Sunday, June 15, 2008

Melawan Stress Dengan Makanan

Makanan sangat berperan membantu tubuh menghadapi stress? Tentu saja. Apalagi makanan favorit. Tapi tidak semua makanan dapat membantu menghadapi stress. Pada saat stress, makanan yang tadinya berfungsi normal dapat saja mengganggu pencernaan atau rasa panas pada perut. Yang harus dihindari adalah makanan berlemak, karena akan menyulitkan pencernaan, dan makanan pedas atau terlalu berbumbu karena bisa menimbulkan masalah-masalah pencernaan. Alkohol (kalo ini haram), minuman berkafein, dan rokok juga harus dihindari karena dapat menimbulkan perasaan gelisah.

Makanan sangat berperan membantu tubuh menghadapi stress? Tentu saja. Stress dapat menghabiskan persediaan glukosa tubuh yang merupakan bahan bakar utama. Sebagai konsekuensi, perlu karbohidrat ekstra. Tapi tidak semua orang memiliki respon terhadap stress (fight of response) yang sama. Ada orang yang merasa lapar dan ingin makan saat mengalami stress (seperti saya :D), tetapi sebaliknya ada yang juga kehilangan nafsu makan sehingga tubuh kekurangan zat gizi.

Berikut beberapa tips menghadapi stress dengan makanan:
1. Mengkonsumsi makanan kaya protein sejenis unggas.
Menurut Dr. Rosch, mengkonsumsi makanan kaya protein seperti kalkun, ayam, makanan laut, dan kacang-kacangan yang mengandung asam amino tryptophan akan meningkatkan produksi serotinin. Rendahnya serotinin dalam dapat memicu terjadinya stress.

2. Memenuhi kebutuhan kalsium.
Menurut Alexander MD, Direktur Pusat Sakit Kepala NY, magnesium akan membantu produksi serotinin. Sumber yang terbaik berasal dari bayam, beberapa sereal, dan gandum.

3. Makanlah ekstra buah-buahan dan sayur-sayuran.
Berfungsi sebagai anti oksidan yang dapat melawan radikal bebas. Sumber buah-buahan yang kaya vitamin C diantaranya jambu biji, jeruk, mangga, dan pepaya. Sedangkan sumber beta karoten diantaranya brokoli, wortel, belimbing, dan bayam.

4. Minumlah delapan gelas air sehari.
Saat stress, kita cenderung berkeringat lebih dari biasanya.

Dari sekian banyak cara, cuma dua hal yang biasanya saya lakukan: makan buah-buahan ekstra dan munum banyak air. Apalagi kalo pas stress beli es shanghai, banyak buahnya seger, dan menyegarkan. Kalo buah-buahan justru seringnya makan buah pear. Yah, bagaimanapun juga tiap orang memiliki cara sendiri-sendiri untuk menghadapi stress. :) (ya2n)

Sumber: Hidup Sehati Bagi Eksekutif, kumpulan artikel kesehatan Kompas, edisi 5, 2000
Gambar diambil dari sini dan sini.

Saturday, June 14, 2008

Kenali Dulu Baru Lawan

Saya ingat betul ketika beberapa waktu lalu, stasiun radio berita RRI menyiarkan diskusi tentang pemberantasan korupsi. Satu kalimat yang menarik perhatian: kenali dulu baru lawan. Apa maknanya? Mungkin kita semua telah mengenal korupsi, atau paling tidak merasa mengenal. Tapi apakah kita telah benar-benar mengenal? Lalu mengapa korupsi di negeri ini masih saja mengakar budaya, padahal hampir semua kalangan sudah setuju bahwa korupsi harus diberantas?

Jawabannya adalah kita mungkin belum benar-benar mengenal. Tidak perlu lah jargon-jargon berantas korupsi, adili koruptor, ganyang ini ganyang itu. "Lha korupsi itu apa?" kata mbah. Kita sendiri secara tidak sadar masih melestarikan budaya korupsi.

Sebagai contoh, seorang bendahara kesiswaan SMA membuat proposal anggaran 10 juta untuk sebuah acara. Padalah uang yang dialokasikan untuk acara tersebut sebenarnya hanya 9 juta. Alasannya sisa 1 juta nya akan dipakai untuk acara pembubaran panitia, makan-makan, dll. Apakah ini termasuk bentuk korupsi? Tentu saja.

Contoh yang lebih dekat dan banyak dilakukan, baik sadar ataupun tidak adalah penyelewengan SPJ, Surat Perjalanan Dinas, atau sejenisnya lah. Misalnya seorang pegawai pemerintah akan mengikuti pelatihan kepegawaian di Bandung. Berhubung anaknya sedang sekolah di IPDN, dia menitipkan tanda tangan kepada rekannya sekedar agar mendapat jatah uang, dan bisa menengok anaknya dengan gratis. Setujukan Anda ini termasuk korupsi? Kalau tidak setuju, jangan lah buru-buru katakan berantas korupsi. Kenali dulu korupsi.

Seperti kata bang Napi, korupsi ada kalau ada N dan K. Rumusnya: Niat dan Kesempatan. Kesempatan bisa dihilangkan dengan hukum. Akan tetapi niat, hanya bisa dihilangkan oleh masing-masing orang. Dan niat adalah hasil dari karakter seseorang. Karaketer susah dihilangkan kalau sudah membudaya. Pelu kesadaran dan kerja keras untuk mengubahnya.

Kita perlu mengenalkan sadar korupsi sedari dini, sedari anak-anak. Apa itu korupsi, bagaimana bahaya korupsi. Agar korupsi tidak lagi mengakar budaya pada generasi kita kelak. "Kenali dulu koupsi, baru lawan!" :) (ya2n)

Gambar diambil dari sini.

Budaya Latah-Latahan

Sedikit latah-latahan. Gara-gara BBM naik, muncul berbagai komentar baik negatif maupun positif, baik mendukung maupung menolak. Tapi seperti biasanya, hanya latah-latahan. Paling lama bertahan sebulan. Saat ada dedas-desus BBM akan naik, kontan warga langsung menyerbu POM bensin terdekat. Tak paduli walau sampai mengantri malam-malam hanya sekedar untuk beli 10 liter bensin, bahkan dua tiga liter saja. Apakah setelah harga benar-benar naik mereka tidak membeli bensin lagi? Tidak juga, tetap saja membeli. Latah saja.

Munculnya isu krisis energi dunia menyebabkan penelitian energi alternatif sedang banyak digandrungi. Tak hanya negara maju, di negara kita pun begitu. Lalu beberapa waktu lalu muncul sosok yang mengaku bisa membuat menciptakan alat penghasil energi dengan bahan baku air. Sampai-sampai dengan penuh semangat pemerintah mendukung penelitiannya, bahkan mau dipamerkan segala di ICT Expo 2008 segala, ajang pameran Teknologi Informasi terbesar di Indonesia. Bisa dibayangkan, industri high-tech disandingkan dengan karya irrasional. Dan terbukti, teknologi yang disebut-sebut sebagai blue-energi itu hanya isapan jempol belaka. Latah saja.

Itu sedikit dari banyak contoh budaya latah di kita. Kita sering latah. Latah bisa baik, bisa buruk. Yang jelas, hanya hangat-hangat tahi ayam saja, tentu tidak akan merubah apapun. Yah, konsistensi dan jati diri memang mahal harganya. Dan barang mahal sudah selayaknya dicari. :) (ya2n)

Monday, April 21, 2008

Tadabbur Al-Qur'an

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisa:82)

Pernahkah ketika kita membaca Al-Qur'an lalu tiba-tiba berhenti... berhenti sejenak... untuk men-tadabburi-nya...


Diantara tanda men-tadaburi Al-Qur'an adalah menyatunya hati dan pikiran ketika membacanya, dan menangis karena mengetahui keagungan dan kebenaran isi dikandungnya. Dan inti dari semua itu adalah hati. Karena dengan hati lah kita memahami Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala,

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. " (Al-Hajj:46)

"Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. " (Al-Kahfi:57)

Hati adalah layaknya raja bagi tubuh kita. Apabila baik hati itu, maka baik pula seluruh jasadnya, apabila buruk hati itu, maka buruk pula lah seluruh jasadnya. Ibrahim bin Adham, seorang ulama di zaman Imam Ahmad mengatakan salah satu tanda hati telah mati adalah "Engkau membaca Al-Qur'an tetapi tidak mengamalkannya."

Allah lah yang Berkuasa untuk menutup atau membukakan hati kita, seperti firman-Nya,

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." (Al-Anfal:24)

Maka kita perlu berhati-hati, jangan-jangan Allah subhanahu wa ta'ala menutup hati kita lantaran kita tidak mau memenuhi panggilan-Nya. Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii 'alaa diinika.

Berkaitan dengan tadabbur Al-Qur'an, salah satu kuncinya adalah cinta Al-Qur'an. Dr. Kholid berkata dalam Mafaatihu Tadabburil Qur'an Wannajaah Fiil Hayaah, ada beberapa tanda seseorang cinta kepada Al-Qur'an, diantaranya adalah:

1. Senang bertemu dengan Al-Qur'an.
2. Bisa duduk berlama-lama dalam berinteraksi dengan Al Qur'an tanpa rasa bosan/jenuh.
3. Rindu setelah lama tidak berinteraksi dikarenakan ada hal yang menghalangi, mengharap dapat kembali berinteraksi dan berusaha untuk menghilangkan penghalang tersebut.
4.
Banya diskusi mengenai alqur'an, Yakin terhadap petunjuk/arahan yang terdapat dalam al 'qur'an, serta Merujuk kepada Al'Qur'an terkait permasalahan hidup baik itu masalah kecil maupun besar.
5.
Mentaati Al-qur'an, perintah dan larangannya.

(blm selesei, dikit lagi :))

Wednesday, April 16, 2008

Dan Allah Mengetahui..

Beberapa istilah tingkatan pengetahuan seseorang akan suatu hal:
(Syarh Ushul Tsalatsah, Al-Utsaimin)

1. Ilmu: Mengetahui sesuatu secara hakiki/pasti.
2. Jahl l'Bashith: Tidak mengetahui sesuatu.
3. Jahl l'Murokkab: Tidak mengetahui, merasa tahu tapi salah.
4. Dzon: Prasangka yang cenderung benar, ingat-ingat lupa.
5. Syak: Ragu-ragu, 50% benar.
6. Wahm: Prasangka yang cenderung salah.

Terkadang kita berprasangka padahal cenderung salah,
atau terkadang kita merasa tahu padahal sama sekali tidak benar.
Astaghfirullah.
Meninggalkan keragu-raguan adalah lebih selamat,
maka mengatakan Allahu A'lam adalah setengah dari ilmu.

Ingat kisah Imam Ahmad, seorang 'ulama yang amat luas ilmunya, benar-benar mengamalkan ilmunya, sehingga konon pernah seseorang menghadiri majlis ta'limnya dan mendapat ilmu hanya dengan menyaksikan secara langsung akhlak beliau, subhanallah. Pernah ketika beberapa pertanyaan dilontarkan kepadanya, kemudian saat itu Imam Ahmad belum mengetahui, dengan keluasan ilmunya beliau menjawab: tidak tahu. (Wallahu A'lam)

"... Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamuun."
"... Dan Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)


Wednesday, April 2, 2008

Stay Focus!

Every big things come from a little thing..
Yeah!
Stay focus!


VS, April 3th 2008
Saturday, March 29, 2008

Chapter1: Selamat Pagi Dunia!

Aku tidak pernah merasa bahwa pagi ini seperti pagi-pagi biasanya. Tidak ada yang biasa. Semua luar biasa, exciting! Perasaan bergairah yang membangkitkan semangat. Dan di sisi lain, ada pekerjaan-pekerjaan rutin yang biasa kulakukan tiap pagi.

Apartemen. Setelah sejenak melepas lelah, aku sedikit terhenyak oleh suara alarm handphone yang aku set menyala jam tiga pagi. Aku berjalan tergopoh-gopoh ke arah meja kerjaku, dan jam di komputer menunnjuk pukul 03.45 pagi. Jangan heran, butuh waktu 45 menit bagiku untuk bangun sampai tersadar 100%. Jadi alarm yang aku set nyala jam tiga pagi itu memang agar aku bisa bangun jam empat kurang seperempat. Komputer pun sengaja kuhidupkan karena baru beberapa jam lalu akhirnya aku menyelesaikan rancangan. Beberapa jam yang lalu yang rasanya seperti beberapa menit yang lalu.

Rasa exciting ini muncul tiap kali aku berhasil menyelesaikan rancangan. Pekerjaan yang aku geluti sampai saat ini: merancang chip. Chip dalam bahasa awam artinya keripik. Keripik kentang, keripik singkong. Aku memang suka keripik, apalagi keripik kentang. Orang Jepang bilang potato chippusu. Hampir di setiap mini market, barang ini tak pernah luput. Bagi orang Jepang, keripik kentang memiliki sensasi tersendiri yang menyebabkan potato chippusu ini terkenal. Orang Jepang suka ketika bunyi "kriiukkk" keluar saat gigi mengunyahnya. Alasan yang terdengar aneh.

Oiya, balik lagi. Jadi chip yang aku rancang itu contoh mudahnya adalah prosesor Intel Pentium Core 2 Duo 3GHz. Biar bombastis! Tapi tentu tidak serumit itu. Walau toh pada akhirnya bentuknya sama saja. Yang jelas, melihat rancanganku berhasil lolos validasi, membuatku semakin bersemangat untuk merancang chip-chip lainnya. Like dream come true. Impianku sejak lama adalah menjadi seorang yang ahli di suatu bidang. Seorang ahli yang jika ada yang bertanya jawabannya ada padaku, seseorang yang jika ada yang membutuhkan mereka datang padaku.

Jadi teringat dengan sahabatku, Heri. Aku mengenalnya ketika masih duduk di bangku kuliah. Heri adalah orang yang awalnya sangat beambisius untuk membuat usaha sendiri. Bahasa kerennya enterpreneurship. Dan kesungguhannya aku lihat dari beberapa usaha yang dia buat seperti Al-Uswah, lembaga bimbingan belajar mahasiswa yang benuansa Islam. Tapi belakangan pendapat dia sedikit berubah. Diawali ketika kami berdua mengobrol santai sambil saling curhat dan membahas permasalahan pribadi.

Sambil makan mie ayam baso dan es alpukat, dia berceletuk, "Yan, saya lagi mencari jati diri nih, menurut kamu saya lebih cocok jadi apa? Dari sudut pandang pengaktualisasian diri".

"Hmm, kamu 'kan kayaknya cocok jadi pengusaha, Her, 'kan dulu kamu kalau cerita pasti nggak pernah keluar-keluar dari kata usaha, bisnis, enterpreneur, hehe".

"Iya, tapi akhir-akhir ini saya mulai berfikir lain, Yan. Pas selesei kerja praktek, saya teh jadi mulai mikir-mikir".

Heri yang orang Sunda tulen ini lalu bercerita tentang pengalamannya kerja praktek. Baca selengkapnya.