Sunday, October 26, 2008

Menulis Lagi

Menulis bagi saya adalah salah satu cara untuk refreshing sekaligus latihan otak. Seperti makanan dan olah raga bagi tubuh, menulis bisa membuat otak menjadi semakin sehat.

Mengapa? Pertama, menulis menuntut orang untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya, dan ini tidak bisa dilakukan dengan mudah kecuali orang tersebut memahami betul ihwal apa yang sedang dipikirkannya. Orang akan terstimulus untuk mencoba mengendapkan pikiran, merenungi, dan menata kembali ruang-ruang ide yang berserakan menjadi sebuah gagasan yang mantap. Dengan begini otak kita akan terlatih untuk terbiasa berfikir, merenungi, lalu menyusun semuanya menjadi sebuah gagasan yang jelas dan tersusun rapi.

Kedua, menulis akan melatih kemampuan bahasa kita. Ketika sebuah gagasan sudah tersusun rapi di benak kita, maka saatnya memilih kata yang tepat untuk mengejawantahkannya dalam tulisan. Ini memerlukan ketrampilan dan jam terbang yang tinggi. Jujur saja, nilai psikologi saya untuk pemilihan kata, kosakata, dan semacamya tergolong paling rendah. Dan jujur saja, setelah sekian lama mencoba, tetap pemilihan kata ini yang paling menghalangi saya untuk menulis.

Mungkin seperti melukis, ada orang yang berbakat, ada orang yang tidak berbakat. Terlepas dari perdebatan akan adanya bakat atau tidak, yang jelas semuanya bisa dilatih, dan endurance seseorang untuk terus mencoba (jam terbang) yang akan menjawabnya. Satu tips untuk Anda dan kita semua. Biarkan tulisan mengalir apa adanya, jaga agar airnya tetap mengalir dan tidak berlama-lama tersendat, lalu jika aliran itu kurang indah kita benahi diakhir nanti. Yah, itulah mengapa setiap penulis, profesional sekalipun, tetap membutuhkan seoarang editor. Hehe.

Eits, kok malah ngelantur kemana-mana. OK saya simpulkan, bahwa menulis juga menjadi latihan kemampuan bahasa atau kosakata, dan konon "latihan" ini sangat terasa pengaruhnya bagi otak kita, seperti fitnes bagi kebugaran tubuh.

Ketiga, menulis adalah refleksi dari pembelajaran kita. Seseorang akan menulis apa yang dia ketahui, lebih spesifik lagi apa yang dia baca. Ya, menulis dan membaca seperti "tumbu ketemu tutup" (tong dengan tutupnya), sangat erat hubungannya. Ini saya alami sendiri. Ketika kita terlalu disibukkan dengan rutinitas sehari-hari kemudia jarang membaca, untuk memulai menulis jadi terasa sulit. Oleh karena itu, dengan keinginan untuk menulis akan mendorong kita untuk mempunyai keinginan banyak-banyak membaca juga.

Tentu dibalik kesemua manfaat positif menulis, ada sekian banyak manfaat-manfaat lainnya. Salah satu contoh, menulis sebagai agen perubahan, perubahan kepada pemikiran yang lebih baik. Yah, tapi bolehlah dalam tulisan ini saya membatasi aspek tulis-menulis sebagai sarana refreshing dan latihan otak saja.

Media Menulis.

Blog sebagai salah satu media tulis, sampai saat ini menurut saya masih menjadi media yang paling efektif bagi pemula. Saya sendiri tidak dekat dengan dunia para penulis, apakah mereka juga memanfaatkan media semaca blog juga? Saya pikir iya.

Nah, satu kalimat penutup. Pengalaman saya, sebagai penulis amatiran, jangan lama-lama menyelesaikan tulisan. Tulis-menulis bagi saya identik dengan mood juga. Kecuali orang yang pandai memanage otak dan pikirannya sehingga bisa menjaga mood, maka segeralah selesaikan tulisan, karena kita tidak tahu kapan "bad-mood" itu akan muncul. Sekian dari saya, enjoy.
Wednesday, August 6, 2008

I am

Highly Motivated! ^o^
Sunday, July 13, 2008

Bunga Alamanda, The Beauty of Flower

Bunga Alamanda? Hehe, maksudnya "bunga yang ada di Alamanda". Yup, foto-foto kuambil di Alamanda, pagi-pagi hari Ahad, sambil keliling-keliling naik sepeda menikmati indahnya cuaca pagi hari. Subhanallah. Maha Suci Engkau, yang telah menciptakan dunia dan segala isinya dengan segala keindahannya. (ya2n)


Saturday, July 12, 2008

S5 IS

Yaaahhhh.. akhirnya beli S5IS juga. Lumayan, pas harga lagi turun. Harus kurawat biar bisa awet sampe 10 tahun (haha, berlebihan banget ga sih?). Fitur yang paling saya suka itu optical zoom 12x, full manual setting: seperti manual focus, shutter speed dan apperture, dan juga vari-angle 2.5" LCD yang bisa diputar2 kesegala arah, dan kalo mau bisa nambah lensa dan flush, dan tentu saja: Image Stabilizer (IS). Yah, tentu masih terbatas pada kamera digital biasa, bukan SLR. Lagian saya kan masih amatiran.

Tapi kalo dibanding kamera SLR, yang harganya bisa puluhan juta (apalagi yang udah pake digital SLR, baca manualnya aja sampe mabok), kamera ini masih best-buy lah untuk yang budgetnya minim. Udah bisa bergaya pro juga, haha. Kalo mau lihat harga-harga di distibutor, ada disini, cari aja bagian kamera digital. Eniwei, hobby baru lagi nih, hehe, jepret-jepret ^o^. Moga-moga ada manfaatnya. (ya2n)
Tuesday, July 1, 2008

Karena Islam Menginginkan Perubahan

Sahabat Rasulullah bagaikan mutiara di tengah gurun pasir yang kering dan keras. Mereka adalah kehidupan ditengah-tengah kematian. Kematian ideologi, kematian pemikiran, kematian watak, dimana hampir semua masyarakat Arab waktu itu adalah para penyembah berhala. Mereka menjadikan sesembahan sesuatu yang bahkan mereka buat sendiri. Lalu Islam datang menghidupkan dan memberikan cahaya kepada mereka yang bertakwa.
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu,.. " (Al-Anfal:24).
Seperti sudah selayaknya, setiap kebaikan akan selalu dihadang oleh keburukan. Tak sedikit para shahabat mendapat halangan dan rintangan dari musuh-musuh mereka, baik berupa pisikis: cacian, cemoohan, ataupun fisik: pemukulan, penganiyaan, dan sebagainya. Apa yang membuat mereka tetap bertahan?

Satu hal yang menyebabkan mereka selalu bertahan adalah: kesadaran penuh bahwa Islam menginginkan perubahan. Islam mengingingkan perubahan dari kehidupan jahiliyyah ke kehidupan Islam penuh berkah. Islam menginkan perubahan dari keburukan ke kabaikan. Islam menginginkan perubahan dari kegelapan kepada cahaya. Mari kita perhatikan bagaimana Islam mengubah paradigma jahiliyah.



By Khalid Yasin. A lecture in which Shaykh Khalid Yasin focuses primarily on the youth, taking them back to the heart of Islam - believing in the oneness of God and fearing Him wherever they may be. Khalid Yasin also advises the youth on ways to improve themselves and possibly become the defenders of Islam. The lecture also includes a short talk from World Champion Boxer Hajj Nasim Hamed.

Download the lecture here or visit this website.

Dahulu, orang yang disebut kaya adalah orang yang memiliki banyak harta. Setelah datang Islam, orang yang disebut kaya adalah orang yang kaya hati. Saat ini kita melihat betapa banyak orang yang berharta tapi hidupnya tidak bahagia. Kuncinya adalah satu: syukur. Begitulah Islam merubah paradigma tentang kaya.

Dahulu, orang yang disebut kuat adalah orang yang jagoan atau jago bertarung. Lihatlah Islam memandang orang yang kuat, orang kuat adalah yang bisa menahan nafsu. Iya, karena dorongan nafsu adalah yang paling kuat dan susah dibendung. Pernah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, ketika sedang berada dalam sebuah medan peperangan, bertemu seorang musuh lalu Ali mampu mengalahkannya, ketika akan menebasnya musuh tersebut meludahi Ali. Apa yang terjadi kemudian? Ali mengurungkan niatnya menebas, karena khawatir tebasannya adalah tebasan karena nafsu amarahnya, bukan karena membela agama Allah. Mari kita renungkan, apakah kita merasa kuat dengan rutinnya fitnes dan olahraga sehingga tubuh jadi terlihat kekar dan bugar, tapi ketika bangun pagi untuk melaksanakan sholat shubuh saja tidak kuat? Bagaimapa pula bangun untuk memenuhi panggilan jihad? Mashaallah!

Dahulu, orang mendefinisikan nikmat adalah bersenang-senang, makan makanan lezat dan sebagainya. Tapi perhatikan apa yang dikatakan Ibnul Qayyim Al-Jauzi, seorang pakar masalah hati: "Kenikmatan adalah ketika engkau mengenal Allah (ma'rifatullah), dan mencintai Allah (mahabatullah)". Ya, Allah lah yang memegang hati setiap insan. Allah pula lah yang bisa memberikan rasa nikmat di hati setiap manusia. Dunia layaknya setitik air ditengah luasnya samudra. Dunia layaknya ketika sesorang bepergian dan mampir sejenak untuk berteduh. Dan kenikmatan akhirat adalah kenikmata hakiki. Pantaslah seorang imam besar, Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya kapan engkau akan istirahat? jawabnya: "Ketika pertama aku menginjakkan kakiku di syurga". Allahu Akbar!

Islam menginginkan perubahan. Perubahan menuju kebaikan. Constructive, bukan destructive. Di kala idealisme ini menjadi asing dan barang berharga, beruntunglah bagi orang asing. Seperti yang dikabarkan oleh pembawa risalah agung agama ini, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam: fa tuuba lil ghuurobaa.., "maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing.." Yang mau melakukan perubahan, mengadakan perbaikan demi perbaikan.

Support peace.
(Ya2n)
Wednesday, June 25, 2008

Personality Test

It's kinda fun to have a personality test. Like the old time "Sesame Street" personality quiz, I am the Big Bird:
Talented, smart, and friendly... you're also one of the sanest people around.
You are usually feeling: Happy.
From riding a unicycle to writing poetry, you have plenty of hobbies to keep you busy.
You are famous for: Being a friend to everyone.
Even the grumpiest person gets along with you.
How you life your life: Joyfully. "Super. Duper. Flooper."
Haha, well, maybe this one described me better:

Click to view my Personality Profile page


Manusia "l", "-", dan "T"

Manusia "l", memiliki pengetahuan yang mendalam, menghujam, sampai mendarah daging. Orang Eropa basanya memiliki tipe ini. Mereka bisa bekerja di satu bidang melulu sampai bertahun-tahun. Sampai bener-bener "nglotok". Beberapa perusahaan Eropa menerapkan sistem ini. Ada seorang yang profesional/ahli di suatu bidang tertentu, yang kalau orang bertanya kepada dia hampir tidak pernah tidak dijawabnya, dan jawabannya hampir selalu benar.

Ingat, tipe ini lingkup pengetahuannya hanya satu bidang saja. Ambil contoh, di sebuah perusahaan mobil Eropa, ada orang yang ahli hanya bagian depan mobil sebelah bawah yang dideket ban, dan hanya bagian per nya saja. Dan sampai umur 40 th pun dia selalu berkutat disitu :D. Huruf "l" melambangkan kedalaman ilmunya, tapi pada lingkup yang sangat sempit.

Manusia "-". Kalau yang ini biasanya omdo (alias omong doang). Memiliki pengetahuan luas tetapi hanya kulit-kulitnya saja. Mengenai realitasnya? tidak punya pengalaman sama sekali. Tidak punya know how. Orang bilang "Ah, teori!". Orang Indonesia banyak yang bertipe ini :D.

Ambil contoh, seorang pengamat teknologi informasi. Berbicara mengenai perbandingan suatu produk teknologi, katakanlah, 3G dibanding WiMAX atau LTE dibanding WiMAX. Padahal secara detail dia tidak tahu sama sekali. Hanya tahu kulit-kulitnya saja. Huruf "-" melambangkan kedangkalan ilmunya, tapi pada lingkup yang luas.

Manusia "T", selain dalam ilmunya, pengetahuan-pengetahuan diluar bidangnya juga tahu walaupun hanya kulit-kulitnya. Ketika ditanya mengenai bidang yang dia tekuni, bisa menjawab dengan profesional, dan jawabannya hampir selalu benar. Akan tetapi kalau berbicara dengan orang lain yang berbeda bidang masih bisa nyambung.

Ambil contoh, seorang group leader. Tentu dia harus expert pada bidang yang dia garap bersama anggota groupnya. Akan tetapi tentu dia akan berhubungan dengan group lainnya, dia tidak gap tek alias tetap bisa "nyambung". Huruf "T" melambangkan kedalaman ilmu pada bidang yang dia kuasai, tapi pada lingkup yang terbatas, sedangkan bidang lain dia ketahui kulitnya, tapi pada lingkup yang luas.

Tentu tidak ada orang superior yang menguasai dan ahli (bener2 ahli) dalam semua bidang. Einstein pun tidak tahu bagaimana cara memasak gudeg bukan? Atau nasi timbel aja lah (halah, ga penting). Tinggal pilih, kita mau jadi tipe "l", "-", atau "T". Saat ini tipe "T" adalah pilihan yang terbaik untuk orang Indonesia. Di saat kondisi negara masih berkembang dan belum terbentuk sistem yang baik. Disaat orang mulai membentuk sistem-sistem itu. So? Let's get the party begin.