondisi badan lelah, mereka yang bekerja di Jakarta masih harus berhadapan dengan kemacetan yang luar biasa. Bukan lagi hitungan menit, selama berjam-jam para pekerja itu berada di dalam mobil, di atas motor, bahkan lebih banyak lagi yang berhimpitan dalam angkutan umum bercampur dengan peluh dan aroma tidak sedap semua orang.

Padahal pada saat pulang kerja, yang ada hanyalah energi sisa setelah dipagi hari kena macet, lalu bekerja 8 jam dengan beban kerja yang tidak ringan. Bayangkan, bagaimana kondisi fisik dan psikis seorang pekerja ibukota saat sampai di rumah.

Saya juga merasakan itu, namun semua tantangan itu saya anggap seperti sebuah pengkondisian untuk mendapatkan sebuah kenyamanan. Karena setiap kali sampai dirumah, senyum manis nan tulus istri tercinta senantiasa menyambut penuh dengan cinta, seakan memupus semua kepenatan yang tadi dirasakan.

Setiap kali jarak semakin dekat kerumah, kepenatan yang tadi memuncak, reda secara perlahan berganti dengan harapan sebuah sambutan hangat namun menyejukan hati. Wajah saya yang cemberut sisa bergelut dengan kemacetan dan berbagai ketidaknyamanan hari itu, juga perlahan netral dan kemudian berubah menjadi senyuman harap seiring semakin dekat jarak bertemu wajah berseri sang istri.

Sesampainya dirumah, menjelang mengetuk pintu, kepenatan itu seperti tinggal sisa-sisa saja. Hati saya terasa begitu nyaman yang langsung direspon tubuh dengan efek rasa rileks. Kuketuk pintu rumah seraya memberi salam, tak lama terdengar jawaban salam yang begitu halus menenangkan jiwa, ya... itu suara istriku, wajahnya menyembul dibalik pintu menyambutku dengan senyum manis dan binar matanya yang penuh kerinduan, kerinduan pada diriku. Dia mencium tanganku dan aku kecup keningnya dengan penuh rasa cinta. Subhanallah... inilah cinta, inilah taman syurga yang ada dunia. Rasanya.. istriku adalah bidadari paling cantik didunia.

Tak bisa saya bayangkan bagaimana rasanya seseorang yang memiliki pengalaman yang bertolak belakang dengan saya. Dalam kondisi penat pulang bekerja, tak ada salam diucapkan dan tak ada salam sebagai sambutan. Apalagi disambut dengan berbagai tuntutan yang semakin membebani pundak dan psikis. Penat belum hilang, isi kepala semakin penuh. Naudzu billahi min dzalik....

Ketika saya SMP dulu, saya pernah melihat seorang bapak yang baru pulang kerja berdiri didepan pintu rumahnya. Dia diam termangu menundukan kepala seraya menyenderkannya dipintu itu. Dia tampak kelelahan, namun sang istri tak membukakan pintu untuknya. Dari dalam terdengar suara keras,

“Tadi bapak janji apa sama saya. Katanya pulang jam 7 malam, ini udah jam 9 baru sampe?!”

Lelaki itu tak menjawab, ia hanya diam dan masih menyenderkan kepalanya yang tertunduk itu dipintu. Tak lama kemudian ia ngeloyor pergi ke sebuah warung kopi didepan jalan, menghabiskan berbatang-batang rokok sambil menyeruput secangkir kopi. Entah malam itu dia bisa masuk kerumahnya atau tidak, yang jelas keesokan harinya dia berangkat kerja seperti biasa, namun sepertinya dengan menggunakan baju dinas yang kemarin dipakainya.

Wallahu a’lam......

*Untuk yang sedang belajar mensyukuri yang ada, yang sedang belajar menerima istri/suami apa adanya, diambil dari warnaislam.com


Monday, December 15, 2008

Kontemplasi

Disclaimer: bukan narsis, hehe.
28 Nov 2008 @ Gerbang Ganesha
Sejenak refreshing setelah penat seminggu penuh berkutat pada hobby-ku: desain chip :) Sambil merenungi kembali perjalanan yang sudah dilalui .. ya Allah, mudahkanlah segala urusanku ..

Man behind crisis

Pernahkah Anda berpikir bahwa praktisi (engineer) dan ilmuwan (scientist) berperan besar dalam krisis dunia? Bukankan tujuan ilmuwan menemukan teori dan praktisi menerapkannya adalah untuk kemajuan dan kesejahteraan umat manusia?

Ada anekdot berkata, "Kalau politisi yang penting benar, kalau ilmuwan yang penting jujur". Artinya, kalau politisi menyelesaikan masalah dengan segala cara, tidak jujur sekalipun, asal selsesai dan dianggap benar, ilmuwan beda lagi, berusaha untuk menyelesaikannya dengan cara ilmiah, walaupun dirinya akan dianggap bersalah.

Teorinya begitu, nyatanya tidak. Karena ilmuwan juga manusia yang punya tendensi dan kepentingan. Seperti apa yang dilakukan para ekonom dunia, kalau nggak mau disebut mafia dunia. Menciptakan alat mengerikan yang dapat memberikan keputusan ekonomi dengan memprediksi keuntungan dan kerugian. Teori dan perhitungan matematis dibuat oleh scientist seperti matematikawan, implementasi dibuat oleh engineer elektronika dengan membuat super computer. Berikut artikelnya.

http://www.nytimes.com/2008/10/12/opinion/12dooling.html?_r=2&em=&oref=slogin&pagewanted=all&oref=slogin

“BEWARE of geeks bearing formulas.” So saith Warren Buffett, the Wizard of Omaha. Words to bear in mind as we bail out banks and buy up mortgages and tweak interest rates and nothing, nothing seems to make any difference on Wall Street or Main Street. Years ago, Mr. Buffett called derivatives “weapons of financial mass destruction” — an apt metaphor considering that the Manhattan Project’s math and physics geeks bearing formulas brought us the original weapon of mass destruction, at Trinity in New Mexico on July 16, 1945.

Saturday, December 6, 2008

Ganti Template

Yeaahhhh...!! Akhirnya ganti template. Setelah sekian lama pake dafault template-nya blogger. Saya putuskan pake template baru dari qwilm . Nggak terlalu bagus sih, cuma saya suka gaya pengaturannya. Artikel disebelah kiri sebagai main section, lalu dua sidebar di kanan untuk menaruh widget.

Saya sendiri sebenarnya nggak ahli sama sekali code HTML (males ngoprek). Tapi demi kenyamanan dan keindahan blog ini, kucoba-coba ngedit HTML nya. Pertama main sectionnya, backgroud color kurang cocok, font nya tidak kusuka. Jadi kuedit bagian ini.

Sebelum diedit:
/**********************************************************************************/
body {
background-color: #DDE5D9;
font: 11px "Lucida Sans Unicode", "Lucida Sans", verdana, arial, helvetica;
color: #888;
margin:0;
padding:0;
}

Setelah diedit:
/**********************************************************************************/
body {
background-color: #DDE5D9;
//background-color: #CCD3C8;
//font: 12px "Lucida Sans Unicode", "Lucida Sans", verdana, arial, helvetica;
font: 11px x-small "Trebuchet MS", Trebuchet MS, Arial, Trebuchet, Verdana, Sans-serif;
font-size/* */:/**/small;
font-size: /**/small;
text-align: center;
color: #223;
margin:0;
padding:0;
}

Hohohoho, amatiran banget! Oiya, saya coba-coba ubah warna (tapi ga ketemu yang cocok, huehhe dasar ga punya seni :p) pake generator tool dari sini http://www.drpeterjones.com/colorcalc/, silakan coba main-main warna. Yosh, udah capek, segini dulu aja editing template-nya, maaf saudara-saudara masih karacau baralau.


Menyemai Cinta di Negeri Sakura: Ibu Rumah Tangga

Untuk rencana hari ini, dalam buku agenda tertulis: membuat purchase order, meeting supplier, incoming inspection. Dan beberapa jadwal lainnya. Bukan, saya bukan karyawati kantoran. Saya hanya seorang istri dengan berprofesi ibu rumah tangga. Saya ibaratkan membuat daftar belanja kebutuhan sehari-hari dengan membuat purchase order, acara pergi ke pasar, supermarket, ataupun toserba saya istilahkan dengan meeting supplier, sedangkan incoming inspection adalah istilah untuk rapi-rapi rumah. Semua saya lakukan dengan tujuan agar lebih semangat dan menambah variasi dalam menjalani pekerjaan rumah.

Ibu rumah tangga adalah profesi yang saya geluti semenjak berhenti kerja dari sebuah perusahaan. Saya menyebutnya profesi karena memang pekerjaan rumah tangga membutuhkan profesionalisme berupa keahlian, pengetahuan, dan ketrampilan. Sama dengan pekerjaan kantor lainnya. Jika di perusahaan saya hanya kebagian tugas mengurusi satu bagian yaitu general affair saja, ternyata di rumah tugas saya tidak hanya mentok di satu bagian. Di sini saya wajib berperan multiguna sebagai direktur, manager, sekretaris sekaligus pekerja, yang tidak hanya bisa memahami, tapi juga harus bisa menguasai semua bagian. Yang semuanya nanti harus dilaporkan kepada presiden direktur yaitu suami juga kepada komisaris tertinggi yaitu Allah subhanahu wata'ala.

Pertama kali berhenti bekerja dan menjalani pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, sepertinya ada perasaan tidak betah dan malu untuk mengakui. Mengingat selama ini dalam benak saya telah terpatri pikiran bahwa menjadi wanita karir lebih baik dibandingkan ibu rumah tangga. Ternyata, setelah benar-benar terjun fulltime menjalani pekerjaan rumah tangga, pikiran saya berubah total. Pekerjaan yang semula saya anggap remeh ini ternyata tidak sesederhana seperti dalam bayangan saat menjalaninya.

Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan perangkat kasar berupa tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya yang diperlukan untuk mencuci, menyeterika, berbenah rumah. Tetapi dibutuhkan pula perangkat lunak berupa keahlian sang otak dalam mengatur keuangan, mengolah makanan, meredam emosi yang ada serta beberapa perangkat lunak lainnya yang berhubungan dengan naluri keibuan berupa kelembutan, kesabaran untuk mengayomi rumah tangga.

Terkadang ibu rumah tangga pun harus siap menjadi bodyguard yang dapat mendeteksi keadaan rumah tangga agar adem, ayem, tentrem. Ditambah dengan waktu kerja yang harus siap sedia selama 24 jam, seorang ibu rumah tangga memerlukan ketahanan jiwa dan fisik yang kuat. Jika dalam perusahaan saya bisa mengambil cuti untuk beristirahat, tetapi tidak begitu dalam profesi ibu rumah tangga. Profesi ini merupakan komitmen saya. Tidak bisa begitu saja ditinggalkan dengan alasan cuti, mengundurkan diri atau meminta pensiun dini karena capek ataupun tidak cocok dengan pekerjaan. Disinilah karir saya ditempa. Saya adalah fasilitator bagi berjalannya manajemen rumah tangga. Semua harus terus dijalani dengan ikhlas dan ridha untuk mendapat 'gaji' berupa pahala tak terhingga dari Allah subhanahu wata'ala. Juga 'bonus' berupa syurga jika patuh kepada suami. Insya Allah.

Menjadi ibu rumah tangga pun ternyata tidak menghambat potensi saya. Justru dengan memilih profesi ini, saya memiliki waktu yang lebih fleksibel dalam mengembangkan potensi untuk meraih prestasi. Diantaranya, saya dapat lulus Nihonggo Nouryoku Shiken (tes kemampuan bahasa Jepang) level satu setelah berusaha keras belajar diantara waktu luang yang ada, juga dapat mengembangkan hobi menulis. Siapa yang menyangka jika setelah menjadi ibu rumah tangga, saya justru diamanahi menjadi ketua di salah satu forum kepenulisan.

Saya bercermin dari Ummahatul Mukminin diantaranya Siti Khadijah radhiallahu 'anha, seorang ibu rumah tangga yang dapat berperan besar terhadap kesuksesan sang suami, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Meski tak menonjolkan diri, tetapi daya dukungnya begitu kuat. Begitu pula dengan putri tercinta Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yaitu Fathimah radhiallahu 'anha, yang tangannya selalu membekas karena sering menumbuk, pundaknya pun membekas karena sering menjinjing air dengan kendi, bajunya selalu berdebu karena sering menyapu, bahkan tampak kotor karena sering dipakai untuk memasak.

Hingga Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Fathimah untuk menghiburnya, "Yaa Fathimah, perempuan mana yang berkeringat ketika dia menggiling gandum untuk suaminya, maka Allah menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka, maka Allah akan mencatakan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan seribu orang yang lapar dan memberi pakaian seribu orang yang bertelanjang. Perempuan mana yang menghamparkan tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati, maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), 'Teruskan amalmu, maka Allah telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang.'"

Betapa saya menemukan keagungan dalam pekerjaan ini. Sebuah profesi yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun selain saya sendiri, ibu rumah tangga. Tidak salah jika kini, saya begitu bangga dengan profesi ini. Jika ada yang bertanya apa pekerjaan Anda? Tanpa ragu lagi akan keluar jawaban, "Saya adalah ibu rumah tangga."

*Untuk yang sedang belajar jadi ibu rumah tangga, dari buku "Menyemai Cinta di Negeri Sakura, diary kehidupan dua Muslimah yang tinggal di Jepang" tulisan Lizsa Anggraeny - Seriyawati.


Monday, December 1, 2008

Jokes: Karakteristik Tiap Golongan Darah


Sunday, November 30, 2008

Menjadi orang hebat karna orang yang tidak menarik

Konon di Jepang, dalam sebuah latihan untuk menjadi shogun... Dua orang shogun sedang saling berhadapan.

Satu orang disuruh mengambil batu dan mengatakan, "Wah, alangkah indahnya gunung ini!". Satu orang lainnya disuruh mengatakan hal yang sama, dan hanya boleh mengatakannya setelah benar-benar melihatnya sebagai gunung yang sangat indah!

Lalu satu orang disuruh mengambil cangkir yang biasanya cangkir ini dihidangkan dengan occha besertanya. Satu orang lainnya disuruh menerimanya kemudian meminumnya, sampai seakan akan aroma occha terasa, sampai percikan air mengalir terasa di lidahnya, lalu berkata, "Ah, lezatnya occha ini!"

Teman, dibutuhkan orang hebat untuk menerima orang lain yang tidak menarik baginya. Karena intinya, adalah bagaimana dia bisa menjadikan "orang tidak menarik" itu sarana untuk mejadi orang lebih HEBAT!

Cinta menurut mereka..

Yang belum menikah, hmm.. cinta itu ketulusan.
Tumbuh dari hati ke hati. Bukan hasrat untuk memiliki, tapi hasrat untuk menjadikannya lebih baik. Cinta didasari pada batasan syar'i. Persahabatan mereka tiada curiga dan arogansi. Jika suatu saat salah satu dari mereka berkata, "mudah-mudahan kita tetap bisa berteman, mudah-mudahan masing-masing kita mendapat yang terbaik". Subhanallah, kita tetap bisa berteman, tentu. Karena cinta itu ketulusan.

Yang baru menikah, hmm.. cinta itu cinta sejati.
Tumbuh subur dengan kepercayaan dan saling menasehati. Bertambah kuat saat diterjang badai. Tidak ada cinta sejati kalimat, "aku terima nikahnya, fulanah bin fulan". Kata Rasulullah, "tiadalah aku melihat cinta yang sebenarnya kecuali cinta dua orang yang menikah" (au kama qola Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam). Cinta mereka yang baru menikah, belum banyak mengenal satu-sama-lain, baru saling menjajaki satu-sama lain, berusaha untuk saling mengerti dan mamahami. Cinta mereka seperti kuntum bunga yang baru mekar, sebagaimana mereka telah tunggu-tunggu sejak lama dengan berkata "..biarkan kuncupnya jadi bunga.." Kisah cinta mereka adalah kisah cinta paling indah dan nikmat.

"Marriage-a book of which the first chapter is writen in poetry an the remaining in prose." - Beverly Nichols.

Yang baru punya anak, hmm.. cinta itu pengorbanan.
Tumbuh dari perasaan sejati seorang ummi, seorang abi. Cinta bagi mereka adalah bangun tiap malam untuk menenangkan bayi mereka yang sedang menangis. Cinta bagi suami adalah bekerja keras untuk menafkahi istri, untuk biaya membeli susu, membeli makanan kesukaan istri, baginya kebahagiaan istri adalah nomor satu. "Kalau suami bahagia, maka ada satu orang yang bahagia, kalau istri bahagia, maka seisi rumah bahagia". Cinta bagi istri adalah dukungan dan semangat kepada suami. Cinta bagi istri adalah pengorbanan hidup-mati untuk mempersilahkan bayi tercintanya lahir ke bumi. Perasaan mendalam ketika mendengar bayinya menangis atau tertawa. Perasaan paling bahagia saat pertama kali menjadi "ummi", pahlawan yang lemah tapi paling kuat. Apa yang selalu terbayang dipikirannya adalah wajah bayi mungil yang tak berdosa. Akar dari kesemua itu adalah: pengorbanan.

Yang sudah hidup bersama puluhan tahun, hmm.. cinta itu komitmen.
Tumbuh dari perasaan sehati setelah merasakan bersama pahit getirnya hidup. Suatu ketika, terdengar bisik-bisik mesra dari dua kakek-nenek berumur 70 tahun lebih, sedang berjalan pagi-pagi menikmati udara pagi kota saat weekend sambil bergandengan tangan mesra. Bagaimana mereka merawat cinta begitu lama? Adalah komitmen yang mejadikan mereka bertahan. Komitmen telah memupuk cinta dan merawatnya hingga bisa awet begitu lama.

Ah, terlalu sedikit jika tulisan ini dipakai untuk mejelaskan cinta. Karena cinta tidak akan habis dituliskan sepanjang zaman, bahkan tak cukup selesai dipaparkan oleh pakar cinta paling handal sekalipun.

Well, itu semua pendapatku pribadi sih. What do I think 'bout love, sebagai orang yg baru merasakan manis dan pahitnya cinta, hehehehe.. Sudah-sudah.. Back to work!!

Hati-hati Bawa Hati

Aduh,
susahnya punya hati
letaknya tersembunyi
tapi geraknya tampak sekali
(he hemm malu juga diri nih)

Makanya,
lebih baik punya istri
kalau tersenyum ada yang menanggapi
kalau berekspresi ada yang memahami
sikapnya lembut tak bikin keki
kadang malah memuji
"Tuhan tak pernah ingkar janji,
kalau terus menjada diri,
akan mendapat pendamping yang lurus hati."

Tapi kalau masih sendiri,
hati-hati bawa hati
kalau sibuk mencari perhatian,
kapan kamu mengenal gadis yang bisa menjaga pandangan?
bagusnya sibuk menyiapkan perbekalan
(maunya sih kutulis memperbaiki iman)
tanpa susah-susah membayangkan
saat saat tak terbayangkan

Adapun kalau sudah beristri,
jangan lupa mengingatkan
kalau ada yang dilalaikan
tentang perkara yang disyari'atkan
tapi kalau ia memelihara kewajiban
ingat-ingatlah untuk memberi perhatian
jangan menunggu dapat peringatan

(Fauzil Adhim, Kupinang Engkau dengan Hamdalah)
Thursday, November 27, 2008

Moments to Capture



peace, passion, friendship, journey.. so called.... life
the most precious thing we have..
Tuesday, November 25, 2008

Konflik jangan dihindari...

.. tapi diselesaikan.

Saya ingat betul ketika pertama kali mendapat kuliah dari Prof. Sudjono (atau yang lebih dikenal dikalangan mahasiswa: Pak Jon). "Ilmu elektronika bisa diterapkan dimana-mana, untuk ilmu apapun, bahkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari". Sejenak kemudian saya berfikir, mencoba mencerna apa maksud kata-kata filosofisnya. Pak Jon lalu mencontohkan tentang fenomena sosial di masyarakat, dan kemiripannya dengan fenomena ilmu-ilmu yang dipelajari di Elektronika.

Sekali lagi, saya gagal memahami apa maksudnya. Bagaimana ilmu Elektronika dipakai untuk menganalisa fenomena sosial? Ah, tapi baru-baru ini, sedikit-demi-sedikit saya mulai memahami apa maksud kata-kata filosofisnya. Ilmu adalah universal. Karena pangkal dari semua ilmu adalah kebenaran universal yang satu. Itu adalah fitrah, yang Allah takdirkan bagi hamba-Nya.

Saya beri satu contoh kecil bagaimana pengalaman kerja saya di bidang IC design menjelaskan fenomena sosial.

Pernah pakai SVN? Tool untuk version control. Untuk windows saya pakai Tortoise SVN, sedangkan untuk Linux saya pakai Kdesvn. Caranya adalah, setelah desain selesai dengan kriteria tertentu, kita commit design. Lalu SVN (atau sering kita sebut: repository) akan merekam semua kejadiannya, termasuk perbedaan code line-per-line antara desain versi duku dengan sekarang. Orang lain bisa melihat code yang baru kita commit dengan cara update design.

Intinya agar kita punya jejak perkembangan desain yang sudah dibuat, agar jika terjadi error, bisa kembali ke versi dahulu. Kegunaan lainnya adalah jika bekerja dalam suatu tim. Bagaimana menggabungkan pekerjaan beberapa orang, dan bagaimana jika ada dua orang mengedit satu file (misalnya verilog file) yang sama.

Contoh terakhir menarik. Dalam development, ada dua orang yang harus mengedit satu file yang sama. Satu orang mengedit lalu commit design. Orang lain mengedit lalu ingin commit design. Tapi tidak bisa! Kenapa? Pertama, karena file di repository telah berubah, dan acuan editing kita tidak sesuai dengan apa yang ada di repository. Kedua, karena editing orang lain yang telah di-commit (atau check-in) di repository posisinya sama dengan apa yang kita edit dalam file kerja kita (current working directory).

Kalau ini terjadi, maka kita sebut sebagai "Konflik". A conflict occurs when two changes are made by different parties to the same document, and the system is unable to reconcile the changes. A user must resolve the conflict by combining the changes, or by selecting one change in favour of the other (http://en.wikipedia.org/wiki/Revision_control).

Ada banyak cara jika kita kedapatan konflik. Cara yang benar adalah pakai resolve conflict. Tortoise SVN punya fasilitas built-in resolve conflict. Untuk Linux bisa pakai Kdiff3.

Apa yang dilakukan dalam proses resolve conflict? Kita membandingkan hasil code kita dengan code yang ada direpository. Tools seraca otomatis akan menunjukkan bagian line berapa yang terjadi conflict. Lalu kita, sebagai desainer, bisa memilih: (1) pakai code line yang ada di repository, (2) pakai code line kita yang ada di current working directory, (3) Memakai kedua code. Apabila ragu-ragu atas pilihan itu, maka kita harus berdiskusi dengan desainer lain yang mengedit file yang sama tersebut. Kemudian memutuskan code mana yang akan dipakai. Itu dalah cara menyelesaikan konflik yang benar.

Cara yang salah adalah:
1. Update repository.
2. Ketemu koflik.
3. Backup code kode_saya.mine
4. Revert ke repository (sesuaikan working directory dengan repository)
5. Timpa kode_saya dengan kode_saya.mine.

Cara ini sangat fatal! Kenapa? Karena kita telah menghapus hasil jerih payah orang lain dengan menimpa pekerjaannya dengan pekerjaan kita. Sama sekali bukan cara yang baik untuk menyelesaikan konflik. Kejaian fatal juga sering terjadi jika sesorang bekerja di directory lain (bukan SVN working directory), lalu untuk commit design adalah dengan cara meng-overwrite file di working directory, lalu meng-commit-nya ke repository. Walapun tidak ada indikasi konflik oleh SVN (karena secara teknis tidak mengedit file yang sama) cara ini lebih fatal! Kita sebut saja konflik terselubung.

Konflik dalam kehidupan sehari-hari.
Ah, ternyata. Dari pengalaman kerja memakai SVN ini, saya mendapat pelajaran bagaimana menghadapi konflik dan menyelesaikannya. Bukan hanya dalam dunia kerja, tapi juga dalam kehidupan sosial. Saya sering katakan pada desainer-desainer muda yang baru berkenalan dengan SVN dan team working. Jangan hindari konflik, tapi selesaikan!

Yup, walau begitu, "konflik jangan dicari... tapi kalau ketemu jangan lari". Konflik juga jangan tidak boleh disembunyikan. Konflik jangan dihindari, tapi diselesaikan :)

Workaholic vs Kebahagiaan Keluarga

Seseorang bertanya, "Kita diajarkan untuk berdedikasi tinggi dalam pekerjaan." Lalu dia menambahkan, "Bagaimana jika kita bekerja keras sampai mengorbankan apa yang menjadi 'tujuan' seorang pemimpin rumah tangga dalam bekerja, yaitu kebahagiaan rumah tangga?". "Berangkat kerja pagi hari", tambahnya, "pulang larut malam, bahkan kadang sampai harus keluar kota beberapa hari. Sedikit sekali waktu untuk keluarga".

Jawabnya adalah, "Semua terletak pada kualitas interaksi, bukan kuantitas". Contoh kasus, ada seorang ayah yang bisa berada di rumah 10 jam sehari. Cukup lama bukan? Tapi perhatikan, ketika anak-anak melihat mobil ayahnya datang, mereka tidak merasa senang karena ayahnya pulang, tapi justru bergumam, "Yah, ayah sudah datang!". Atau ketika sedang berada dirumah, yang dipikirkan anak-anak tidak lepas dari, "Kapan sih ayah pergi?".

Kasus kedua, seorang ayah baru saja pulang dari luar kota beberapa hari, lalu ketika mobil baru masuk halaman rumah, anak-anak keluar dan berteriak histeris, "Ayah, Ayah!". Lalu sang istri menjemput suami tercinta lalu meyapa dengan penuh perhatian, "Capek, pa?".

Dua kasus yang kontras. Kasus pertama, seorang ayah punya banyak waktu di rumah, kasus kedua, seorang ayah yang jarang berada di rumah. Lebih bahagia yang mana? Jawabnya terserah Anda :)

Nasehat hari ini

Entah kenapa tiba-tiba hari ini dapat banyak nasehat tentang cinta. Dari memberi semangat, sampai menghibur. Tapi yang paling berkesan (dan menghibur, kata temen) ya dari blog Agah. http://thebloggah.blogspot.com/2008/11/6-derajat-wanita-solehah-dilihat-dari.html. Hmm.. betul sekali. Walaupun ada discalimer, "Sekali lagi, ini mah tulisan iseng. Mohon maap lahir dan batin buat yang kurang berkenan.", tapi temen perempuan mengomentariku terkesan setuju, "iya" ":))", "tnx". Hehe..

Ada satu artikel juga yang menarik, dari http://warnaislam.com/rubrik/hikmah/2008/11/20/14580/Seri_Kebahagiaan_INILAH_CINTA.htm. 'Ala kulli hal, terima kasih semua, Alhamdulillah. Hidup adalah pilihan, kata teteh, dan yang terbaik adalah pilihan yang terbaik menurut Allah :)
Friday, November 21, 2008

Very often...

we fail to recognize what we have until we lose it..

...
It's the heart of a Muslim through the guidance of Islam
That makes you fair and kind and helpful to your fellow man
So living as a Muslim means that you must play a part
Allah looks not at how you look, but what is in your heart
...
(Zain Bikha, Hearth of Muslim)
Tuesday, November 18, 2008

Smile :)

Tak baik berlama-lama kosong.. hohoh.. jadi kuambilkan tulisanku di newsgruop vs.getemono. Here we go!

Bagi para penyuka animasi, tahukah Anda bahwa Toy Story dan Shrek dibuat menggunakan ilmu FACS (Facial Action Coding System http://en.wikipedia.org/wiki/Facial_Action_Coding_System)?

Alkisah, Paul Ekman (http://www.paulekman.com/) dan Wallace Friesen melakukan riset menyusun taksonomi untuk mimik wajah. Dengan terus berkonsultasi dengan para pakar anatomi wajah, mereka memadupadankan 43 gerakan otot berbeda yang bisa dibuat oleh wajah. Walhasil, mereka dapat membuat kombinasi gerakan otot wajah yang memiliki makna sebanyak hampir sepuluh ribu kombinasi, lalu dituangkan dalam dokumentasi setebal 500 lembar! (http://www.face-and-emotion.com/dataface/facs/description.jsp)

Ceritanya, Ekman dan Friesen melakukan riset dengan mengumpulkan sejumlah relawan yang dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diminta mengingat-ingat kembali pengalaman mereka yang sangat berat (bisa dibilang membuat trauma). Satu kelompok diminta untuk 'berakting' menurut mimik wajah FACS. Hasilnya, kedua kelompok mengalami kenaikan laju denyut jantung yang sama dan kenaikan suhu tubuh yang persis.

Nah, beberapa waktu kemudian, beberapa Psikolog Jerman mencoba hal yang sama. Mereka meminta dua kelompok relawan untuk mengamati gambar-gambar kartun. Kelompok pertama harus melakukannya sambil menggigit pulpen (yang memaksa mereka untuk tersenyum), kelompok kedua menggunakan bibirnya untuk menjepit pulpen (yang membuat mereka mustahil untuk tersenyum).

Hasilnya? Yang menggigit pulpen dengan gigi (sehingga terpaksa tersenyum) jauh lebih merasa bahwa kartun-kartun itu lucu, sementara relawan yang menjepit pulpen dengan bibi (sehingga sulit tersenyum) merasa kartun itu biasa saja. Wow!

Ada artikel menarik tentang 'Facial Action' ini dari The New Yorker (http://www.gladwell.com/2002/2002_08_05_a_face.htm). Coba buka yang pdf nya. Mungkin ihwal ini yg sering kita sebut sugesti?

Tambahan:
Setiap orang memiliki cara berbeda-beda untuk menyatakan maksud melalui bahasa tubuh (gesture language). Bagaimana dengan wajah? Apakah bahasa wajah/mimik universal?

Berikut video menarik yang membahas ini:
Is your face giving you away? Meet renowned psychologist Paul Ekman, who has spent his life studying how our facial muscles involuntarily reveal emotions like sadness and anger. His comprehensive catalog of human facial expressions has become an important tool for everyone from law enforcement agents to animators.
http://www.youtube.com/watch?v=-PFqzYoKkCc

ps. Just curious, adakah penelitian psikologi 'melihat foto orang tersenyum bisa mempengaruhi orang untuk tersenyum'?

Yan Syafri Hidayat wrote:

> ps. Just curious, adakah penelitian psikologi 'melihat foto orang
> tersenyum bisa mempengaruhi orang untuk tersenyum'?

Ada, ini disebut "efek mirroring". Coba perhatikan:
1. Mengapa kita membalas senyum seseorang yang tidak kita kenal yang tiba-tiba tersenyum pada kita?
2. Mengapa kita tersenyum kepada bayi yang tertawa/terseyum pada kita padahal kita tidak tahu apa maksud bayi tersebut
3. Mengapa kita tertawa/tersenyum jika melihat orang-orang di TV tertawa/tersenyum.

Dan bukan hanya tertawa atau tersenyum, tapi juga jika kita melihat orang lain tertawa, menangis dll, maka secara *tidak sadar* kita akan berusaha me-mirror-kan keadaan itu pada diri kita. Mangapa ini terjadi? Karena kita adalah mahluk sosial, yang berusaha ber-empati kepada orang lain.

http://en.wikipedia.org/wiki/Mirroring_(psychology)

# Lho ada yg. bilang kan "kamu adalah kaca saudaramu"...
Dan lebih lanjut seharusnya tidak bisa hidup bahagia/tertawa diatas penderitaan orang lain. Berkaitan dg. itu jika kita ingin membuat seseorang tidak peduli dg. lingkungan, maka pisahkan perasaannya dengan lingkungannya. Atau dengan meng-dis-asosiasikan perasaannya dg. perasaan lingkungannya. Maka dia tidak akan peduli dg. lingkungannya.

Caranya mudah, agar seseorang tidak merasakan penderitaan rakyat miskin
dan/atau melupakan penderitaan, cukup retorika dimulut saja:
1. buat dia tidak pernahhidup dengan orang miskin.
2. buat dia hanya mengalami hal-hal mewah, seperti belanja di tempat super-mewah, tidak pernah mengalami kemacetan dan panasnya bis PPD di jam sibuk.
3. cekoki dengan kehidupan mewah dan glamour lewat TV...
Dengan mudah seorang akan merasa bahwa kemiskinan itu bukan dunianya.

# Hal ini dipraktekkan di Korut... dan cukup berhasil
# Dan semoga tidak terjadi di Indonesia


Monday, October 27, 2008

2 Bulan

ini...... akan terasa cepat sekaligus lambat.

Terasa cepat ketika sedang diburu-buru waktu, deadline, pekerjaan, dan masalah. Membuat kita berkata, "Aduh bentar lagi deadline!".

Terasa lambat ketika dihadapkan pada penantian, apalagi penantian panjang mendebarkan. Membuat kita berkata, "Kapan ya, hari itu tiba?".

Ah, hidup memang penuh warna. Adakalanya hitam atau putih, merah atau kuning, hijau atau lembayung, semua memberikan kontribusinya masing-masing. Pangkal dari semua itu adalah syukur dan sabar, rasa yang akan membuat komposisi hidup kita tetap menarik, cerah, dan tidak membosankan, insya Allah :)
Sunday, October 26, 2008

Cinta yang Salah


"Amor vincit omnia"
, cinta mengalahkan segalanya.

Sebagian orang menganggap kisah cinta Romeo dan Juliet sebagai romantisme cinta sejati. Mari kita perhatikan kisahnya.

Romeo adalah putera tuan besar Montague yang bermusuhan dengan tuan besar Capulet, ayah Juliet. Keluarga Montague dan Capulet bermusuhan. Ketika Romeo berkata "What's in a name?", bagi Juliet nama Montague di belakang Romeo sangat merisaukan. Nama yang menyiratkan musuh nyata bagi keluarganya.

Ketika Romeo mendatangi Juliet berhadapan dengan tuan besar Capulet, maka dia ditolak. Cinta bagi Romeo adalah duka yang mengiris pedih ketika menghadapi kenyataan bahwa mereka harus berpisah. Rindu mereka menguras air mata dan melelahkan pikiran. Hingga tibalah saat klimaks, Romeo menengguk racun di hadapan jasad Juliet yang pura-pura mati. Begitu siuman, Juliet segera mencium mesra bibir Romeo yang belepotan racun. "Kepak sayap mereka yang lembut", tutur Shakespare menutup kisah, "Adalah kepak sayap cinta".

Shakespare dengan gaya tutur sastranya telah membungkus kisah cinta yang salah dengan kelabut cinta sejati. Cinta, ala Romeo dan Juliet, adalah sesuatu yang akhirnya membuat mereka bunuh diri, sebagaimana cinta ala Qais yang menjadikannya gila karena Layla Majnun, dan sederetan kisah-kisah cinta salah lainnya.

Mari kita simak penuturan Lauren Slater pada majalah National Geographic Februari 2006 yang mengangkat tema "Love, the Chemical Reaction". Kata Lauren, "Love and obsessive compulsif disorder could have a simillar chemical reaction". Maknanya kurang lebih, mungkin akan sulit membedakan antara cinta dan penyakit mental. Sebagaimana kejadian yang dialami oleh Romeo dan Juliet, sulit untuk tidak mengatakan bahwa terdapat semacam gangguan mental, istilah Lauren, obsessive compulsif disorder.

"Gangguan jiwa", kata Fauzil Adhim dalam bukunya Disebabkan oleh Cinta, "tidak datang secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses hidup yang panjang". Tidak ada sebenarnya orang gila karena putus cinta. Yang ada adalah orang dengan jiwa yang rapuh, lalu ketika sebuah peristiwa menghentak keras, jiwanya hancur berkeping-keping.

Penjelasan apik disampaikan Anis Matta dalam serial cintanya, "Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini, kita mencintai seseorang lalu menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak, -atau tak beroleh kesempatan-, untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumber kesengsaraan". Kita menderita bukan karena cinta, tapi karena menerjemahkan cinta itu sebagai kebersamaan. Baginya, kehidupan bersama yang penuh romansa adalah harga mati. Maka baginya, kalau tidak bisa hidup bersama, mati bersama pun cukuplah.

Ya, ada yang salah dalam mengartikan cinta. Kalau saja 'mencintai' itu sudah cukup membuat bahagia, tentu mereka tidak akan risau jikapun 'tak dicintai'. Mereka tidak akan risau, jikapun tidak bersama. "Amor vincit omnia", cinta mengalahkan segalanya. Cinta diterjemahkan secara salah menjadi bumerang bagi jiwa yang 'mencintai'.

Teman saya memberikan definisi favoritnya tentang cinta: "Cinta adalah kata yang mewakili seperangkat kepribadian yang utuh: gagasan, emosi, dan tindakan. Gagasannya adalah tentang bagaimana membuat orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik, dan berbahagia karenanya. Ia juga emosi yang penuh kehangatan dan gelora karena seluruh isinya adalah semata-mata keinginan baik. Tapi ia harus mengejawantah dalam tindakan nyata. Sebab gagasan dan emosi tidak merubah apa pun dalam kehidupan kita kecuali setelah ia menjelma jadi aksi".

Kekuatan Cinta

Kita tentu pernah mendengar teori segitiga cinta yang dikenalkan Sternberg. Cinta mengandung tiga komponen: keintiman (intimacy), gairah (passion), dan komitmen (commitment).

Keintiman (intimacy) adalah elemen emosi yang didalamnya terdapat kehangatan, keakraban, dan hasrat menjalin hubungan. Gejala yang tampak dari keintiman bisa berujud perasaan bahagia ketika dekat dengan seseorang, menikmati cakap-cakap dengannya sampai waktu yang lama, merasa rindu bila lama tidak bertemu, dan keinginan untuk bergandengan tangan (*ehm) atau saling merangkul bahu. Gairah (passion) adalah elemen motivasional yang didasari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual. Sementara komitmen (commitment) adalah elemen kognitif, berupa keputusan dan tekad untuk tetap dan sinambung menjalankan kehidupan bersama.

Keintiman dan gairah tanpa komitmen adalah romantic love, gairah dan komitmen tanpa keintiman akan memunculkan fatous love, sedangkan komitmen dan keintiman tanpa gairah menghasilkan compansionate love. Jika keintiman, gairah, dan komitmen bersatu maka inilah cinta ideal yang diistilahkan consummate love.

Sternberg yang berlatar belakang Barat kemudian mendefinisikan tahapan cinta bermula dari keintiman, gairah, lalu berbuah komitmen yang ditandai dengan pernikahan. Terlepas dari perdebatan shahih tidaknya teori Sternberg, ada rasa penasaran yang ingin saya ketahui dari pasangan tua yang berhasil merawat cinta dalam waktu lama.

Sebut saja Nursiwan (76) dan Mainar (72), dalam "Setengah Abad Merawat Cinta" edisi khusus Tarbawi, "Ia meyebutkan bahwa yang penting dalam rumah tangga itu saling menghargai. Se-iya se-kata. Saling mengerti satu sama lain", lebihnya, "Kita saling mengerti, itu obat dalam rumah tangga, yang lain tidak ada. Kalau ada masalah jangan dipendam, dipendam berdua tidak apa-apa, tapi jangan sampai orang lain tahu.", lanjut Tarbawi, "Komitmen juga selalu dipegang istrinya, Mainar. Dia juga tidak pernah melaporkan urusan rumah tangganya kepada orang tuanya."

Ya, komitmen sebenarnya inti kekuatan cinta. Saya mencoba sedikit memperluas makna komitmen dari tidak sekedar keputusan untuk 'hidup bersama' seperti kata Sternberg, tapi komitmen juga berarti memberi bukan meminta, memahami bukan menuntut, rela berkorban bukan bukan hitung-hitungan, aktif bukan pasif. Komitmen adalah kesetiaan. Ya, itulah letak kekuatan cinta.

Dari komitmen kita berangkat mengarungi dunia cinta. Dengan komitmen, tidak akan muncul rasa putus asa, kegilaan, ataupun kesengsaraan sebagaimana cinta ala Romeo dan Juliet. Tentu komitmen tertinggi adalah komitmen terhadap nilai-nilai Ilahi yang ada dalam risalah yang dibawa Kanjeng Nabi. "Karena", kata teman, "cinta datang karena datangnya sebab, hilang karena ilangnya sebab". Maka cinta lah karena Allah, sumber yang tak akan pernah sirna. Semburatkan senyum kepada setiap orang yang kita cintai, lalu berbagi lah kebahagiaan dengannya. Satu kalimat untuk setiap pasangan Muslim, semoga barokah menaungimu. Jangan salah artikan cinta. Akhukum fillah, maaf kalau tidak komprehensif.

Satu kata cinta Bilal: "Ahad!"
Dua kata cinta Sang Nabi: "Selimuti aku..!"
Tiga kata cinta Ummu Sulaim: "Islammu, itulah maharku!"
Empat kata cinta Abu Bakar: "Ya Rasulullah, saya percaya..!"
Lima kata cinta Umar: "Ya Rasulullah, ijinkan kupenggal lehernya!"

(Terima kasih Mas Salim, bukunya, inspiring, maaf saya kutip-kutip seenaknya! Baru tahu, akhirnya nasyid IQOSS diterbitkan juga, hehe :))

Iseng-iseng surfing nemu resep kue cinta.

Menulis Lagi

Menulis bagi saya adalah salah satu cara untuk refreshing sekaligus latihan otak. Seperti makanan dan olah raga bagi tubuh, menulis bisa membuat otak menjadi semakin sehat.

Mengapa? Pertama, menulis menuntut orang untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya, dan ini tidak bisa dilakukan dengan mudah kecuali orang tersebut memahami betul ihwal apa yang sedang dipikirkannya. Orang akan terstimulus untuk mencoba mengendapkan pikiran, merenungi, dan menata kembali ruang-ruang ide yang berserakan menjadi sebuah gagasan yang mantap. Dengan begini otak kita akan terlatih untuk terbiasa berfikir, merenungi, lalu menyusun semuanya menjadi sebuah gagasan yang jelas dan tersusun rapi.

Kedua, menulis akan melatih kemampuan bahasa kita. Ketika sebuah gagasan sudah tersusun rapi di benak kita, maka saatnya memilih kata yang tepat untuk mengejawantahkannya dalam tulisan. Ini memerlukan ketrampilan dan jam terbang yang tinggi. Jujur saja, nilai psikologi saya untuk pemilihan kata, kosakata, dan semacamya tergolong paling rendah. Dan jujur saja, setelah sekian lama mencoba, tetap pemilihan kata ini yang paling menghalangi saya untuk menulis.

Mungkin seperti melukis, ada orang yang berbakat, ada orang yang tidak berbakat. Terlepas dari perdebatan akan adanya bakat atau tidak, yang jelas semuanya bisa dilatih, dan endurance seseorang untuk terus mencoba (jam terbang) yang akan menjawabnya. Satu tips untuk Anda dan kita semua. Biarkan tulisan mengalir apa adanya, jaga agar airnya tetap mengalir dan tidak berlama-lama tersendat, lalu jika aliran itu kurang indah kita benahi diakhir nanti. Yah, itulah mengapa setiap penulis, profesional sekalipun, tetap membutuhkan seoarang editor. Hehe.

Eits, kok malah ngelantur kemana-mana. OK saya simpulkan, bahwa menulis juga menjadi latihan kemampuan bahasa atau kosakata, dan konon "latihan" ini sangat terasa pengaruhnya bagi otak kita, seperti fitnes bagi kebugaran tubuh.

Ketiga, menulis adalah refleksi dari pembelajaran kita. Seseorang akan menulis apa yang dia ketahui, lebih spesifik lagi apa yang dia baca. Ya, menulis dan membaca seperti "tumbu ketemu tutup" (tong dengan tutupnya), sangat erat hubungannya. Ini saya alami sendiri. Ketika kita terlalu disibukkan dengan rutinitas sehari-hari kemudia jarang membaca, untuk memulai menulis jadi terasa sulit. Oleh karena itu, dengan keinginan untuk menulis akan mendorong kita untuk mempunyai keinginan banyak-banyak membaca juga.

Tentu dibalik kesemua manfaat positif menulis, ada sekian banyak manfaat-manfaat lainnya. Salah satu contoh, menulis sebagai agen perubahan, perubahan kepada pemikiran yang lebih baik. Yah, tapi bolehlah dalam tulisan ini saya membatasi aspek tulis-menulis sebagai sarana refreshing dan latihan otak saja.

Media Menulis.

Blog sebagai salah satu media tulis, sampai saat ini menurut saya masih menjadi media yang paling efektif bagi pemula. Saya sendiri tidak dekat dengan dunia para penulis, apakah mereka juga memanfaatkan media semaca blog juga? Saya pikir iya.

Nah, satu kalimat penutup. Pengalaman saya, sebagai penulis amatiran, jangan lama-lama menyelesaikan tulisan. Tulis-menulis bagi saya identik dengan mood juga. Kecuali orang yang pandai memanage otak dan pikirannya sehingga bisa menjaga mood, maka segeralah selesaikan tulisan, karena kita tidak tahu kapan "bad-mood" itu akan muncul. Sekian dari saya, enjoy.
Wednesday, August 6, 2008

I am

Highly Motivated! ^o^
Sunday, July 13, 2008

Bunga Alamanda, The Beauty of Flower

Bunga Alamanda? Hehe, maksudnya "bunga yang ada di Alamanda". Yup, foto-foto kuambil di Alamanda, pagi-pagi hari Ahad, sambil keliling-keliling naik sepeda menikmati indahnya cuaca pagi hari. Subhanallah. Maha Suci Engkau, yang telah menciptakan dunia dan segala isinya dengan segala keindahannya. (ya2n)


Saturday, July 12, 2008

S5 IS

Yaaahhhh.. akhirnya beli S5IS juga. Lumayan, pas harga lagi turun. Harus kurawat biar bisa awet sampe 10 tahun (haha, berlebihan banget ga sih?). Fitur yang paling saya suka itu optical zoom 12x, full manual setting: seperti manual focus, shutter speed dan apperture, dan juga vari-angle 2.5" LCD yang bisa diputar2 kesegala arah, dan kalo mau bisa nambah lensa dan flush, dan tentu saja: Image Stabilizer (IS). Yah, tentu masih terbatas pada kamera digital biasa, bukan SLR. Lagian saya kan masih amatiran.

Tapi kalo dibanding kamera SLR, yang harganya bisa puluhan juta (apalagi yang udah pake digital SLR, baca manualnya aja sampe mabok), kamera ini masih best-buy lah untuk yang budgetnya minim. Udah bisa bergaya pro juga, haha. Kalo mau lihat harga-harga di distibutor, ada disini, cari aja bagian kamera digital. Eniwei, hobby baru lagi nih, hehe, jepret-jepret ^o^. Moga-moga ada manfaatnya. (ya2n)
Tuesday, July 1, 2008

Karena Islam Menginginkan Perubahan

Sahabat Rasulullah bagaikan mutiara di tengah gurun pasir yang kering dan keras. Mereka adalah kehidupan ditengah-tengah kematian. Kematian ideologi, kematian pemikiran, kematian watak, dimana hampir semua masyarakat Arab waktu itu adalah para penyembah berhala. Mereka menjadikan sesembahan sesuatu yang bahkan mereka buat sendiri. Lalu Islam datang menghidupkan dan memberikan cahaya kepada mereka yang bertakwa.
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu,.. " (Al-Anfal:24).
Seperti sudah selayaknya, setiap kebaikan akan selalu dihadang oleh keburukan. Tak sedikit para shahabat mendapat halangan dan rintangan dari musuh-musuh mereka, baik berupa pisikis: cacian, cemoohan, ataupun fisik: pemukulan, penganiyaan, dan sebagainya. Apa yang membuat mereka tetap bertahan?

Satu hal yang menyebabkan mereka selalu bertahan adalah: kesadaran penuh bahwa Islam menginginkan perubahan. Islam mengingingkan perubahan dari kehidupan jahiliyyah ke kehidupan Islam penuh berkah. Islam menginkan perubahan dari keburukan ke kabaikan. Islam menginginkan perubahan dari kegelapan kepada cahaya. Mari kita perhatikan bagaimana Islam mengubah paradigma jahiliyah.



By Khalid Yasin. A lecture in which Shaykh Khalid Yasin focuses primarily on the youth, taking them back to the heart of Islam - believing in the oneness of God and fearing Him wherever they may be. Khalid Yasin also advises the youth on ways to improve themselves and possibly become the defenders of Islam. The lecture also includes a short talk from World Champion Boxer Hajj Nasim Hamed.

Download the lecture here or visit this website.

Dahulu, orang yang disebut kaya adalah orang yang memiliki banyak harta. Setelah datang Islam, orang yang disebut kaya adalah orang yang kaya hati. Saat ini kita melihat betapa banyak orang yang berharta tapi hidupnya tidak bahagia. Kuncinya adalah satu: syukur. Begitulah Islam merubah paradigma tentang kaya.

Dahulu, orang yang disebut kuat adalah orang yang jagoan atau jago bertarung. Lihatlah Islam memandang orang yang kuat, orang kuat adalah yang bisa menahan nafsu. Iya, karena dorongan nafsu adalah yang paling kuat dan susah dibendung. Pernah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, ketika sedang berada dalam sebuah medan peperangan, bertemu seorang musuh lalu Ali mampu mengalahkannya, ketika akan menebasnya musuh tersebut meludahi Ali. Apa yang terjadi kemudian? Ali mengurungkan niatnya menebas, karena khawatir tebasannya adalah tebasan karena nafsu amarahnya, bukan karena membela agama Allah. Mari kita renungkan, apakah kita merasa kuat dengan rutinnya fitnes dan olahraga sehingga tubuh jadi terlihat kekar dan bugar, tapi ketika bangun pagi untuk melaksanakan sholat shubuh saja tidak kuat? Bagaimapa pula bangun untuk memenuhi panggilan jihad? Mashaallah!

Dahulu, orang mendefinisikan nikmat adalah bersenang-senang, makan makanan lezat dan sebagainya. Tapi perhatikan apa yang dikatakan Ibnul Qayyim Al-Jauzi, seorang pakar masalah hati: "Kenikmatan adalah ketika engkau mengenal Allah (ma'rifatullah), dan mencintai Allah (mahabatullah)". Ya, Allah lah yang memegang hati setiap insan. Allah pula lah yang bisa memberikan rasa nikmat di hati setiap manusia. Dunia layaknya setitik air ditengah luasnya samudra. Dunia layaknya ketika sesorang bepergian dan mampir sejenak untuk berteduh. Dan kenikmatan akhirat adalah kenikmata hakiki. Pantaslah seorang imam besar, Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya kapan engkau akan istirahat? jawabnya: "Ketika pertama aku menginjakkan kakiku di syurga". Allahu Akbar!

Islam menginginkan perubahan. Perubahan menuju kebaikan. Constructive, bukan destructive. Di kala idealisme ini menjadi asing dan barang berharga, beruntunglah bagi orang asing. Seperti yang dikabarkan oleh pembawa risalah agung agama ini, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam: fa tuuba lil ghuurobaa.., "maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing.." Yang mau melakukan perubahan, mengadakan perbaikan demi perbaikan.

Support peace.
(Ya2n)
Wednesday, June 25, 2008

Personality Test

It's kinda fun to have a personality test. Like the old time "Sesame Street" personality quiz, I am the Big Bird:
Talented, smart, and friendly... you're also one of the sanest people around.
You are usually feeling: Happy.
From riding a unicycle to writing poetry, you have plenty of hobbies to keep you busy.
You are famous for: Being a friend to everyone.
Even the grumpiest person gets along with you.
How you life your life: Joyfully. "Super. Duper. Flooper."
Haha, well, maybe this one described me better:

Click to view my Personality Profile page


Manusia "l", "-", dan "T"

Manusia "l", memiliki pengetahuan yang mendalam, menghujam, sampai mendarah daging. Orang Eropa basanya memiliki tipe ini. Mereka bisa bekerja di satu bidang melulu sampai bertahun-tahun. Sampai bener-bener "nglotok". Beberapa perusahaan Eropa menerapkan sistem ini. Ada seorang yang profesional/ahli di suatu bidang tertentu, yang kalau orang bertanya kepada dia hampir tidak pernah tidak dijawabnya, dan jawabannya hampir selalu benar.

Ingat, tipe ini lingkup pengetahuannya hanya satu bidang saja. Ambil contoh, di sebuah perusahaan mobil Eropa, ada orang yang ahli hanya bagian depan mobil sebelah bawah yang dideket ban, dan hanya bagian per nya saja. Dan sampai umur 40 th pun dia selalu berkutat disitu :D. Huruf "l" melambangkan kedalaman ilmunya, tapi pada lingkup yang sangat sempit.

Manusia "-". Kalau yang ini biasanya omdo (alias omong doang). Memiliki pengetahuan luas tetapi hanya kulit-kulitnya saja. Mengenai realitasnya? tidak punya pengalaman sama sekali. Tidak punya know how. Orang bilang "Ah, teori!". Orang Indonesia banyak yang bertipe ini :D.

Ambil contoh, seorang pengamat teknologi informasi. Berbicara mengenai perbandingan suatu produk teknologi, katakanlah, 3G dibanding WiMAX atau LTE dibanding WiMAX. Padahal secara detail dia tidak tahu sama sekali. Hanya tahu kulit-kulitnya saja. Huruf "-" melambangkan kedangkalan ilmunya, tapi pada lingkup yang luas.

Manusia "T", selain dalam ilmunya, pengetahuan-pengetahuan diluar bidangnya juga tahu walaupun hanya kulit-kulitnya. Ketika ditanya mengenai bidang yang dia tekuni, bisa menjawab dengan profesional, dan jawabannya hampir selalu benar. Akan tetapi kalau berbicara dengan orang lain yang berbeda bidang masih bisa nyambung.

Ambil contoh, seorang group leader. Tentu dia harus expert pada bidang yang dia garap bersama anggota groupnya. Akan tetapi tentu dia akan berhubungan dengan group lainnya, dia tidak gap tek alias tetap bisa "nyambung". Huruf "T" melambangkan kedalaman ilmu pada bidang yang dia kuasai, tapi pada lingkup yang terbatas, sedangkan bidang lain dia ketahui kulitnya, tapi pada lingkup yang luas.

Tentu tidak ada orang superior yang menguasai dan ahli (bener2 ahli) dalam semua bidang. Einstein pun tidak tahu bagaimana cara memasak gudeg bukan? Atau nasi timbel aja lah (halah, ga penting). Tinggal pilih, kita mau jadi tipe "l", "-", atau "T". Saat ini tipe "T" adalah pilihan yang terbaik untuk orang Indonesia. Di saat kondisi negara masih berkembang dan belum terbentuk sistem yang baik. Disaat orang mulai membentuk sistem-sistem itu. So? Let's get the party begin.

Allah Knows

Great Nasyid by Zain Bikha, here it is.



When you feel all alone in this world
And there's nobody to count your tears
Just remember, no matter where you are
Allah knows
Allah knows

When you carrying a monster load
And you wonder how far you can go
With every step on that road that you take
Allah knows
Allah knows

No matter what, inside or out
There's one thing of which there's no doubt
Allah knows
Allah knows
And whatever lies in the heavens and the earth
Every star in this whole universe
Allah knows
Allah knows

When you find that special someone
Feel your whole life has barely begun
You can walk on the moon, shout it to everyone
Allah knows
Allah knows

When you gaze with love in your eyes
Catch a glimpse of paradise
And you see your child take the first breath of life
Allah knows
Allah knows

When you lose someone close to your heart
See your whole world fall apart
And you try to go on but it seems so hard
Allah knows
Allah knows

You see we all have a path to choose
Through the valleys and hills we go
With the ups and the downs, never fret never frown
Allah knows
Allah knows

Every grain of sand,
In every desert land, He knows.
Every shade of palm,
Every closed hand, He knows.
Every sparkling tear,
On every eyelash, He knows.
Every thought I have,
And every word I share, He knows.

Tak Sekedar Slogan by Ineu

Ineu, salah satu penulis favorit saya di rubrik Oase Iman nya Eramuslim. Cara bertuturnya yang polos tapi menyentuh seakan benar-benar ditulis dengan hati. Memang tulisannya tidak jauh dari pengalaman pribadinya sehari-hari. Justru itulah yang membuat tulisannya menarik untuk disimak. Melihat hal-hal kecil yang tidak pernah terpikir oleh kita, lalu mengemasnya menjadi cerita hikmah. Seperti tulisan terbarunya yang saya comot langsung dari sini (dengan sedikit diedit).

Tak Sekedar Slogan
22 Jun 08 06:13 WIB

Hari Minggu kali ini suasana masjid tampak lain, tak seramai biasanya. Hanya ada sedikit anak-anak yang hendak belajar baca Quran. Padahal biasanya sejak jam 12 siang di ruang dekat mihrab masjid telah berkumpul anak-anak remaja putra dan putri, khusyu mendengarkan penjelasan tentang Islam dalam bahasa Jerman dari pembimbing mereka, salah satu dari tiga orang dewasa berkebangsaan Jerman dan Arab yang silih berganti membimbing mereka mengenal Islam.

Kemudian di ruang shalat perempuan, ada dua atau tiga kelompok anak-anak dipandu guru-gurunya membaca Al-Quran dan di ruang belakang anak-anak yang lebih kecil berkelompok pula membaca iqra. Tak jauh dari tempat tersebut dalam ruang lebih kecil sekelompok ibu yang mengantar dan menunggu anak-anaknya, dengan penuh semangat belajar memperbaiki bacaan al-Quran mereka.

Saat membaca deretan kalimat pada selembar kertas yang ditempel di papan pengumuman, baru saya sadari kalau hari itu ada acara penggalangan dana yang diprakarsai saudara-saudara dari masjid lain, tempat berkumpulnya muslim-muslimah dari Arab, Turki dan Jerman. Mereka hendak menggelar acara bazaar makanan dan minuman, olahraga untuk orang dewasa dan melukis serta menggambar buat anak-anak. Oleh karena itu para pengajar remaja meliburkan binaannya karena mereka ikut berperan dalam acara tersebut.

Menurut sahabat saya, kehadiran muslim-muslimah Indonesia ke tempat acara itu sangat mereka harapkan. Sehingga usai membimbing anak-anak dan para orangtua, kami berniat memenuhi undangan tersebut. Mengetahui niat kami, sekelompok muda-mudi Jerman yang sedang di masjid saat itu tak mau ketinggalan ingin meramaikan acara. Mereka adalah mahasiswa dari Universitas Humboldt yang beberapa minggu ini selalu datang ke masjid untuk meneliti budaya dan kultur Indonesia. Akhirnya berombongan kami menuju tempat yang beberapa waktu lalu menjadi ajang penggalangan dana masjid Indonesia.

Begitu sampai di tempat, saya lihat di pojok taman sebelah kiri para lelaki berwajah Arab dan Jerman sedang asyik bermain bola voli, sebagian lagi sibuk mengipas-ngipas sate, ada juga yang membantu para muslimah berkeliling menjajakan buah mangga. Di beberapa sudut lain tampak para muslimah dalam balutan jilbab dan busana yang syar'i, duduk-duduk di atas tikar bercengkerama dengan sesama. Ada juga wajah-wajah yang sudah tak asing, sekelompok mahasiswa Humboldt itu, rupanya mereka sudah sampai duluan. Mereka tampak betah menikmati suasana, asyik mengobrol sambil menikmati makanan. Kami pun segera menghampiri sebuah stand sate yang bumbunya ternyata dibuatkan oleh sahabat saya.

Ketika hendak mengantri, sebuah tepukan lembut di bahu mengagetkan saya dan reflek saya menoleh ke sebuah arah. Seraut wajah Jerman berbalut jilbab tersenyum melihat reaksi saya lalu ia mengucapkan salam dan segera saya balas dengan hal yang serupa. Kami pun berangkulan seolah sahabat yang sudah lama tak bertemu, padahal itu adalah pertama kalinya kami berjumpa. Lalu kami berkenalan saling menyebutkan nama, alamat rumah juga masjid tempat masing-masing beraktivitas. Tak lama ia memanggil teman-temannya sesama muslimah Jerman dan kembali saya dipeluk sedemikian rupa.

Ketika hendak mengantri, sebuah tepukan lembut di bahu mengagetkan saya dan reflek saya menoleh ke sebuah arah. Seraut wajah Jerman berbalut jilbab tersenyum melihat reaksi saya lalu ia mengucapkan salam dan segera saya balas dengan hal yang serupa. Kami pun berangkulan seolah sahabat yang sudah lama tak bertemu, padahal itu adalah pertama kalinya kami berjumpa. Lalu kami berkenalan saling menyebutkan nama, alamat rumah juga masjid tempat masing-masing beraktivitas. Tak lama ia memanggil teman-temannya sesama muslimah Jerman dan kembali saya dipeluk sedemikian rupa.

Subhanallah, demikian indahnya ternyata nilai sebuah ukhuwah! Sekalipun bahasa Jerman saya masih sangat terbatas, bahkan sering gelagapan saat mereka bicara terlalu cepat untuk bisa saya tangkap maksudnya, tak menjadi penghalang untuk kami menjadi dekat. Mereka tak sungkan-sungkan menyapa dengan istilah schwester sebuah sapaan bagi saudara perempuan atau Bruder untuk saudara laki-laki. Hangatnya sikap persaudaraan yang mereka tebarkan seolah mampu menepis cuaca saat itu yang lebih dingin dari biasanya.

Sayangnya suasana siang itu tak bisa kami nikmati lebih lama. Mendung yang begitu tebal mamaksa kami segera berkemas. Saat bis yang kami tunggu datang, rintik hujan mulai turun dan bertambah deras. Ada perasaan sesal dan sedih menggantung di hati saat bis melaju di antara guyuran hujan lebat. Mengapa kami bergegas pulang meninggalkan mereka yang masih sibuk membenahi barang-barang serta dagangannya? Sebuah tanya diri tak mampu dan malu saya jawab. Wajah-wajah ramah bersahabat itu melintas kembali di pelupuk mata. Saya bayangkan bagaimana sibuknya mereka menyelamatkan semua barang dari terpaan air hujan. Pastinya sebuah pemandangan yang mengharukan. Sayang sekali saya tak bersama mereka merasakan suasana itu.

Maafkan kami saudara-saudaraku. Ruh persaudaraan yang kalian tebar begitu hangat saat menyambut kami belumlah terbalas dengan baik. Kami mesti belajar lebih dalam lagi menyelami makna persaudaraan, agar berat sama dipikul ringan sama dijinjing tak sekedar sebuah slogan.***
Saturday, June 21, 2008

Buang Sampah: Belajar Tertib dari Jepang

Masyarakat Jepang memang unik. Ciri sosio-culture-nya hampir tidak bisa ditemui di negara-negara lainnya. Komuro Noaki, seorang ilmuwan politik pernah mengeluarkan pernyataan ini dalam diskusi di salah satu stasiun TV nasional (1):
"Ada satu konsep sosiologi yang amat penting yang dapat diterapkan di setiap negara kecuali Jepang. Yaitu konsep tentang agama dan norma yang didasarkan atas kontrak. Orang Amerika dan Eropa tidak menemui kesulitan untuk memahami orang Cina atau Korea, karena konsep mereka semua berasal dari masyarakat berdasarkan kontrak."
Ini menarik. Jepang yang terkenal dengan ketaatan pada aturan ternyata tidak mendasarkan bentukan masyarakat mereka pada suatu aturan atau perjanjian. Walau begitu, tidak berarti bahwa perjanjian tidak berpengaruh penting dalam struktur sosialnya. Ungkapan "Seorang Samurai tak pernah bergeser dari janjinya" adalah contoh yang baik.



Saya tidak akan berpusing-pusing membahas sosio-culture mereka yang unik. Hanya saja, saya terkesan ketika sempat mengunjungi Fukuoka, salah satu kota di pulau Kyushu. Bahwa orang-orang seakan secara disiplin mengerjakan hal yang sama yang telah menjadi aturan bagi mereka, atau paling tidak konsensus, padahal mereka tidak dibentuk atas dasar aturan. Hal yang mereka lakukan adalah: tertib buang sampah. (penting ya? :D)

Penting, karena sampah di kontrakanku udah menumpuk dan banyak dan belum dibuang, dan.. eh.. ehm, maaf. Penting karena hal yang besar dimulai dari hal yang kecil (halah). Iya, betul itu. Saya merasakan sedikit kecewa ketika pertama kali menginjakkan kaki kembali ke tanah air waktu itu. Yang jelas, perkara tidak tertib membuang sampah merupakan salah satu indikasi bahwa: 1) malas, 2) jorok, 3) berantakan, 4) tidak rapi, 5) tidak indah, 6) silakan sebut sendiri.

Yuk, mari kita mulai biasakan tertib membuang sampah. Beberapa cara agar membuang sampah bisa tertib adalah: pisahkan sampah basah, sampah kering, kering, kaleng, kertas, dan plastik. Lalu rutin buang sampah, jangan biarkan sampah menumpuk. Terakhir minimalisir hal-hal yang mengakibatkan sampah, kalau perlu beli makan diluar beli saja, tidak usah dibungkus.

Sebagai gambaran, kalo di Jepang, tiap jenis sampah dipisah plastiknya. Hari buang sampahnya pun diatur, hari ini buang sampah kaleng, hari ini sampah basah/dapur, dll. Dan plastik untuk buang sampah nya pun harus beli, alias bayar. Jadi kalo orang buang sampah malah bayar, kalo buang sampah sembarangan akan didenda. Kalau di kita, walau dipisah tetap saja akhirnya dicampur. Kasi tahu aja, "Mang, ini sampah udah saya pisah, jadi lebih enak kalo ada yang mau daur ulang, apa mungut". Hehehehe ^_^.

Yah, nilai-nilai sosial yang diusung warga suatu negara adalah hasil dari proses evolusi bertahap, yang tak terbilang banyaknya. Walau demikian, bukan tidak mungkin akan berubah dan berubah menjadi baik. Lihatlah komentar salah seorang anak bangsa mengomentari bangasnya sendiri. Jadi ingat tulisan saya dulu. Bangsa bisa berubah, sudah banyak orang baiknya yang mau mendukung perubahan. Hanya belum sampai critical mass. So, apakah kita termasuk satu dari sekian banyak orang yang menambah critical mass itu? (ya2n)
Monday, June 16, 2008

Rikaichan: Firefox Add-ons

Last night, someone says to me:

> Okottenai yo! Tada shiritai kara!
> Kizuite yo!

Hehe, sambil manggut-manggut mengira-ira maksudnya... tetep ga ngerti. Lalu saya tanya ke Lakso yang kuharapkan sudah jadi senpai dalam hal nihonggo-nya. Teuteup...

> So, iki artine opo? -> kizuite
> Walah2.. ga salah ta takon nang aq.. (ketoke maksude iki merendah yo? hahaha)
> kata dasar-e opo? yen ra salah.. kizu kuwi artine luka

Haha, so, aku dan banyak lupa, ga ada les lagi euy sekarang! Akhirnya si Lakso ngasih aku Rikaichan. Awalnya kupikira apa.. Rikaichan? Kirain temennya Lakso, haha. Ternyata add-ons nya Firefox. Jadi ceritanya itu kamus jepang (jepang-inggris, jepang-jerman, dll). Lumayan, kamunya di pasang di Firefox, jadi ga perlu instal2 program kamus macam JWPCE, Jlookup, ato sejenisnya. Secara tiap hari kan aku bukan firefox, hehehe. Thanks So!

Kalau mau instal Rikaichan, buka link berikut, atau cari aja di google dengan keywor Rikaichan firefox. Oiya, jangan lupa instal dulu dictionarinya disini. :)

Habis instal kusearch kata kizu, atau きず. Laptop ku japanese, windowsnya pun japanese, jadi gampang kalo mo search kata tertantu, tinggal pencet tomol ini nih (hehe, ga keliatan ya :P). Yup, kata yg keluar setelah search ternyata:

(n) wound; injury; cut; gash; bruise; scratch; hurt; scar; chip; crack; scratch; (emotional) hurt; hurt feelings; weak point; flaw; (P) -

> Boku, anata ni kuzutsukure dasuka?
> Cigau, ne?
> zenzen
> nara kizutsukute, gomen na!
> un.. betsuni
> Yokatta

^_^ (ya2n)

Sunday, June 15, 2008

Melawan Stress Dengan Makanan

Makanan sangat berperan membantu tubuh menghadapi stress? Tentu saja. Apalagi makanan favorit. Tapi tidak semua makanan dapat membantu menghadapi stress. Pada saat stress, makanan yang tadinya berfungsi normal dapat saja mengganggu pencernaan atau rasa panas pada perut. Yang harus dihindari adalah makanan berlemak, karena akan menyulitkan pencernaan, dan makanan pedas atau terlalu berbumbu karena bisa menimbulkan masalah-masalah pencernaan. Alkohol (kalo ini haram), minuman berkafein, dan rokok juga harus dihindari karena dapat menimbulkan perasaan gelisah.

Makanan sangat berperan membantu tubuh menghadapi stress? Tentu saja. Stress dapat menghabiskan persediaan glukosa tubuh yang merupakan bahan bakar utama. Sebagai konsekuensi, perlu karbohidrat ekstra. Tapi tidak semua orang memiliki respon terhadap stress (fight of response) yang sama. Ada orang yang merasa lapar dan ingin makan saat mengalami stress (seperti saya :D), tetapi sebaliknya ada yang juga kehilangan nafsu makan sehingga tubuh kekurangan zat gizi.

Berikut beberapa tips menghadapi stress dengan makanan:
1. Mengkonsumsi makanan kaya protein sejenis unggas.
Menurut Dr. Rosch, mengkonsumsi makanan kaya protein seperti kalkun, ayam, makanan laut, dan kacang-kacangan yang mengandung asam amino tryptophan akan meningkatkan produksi serotinin. Rendahnya serotinin dalam dapat memicu terjadinya stress.

2. Memenuhi kebutuhan kalsium.
Menurut Alexander MD, Direktur Pusat Sakit Kepala NY, magnesium akan membantu produksi serotinin. Sumber yang terbaik berasal dari bayam, beberapa sereal, dan gandum.

3. Makanlah ekstra buah-buahan dan sayur-sayuran.
Berfungsi sebagai anti oksidan yang dapat melawan radikal bebas. Sumber buah-buahan yang kaya vitamin C diantaranya jambu biji, jeruk, mangga, dan pepaya. Sedangkan sumber beta karoten diantaranya brokoli, wortel, belimbing, dan bayam.

4. Minumlah delapan gelas air sehari.
Saat stress, kita cenderung berkeringat lebih dari biasanya.

Dari sekian banyak cara, cuma dua hal yang biasanya saya lakukan: makan buah-buahan ekstra dan munum banyak air. Apalagi kalo pas stress beli es shanghai, banyak buahnya seger, dan menyegarkan. Kalo buah-buahan justru seringnya makan buah pear. Yah, bagaimanapun juga tiap orang memiliki cara sendiri-sendiri untuk menghadapi stress. :) (ya2n)

Sumber: Hidup Sehati Bagi Eksekutif, kumpulan artikel kesehatan Kompas, edisi 5, 2000
Gambar diambil dari sini dan sini.

Saturday, June 14, 2008

Kenali Dulu Baru Lawan

Saya ingat betul ketika beberapa waktu lalu, stasiun radio berita RRI menyiarkan diskusi tentang pemberantasan korupsi. Satu kalimat yang menarik perhatian: kenali dulu baru lawan. Apa maknanya? Mungkin kita semua telah mengenal korupsi, atau paling tidak merasa mengenal. Tapi apakah kita telah benar-benar mengenal? Lalu mengapa korupsi di negeri ini masih saja mengakar budaya, padahal hampir semua kalangan sudah setuju bahwa korupsi harus diberantas?

Jawabannya adalah kita mungkin belum benar-benar mengenal. Tidak perlu lah jargon-jargon berantas korupsi, adili koruptor, ganyang ini ganyang itu. "Lha korupsi itu apa?" kata mbah. Kita sendiri secara tidak sadar masih melestarikan budaya korupsi.

Sebagai contoh, seorang bendahara kesiswaan SMA membuat proposal anggaran 10 juta untuk sebuah acara. Padalah uang yang dialokasikan untuk acara tersebut sebenarnya hanya 9 juta. Alasannya sisa 1 juta nya akan dipakai untuk acara pembubaran panitia, makan-makan, dll. Apakah ini termasuk bentuk korupsi? Tentu saja.

Contoh yang lebih dekat dan banyak dilakukan, baik sadar ataupun tidak adalah penyelewengan SPJ, Surat Perjalanan Dinas, atau sejenisnya lah. Misalnya seorang pegawai pemerintah akan mengikuti pelatihan kepegawaian di Bandung. Berhubung anaknya sedang sekolah di IPDN, dia menitipkan tanda tangan kepada rekannya sekedar agar mendapat jatah uang, dan bisa menengok anaknya dengan gratis. Setujukan Anda ini termasuk korupsi? Kalau tidak setuju, jangan lah buru-buru katakan berantas korupsi. Kenali dulu korupsi.

Seperti kata bang Napi, korupsi ada kalau ada N dan K. Rumusnya: Niat dan Kesempatan. Kesempatan bisa dihilangkan dengan hukum. Akan tetapi niat, hanya bisa dihilangkan oleh masing-masing orang. Dan niat adalah hasil dari karakter seseorang. Karaketer susah dihilangkan kalau sudah membudaya. Pelu kesadaran dan kerja keras untuk mengubahnya.

Kita perlu mengenalkan sadar korupsi sedari dini, sedari anak-anak. Apa itu korupsi, bagaimana bahaya korupsi. Agar korupsi tidak lagi mengakar budaya pada generasi kita kelak. "Kenali dulu koupsi, baru lawan!" :) (ya2n)

Gambar diambil dari sini.

Budaya Latah-Latahan

Sedikit latah-latahan. Gara-gara BBM naik, muncul berbagai komentar baik negatif maupun positif, baik mendukung maupung menolak. Tapi seperti biasanya, hanya latah-latahan. Paling lama bertahan sebulan. Saat ada dedas-desus BBM akan naik, kontan warga langsung menyerbu POM bensin terdekat. Tak paduli walau sampai mengantri malam-malam hanya sekedar untuk beli 10 liter bensin, bahkan dua tiga liter saja. Apakah setelah harga benar-benar naik mereka tidak membeli bensin lagi? Tidak juga, tetap saja membeli. Latah saja.

Munculnya isu krisis energi dunia menyebabkan penelitian energi alternatif sedang banyak digandrungi. Tak hanya negara maju, di negara kita pun begitu. Lalu beberapa waktu lalu muncul sosok yang mengaku bisa membuat menciptakan alat penghasil energi dengan bahan baku air. Sampai-sampai dengan penuh semangat pemerintah mendukung penelitiannya, bahkan mau dipamerkan segala di ICT Expo 2008 segala, ajang pameran Teknologi Informasi terbesar di Indonesia. Bisa dibayangkan, industri high-tech disandingkan dengan karya irrasional. Dan terbukti, teknologi yang disebut-sebut sebagai blue-energi itu hanya isapan jempol belaka. Latah saja.

Itu sedikit dari banyak contoh budaya latah di kita. Kita sering latah. Latah bisa baik, bisa buruk. Yang jelas, hanya hangat-hangat tahi ayam saja, tentu tidak akan merubah apapun. Yah, konsistensi dan jati diri memang mahal harganya. Dan barang mahal sudah selayaknya dicari. :) (ya2n)

Monday, April 21, 2008

Tadabbur Al-Qur'an

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisa:82)

Pernahkah ketika kita membaca Al-Qur'an lalu tiba-tiba berhenti... berhenti sejenak... untuk men-tadabburi-nya...


Diantara tanda men-tadaburi Al-Qur'an adalah menyatunya hati dan pikiran ketika membacanya, dan menangis karena mengetahui keagungan dan kebenaran isi dikandungnya. Dan inti dari semua itu adalah hati. Karena dengan hati lah kita memahami Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala,

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. " (Al-Hajj:46)

"Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. " (Al-Kahfi:57)

Hati adalah layaknya raja bagi tubuh kita. Apabila baik hati itu, maka baik pula seluruh jasadnya, apabila buruk hati itu, maka buruk pula lah seluruh jasadnya. Ibrahim bin Adham, seorang ulama di zaman Imam Ahmad mengatakan salah satu tanda hati telah mati adalah "Engkau membaca Al-Qur'an tetapi tidak mengamalkannya."

Allah lah yang Berkuasa untuk menutup atau membukakan hati kita, seperti firman-Nya,

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." (Al-Anfal:24)

Maka kita perlu berhati-hati, jangan-jangan Allah subhanahu wa ta'ala menutup hati kita lantaran kita tidak mau memenuhi panggilan-Nya. Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii 'alaa diinika.

Berkaitan dengan tadabbur Al-Qur'an, salah satu kuncinya adalah cinta Al-Qur'an. Dr. Kholid berkata dalam Mafaatihu Tadabburil Qur'an Wannajaah Fiil Hayaah, ada beberapa tanda seseorang cinta kepada Al-Qur'an, diantaranya adalah:

1. Senang bertemu dengan Al-Qur'an.
2. Bisa duduk berlama-lama dalam berinteraksi dengan Al Qur'an tanpa rasa bosan/jenuh.
3. Rindu setelah lama tidak berinteraksi dikarenakan ada hal yang menghalangi, mengharap dapat kembali berinteraksi dan berusaha untuk menghilangkan penghalang tersebut.
4.
Banya diskusi mengenai alqur'an, Yakin terhadap petunjuk/arahan yang terdapat dalam al 'qur'an, serta Merujuk kepada Al'Qur'an terkait permasalahan hidup baik itu masalah kecil maupun besar.
5.
Mentaati Al-qur'an, perintah dan larangannya.

(blm selesei, dikit lagi :))