Waktu donor darah ke PMI Bandung kemarin, tiba-tiba saya diajak ngobrol sama dokternya waktu periksa tekanan darah, "Mas, tahu nggak, berapa biaya mengirimkan donor darah ke Palestina?". "Waduh, mana saya tahu, dok. "Biayanya 1 kantongnya sekitar 3 juta sampai 4 juta rupiah. Mahal nggak tuh?". Mahal, dok. "Kalau sudah begitu, mubadzir nggak kira-kira itu?".
"Heh? Hmm.. ya nggak mubadzir lah, dok".
"Kenapa?", tanya dia. "Bayangkan saja, itu hanya satu kantong, bagaimana kalau ratusan atau ribuan kantong? Sudah habis anggarannya, mubadzir kan?".
Hmm... Gitu ya.
"Ini hanya ngobrol-ngobrol aja nih, sesama orang nggak ngerti.", tambahnya, "Kalo sudah gitu, hukumnya gimana? Apakah makruh, jadi haram?".
"Ya, nggak lah, dok, kalo jadi haram.", tukasku.
"Lho, iya sekarang bagaimana, kita mendahulukan tempat sendiri atau Palestina?".
"Hmm.. Sebenarnya Palestina butuh bantuan kita nggak sih dok?."
"Ya nggak tahu juga itu riilnya bagaimana, tapi ya namanya perang ya yang jelas butuh".
"Tapi memang sih dok, kalau ada tetangga kita yang sedang butuh sekali, ya jelas didahulukan didekat sini. Saya tahu sendiri dok, ibu pernah transfusi darah, dan waktu itu katanya PMI sedang kehabisan stok. Kalau sudah begitu, prioritas disini."
Dokter manggut-manggut.
"Memang disini sekarang sedang kehabisan stok dok?"
"Oooo.. tentu saja. Disini setiap hari kehabisan stok?."
Masya Allah. Begitu, ya. Dengan semangat membara kuceletuk sambil bercanda, "Kalau begitu saya boleh donor tiap hari ya dok??".
"Haha, boleh aja (bercanda juga-ed), mau kusedot berapa kali hari ini sampai kering?".
Hahaha, dokter bisa ajah. Yup, jadi semangat. Kalau memang bisa donor darah sesering mungkin, mengapa tidak? Toh darahku tidak akan habis sampai kering seperti kata dokter. Donor paling cepet jaraknya dalam 70 hari, katanya. Hmm... Insya Allah, dok. Yuk, mari kita biasakan donor darah, peduli sesama. Oiya, PMI tempat donor darah untuk Bandung ada di jalan Aceh, dekan GOR Siliwangi.
ps. maaf, gambarnya nggak kreatif, hehehe, itu gambar peta jalan Sumatera, kuambil dari sini.
Donor Darah ke Palestine, Mubadzir?
Senin, 19 Januari 2009 at 09:58 Posted under Label: My Life
Kisah Sebuah Negeri yang Terluka
at 08:27 Posted under Label: rehat
Palestine, speechless rasanya, marah, sakit, geram, geregetan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin itu kata-kata yang pas untuk menggambarkan keadaan ummat Muslim dunia saat ini. Melihat saudara-saudara kita dikepung, diblokade, lalu digempur dari udara, darat, dan laut. Tak peduli apakah pejuang Hamas, warga sipil, ibu-ibu, ataukah anak-anak, semua dibunuh. Tak peduli, apakah markas militer, rumah sakit, atau Masjid, semua digempur.
Ahad kemarin 18/01, ada acara kesaksian seorang ketua relawan BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia), atau yang lebih dikenal dengan MERC di Masjid Salman (Kampus ITB). Banyak hal yang dia ceritakan. Dari perjuangannya untuk menyalurkan bantuan ke Gaza.
Untuk memberikan pertolongan saja sangat sulit, karena Gaza diblokade Israel. Menurut dia, ada dua jalan yang bisa mereka tempuh. Pertama, lewat Yordan, masuk ke Ramalah, lewat Yerusallem. Kedua, lewat Rafah, perbatasan Mesir-Palestine.
Dari jalan pertama, diputuskan bantuan dikirimkan lewat Yayasan raja Yordan. Tidak bisa langsung ke Gaza. Mereka harus memastikan betul-betul bahwa bantuan bisa sampai tujuan. Urusan mereka diperlancar dengan disertainya rombongan menteri luar negeri Republik Indonesia. Mereka mengungjungi gudang tempat penyimpanan obat-obatan, makanan, dan barang bantuan lainnya.
Selain lewat Yordan, mereka berencana untuk mengirim langsung BSMI ke Gaza lewar Rafah. PBB, dalam hal ini sebagai lembaga internasional tertinggi ikut campur dalam urusan penyaluran bantuan ke Gaza. Mereka menyarankan tim BSMI untuk memberikan bantuan ke komite PBB untuk penyaluran banutan Palestine. BSMI menolak. Mereka tidak ingin bantuan mengendap lebih lama lagi.
Sekali lagi, dengan bantuan tim menteri luar negeri, pak Hasan Wirayuda, mereka menemui pemerintah Mesir setempat. Lalu mendapatkan izin untuk memasuki Rafah, perbatasan Mesir-Palestine. Mereka lalu membeli Ambulans untuk merawat para korban Palestine yang dilarikan ke Rafah. Mereka berhasil menyalurkan bantuan itu lewat Rafah.
Ada satu catatan penting yang disampaikan beliau, bahwa berbeda, antara para pemerintah Liga Arab dengan masyarakat Arab (Timur Tengah). Walau Mesir dan Yordan, misalnya, terkesan tidak proaktif terhadap masalah Palestine, tapi warga mereka sangat bersemangat dan ber-api-api untuk membela saudara-saudara mereka di Palestine. Allahumma a'izzal Islaama wal Muslimiin.
Teringat akan sebuah nasyid yang pernah kami gubah waktu masa-masa SMA dulu. Lirik ini dikarang oleh Tyas. Karena, group nasyid kami, Iqoss, keburu bubar, nasyid ini belum sempat kami rekam dalam album. Tapi Alhamdulillah belakangan Fathul Jihad mengalbumkannya. Dan disertakan dalam buku "Jalan Cinta Para Pejuang".
Kisah sebuah negeri yang terluka
Dicabik nafsu angkara murka
Kisah sebuah negeri yang berduka
Dalam cengkeraman durjana
Namun janjinya tak akan pernah sirna
Walau berlalu seribu masa
Nisacaya akan terbit cahaya
Dalam kelamnya dunia
Filistine .. Filistine .. Filistine ..
Filistine .. Filistine .. Filistine ..
Dunia Islam kini tengah terbakar
Padamkan sejauh jangkauan tangan
Biarkan asa meraih kejayaan
Untuk kemenangan ... atau kesyahidan
IQOSS (terinspirasi dari Izzuddin Al-Qossam, brigade mujahid Hamas).
Penasaran dengan reaksi di berbagai negara, saya tanya temen-temenku di luar. Komentar temenku di Jepang, "Jepang nggak peduli ama berita-berita begituan, mereka lebih seneng berita makan-makan dan lelucon". Komentar temenku di Amrik, "Disini jadi berita besar, tapi beritanya adalah, bahwa Amerika mendukung agresi Israel". Tapi masyarakat Amirk di Virginia tidak terlalu rasis. Mereka toleran, berbeda dengan pemerintahnya. Walau begitu, di sebagian negara bagian lainnya rasisme itu ada. Profesor temenku sendiri seorang Yahudi. Kata dia, Yahudi moderat. Banyak mahasiswanya yang beragama Islam, bahkan dua orang dosen adalah Islam. Yah, paling tidak mereka, masyarakat Amerika akan sadar, lambat ataupun cepat, bahwa teroris sebenarnya bukanlah orang Islam, teroris sebenarnya adalah Israel dan militer Amerika.
Ahad kemarin 18/01, ada acara kesaksian seorang ketua relawan BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia), atau yang lebih dikenal dengan MERC di Masjid Salman (Kampus ITB). Banyak hal yang dia ceritakan. Dari perjuangannya untuk menyalurkan bantuan ke Gaza.
Untuk memberikan pertolongan saja sangat sulit, karena Gaza diblokade Israel. Menurut dia, ada dua jalan yang bisa mereka tempuh. Pertama, lewat Yordan, masuk ke Ramalah, lewat Yerusallem. Kedua, lewat Rafah, perbatasan Mesir-Palestine.
Dari jalan pertama, diputuskan bantuan dikirimkan lewat Yayasan raja Yordan. Tidak bisa langsung ke Gaza. Mereka harus memastikan betul-betul bahwa bantuan bisa sampai tujuan. Urusan mereka diperlancar dengan disertainya rombongan menteri luar negeri Republik Indonesia. Mereka mengungjungi gudang tempat penyimpanan obat-obatan, makanan, dan barang bantuan lainnya.
Selain lewat Yordan, mereka berencana untuk mengirim langsung BSMI ke Gaza lewar Rafah. PBB, dalam hal ini sebagai lembaga internasional tertinggi ikut campur dalam urusan penyaluran bantuan ke Gaza. Mereka menyarankan tim BSMI untuk memberikan bantuan ke komite PBB untuk penyaluran banutan Palestine. BSMI menolak. Mereka tidak ingin bantuan mengendap lebih lama lagi.
Sekali lagi, dengan bantuan tim menteri luar negeri, pak Hasan Wirayuda, mereka menemui pemerintah Mesir setempat. Lalu mendapatkan izin untuk memasuki Rafah, perbatasan Mesir-Palestine. Mereka lalu membeli Ambulans untuk merawat para korban Palestine yang dilarikan ke Rafah. Mereka berhasil menyalurkan bantuan itu lewat Rafah.
Ada satu catatan penting yang disampaikan beliau, bahwa berbeda, antara para pemerintah Liga Arab dengan masyarakat Arab (Timur Tengah). Walau Mesir dan Yordan, misalnya, terkesan tidak proaktif terhadap masalah Palestine, tapi warga mereka sangat bersemangat dan ber-api-api untuk membela saudara-saudara mereka di Palestine. Allahumma a'izzal Islaama wal Muslimiin.
Teringat akan sebuah nasyid yang pernah kami gubah waktu masa-masa SMA dulu. Lirik ini dikarang oleh Tyas. Karena, group nasyid kami, Iqoss, keburu bubar, nasyid ini belum sempat kami rekam dalam album. Tapi Alhamdulillah belakangan Fathul Jihad mengalbumkannya. Dan disertakan dalam buku "Jalan Cinta Para Pejuang".
Kisah sebuah negeri yang terluka
Dicabik nafsu angkara murka
Kisah sebuah negeri yang berduka
Dalam cengkeraman durjana
Namun janjinya tak akan pernah sirna
Walau berlalu seribu masa
Nisacaya akan terbit cahaya
Dalam kelamnya dunia
Filistine .. Filistine .. Filistine ..
Filistine .. Filistine .. Filistine ..
Dunia Islam kini tengah terbakar
Padamkan sejauh jangkauan tangan
Biarkan asa meraih kejayaan
Untuk kemenangan ... atau kesyahidan
IQOSS (terinspirasi dari Izzuddin Al-Qossam, brigade mujahid Hamas).
Penasaran dengan reaksi di berbagai negara, saya tanya temen-temenku di luar. Komentar temenku di Jepang, "Jepang nggak peduli ama berita-berita begituan, mereka lebih seneng berita makan-makan dan lelucon". Komentar temenku di Amrik, "Disini jadi berita besar, tapi beritanya adalah, bahwa Amerika mendukung agresi Israel". Tapi masyarakat Amirk di Virginia tidak terlalu rasis. Mereka toleran, berbeda dengan pemerintahnya. Walau begitu, di sebagian negara bagian lainnya rasisme itu ada. Profesor temenku sendiri seorang Yahudi. Kata dia, Yahudi moderat. Banyak mahasiswanya yang beragama Islam, bahkan dua orang dosen adalah Islam. Yah, paling tidak mereka, masyarakat Amerika akan sadar, lambat ataupun cepat, bahwa teroris sebenarnya bukanlah orang Islam, teroris sebenarnya adalah Israel dan militer Amerika.
Langgan:
Entri (Atom)
Template by Oriol Sanchez | blogger template by blog forum