Seperti biasa, dengan ciri khas hangat-hangat-tahi-ayam-nya, publik mulai rame meperbincangkan pemilu 2009. Beberapa calon sudah memberikan sinyal ingin maju dalam pilpres mendatang seperti SBY, Sutiyoso, Megawati, dan Amien Rais. Saya ini bukan ahli politik yang akan mengomentari mereka, nggak menarik, cuma saya tertarik dengan apa yang diucapkan Pak Amien Rais beberapa waktu lalu saat menggelar acara di kota Padang, “Kalau nggak ada calon-calon muda, terpaksa prajurit tua turun gunung”.
Saya sendiri tidak tahu kenapa nggak ada capres dari kalangan pemuda. Apa sih batasan seseorang dikatakan pemuda? 20 tahun? 30 tahun? 40 tahun?? 50 tahun??? 60 tahun???? Yang jelas, saya melihat dari satu sisi, adanya semangat untuk berubah/dinamis. Orang tua cenderung berkeinginan untuk tetap pada kondisi tertentu karena sudah merasa nyaman. Orang muda lebih petualang, sehingga berpikiran kalau ada yang lebih baik, kenapa nggak dicoba.
Sekarang sudah saatnya para pemuda bangsa ikut andil. Bukan hanya sebagai pendobrak yang siap kapan saja untuk menurunkan penguasa, tapi lebih dari itu, menjadi tonggak dalam pemerintahan. Dan saya katakan (radikal-radikalan lagi =D) ganti semua “orang tua” dengan “orang muda”, bahkan sampai ke akar-akarnya. Kalau perlu pensiunkan semua “orang tua”, tentu dengan jaminan uang pensiun yang layak dijadikan tumpuan hidup.
Bukan tanpa alasan. Dari sekian banyak cerita teman-teman saya yang bekerja di kantor pemerintah, hampir semuanya mengeluh akan ketidakidealan keadaan seperti yang selalu mereka gembar-gemborkan saat mahasiswa, baik melalui demo, orasi, dan sebagainya (kecuali yang sejak mahasiswa pun sudah “tidak ideal” ^^). Betapa tidak, masuk ke lingkungan pemerintah, mereka terikat dengan sistem dan culture yang tidak kondusif.
Sebagai contoh, ada seorang teman yang masuk ke Bappeda*. Dia mengeluh karena mendapat tugas untuk membuat proposal peminjaman utang luar negeri, yang selama ini menjadi bahan pereemoannya. Ada lagi teman yang mengeluh karena ketidak profesionalan menajemen, dia yang notabene lulusan teknik ditempatkan pada pos sosial. Solusinya sudah dicari, karena sudah menjadi sistem "tua" yang membudaya.
Saat ini kita butuh sosok pemuda yang mau berubah, dinamis, bergerak. Paling tidak kita butuh sosok yang mampu menjembatani ide-ide perubahan. Mengakomodasi ide-ide brilian penuh tantangan. Nyatanya, kebanyakan orang baik akan didepak dari peredaran sebelum masuk ke tataran manajer atau pengambil kebijakan.
Sebagai ilustratsi, ada beberapa orang "tua" dengan budaya korupsi dalam posisi penting pada sebuah perusahaan atau organisasi. Lalu datang seorang yang "bersih" ingin merubah budaya korupsi itu. Hal yang terjadi kemudian, dan ini sudah menjadi kewajaran umum, adalah orang tersebut akan didepak keluar. "Enak aja!". Lambat laun, idelalisme yang dijunjung saat masih "muda" akan ikut larut dalam alunan budaya "tua".
Kalau mau cepat (radikal), ganti semua "orang tua" dengan "pemuda". Baik itu presiden, para pejabat, birokrat, dan yang lainnya. Apakah kita tidak bosan melihat mereka yang adem ayem, atau yang senyam senyum seperti boneka, atau yang asal ceplas ceplos, atau apalah saya kurang bisa menggambarkan. Atas semua itu, semoga idealisme pamuda masih tersisa di negeri ini, keep moving forward, to a better place.
-to be concluded-
*Lengser = turun, keprabon = kekuasaan. Kata yang berasal dari bahasa jawa ini mulai dikenal saat Pak Harto turun tahta tahun 1998.
*bappeda = Badan Perencanaan Pembanguunan Daerah