Seseorang pernah bilang begini (it's just a joke however), "Pak, kalo VSilicon ini berhasil men-develop chipset WiMax, Intel nanti protes ke Tuhan." Tanya kenapa??
Kalau kita coba search kata “wimax” di google maka salah satu yang akan keluar adalah kata
Intel. Ya, Intel memang dikenal sebagai developer chipset WiMax paling maju saat ini. WiMax, menurut saya, akan menjadi promadona teknologi elektronika/telekomunikasi sampai beberapa dekade kedepan. Diperkirakan tahun 2010, teknologi ini akan mulai booming (walau dibutuhkan waktu kurang lebih 10 tahun sampai teknologi ini benar2 matang seperti
WiFi saat ini).
Saya nggak akan ngebahas
what is WiMax atau
how WiMax works, terlalu membosankan (secara sudah menjadi makanan sehari-hari, huhuhu -_-'). Tinggal tanya ke om
google atau lihat di
wiki (selama infonya akurat) udah banyak yang ngebahas.
Cuma yang menarik bagi saya adalah:
WiMax Intel nggak bisa masuk ke Indoneisa.
WiMax versi Indonesia.

Ceritanya, pemerintah (lewat badan standarisasi
Postel mengenai regulasi teknologi telekomunikasi Indoneisa, bekerjasama dengan
Ristek dan
Depkominfo) berusaha agar teknologi WiMax ini mampu dikembangkan sendiri oleh Indonesia. Hal ini dikarenakan salah satunya,
cost teknologi untuk men-
deploy WiMax ini sangat tinggi. Mereka tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama ketika men-
deploy teknologi
3G yang memakan (plus-minus) 30 triliun rupiah setahun (untuk ongkos lisesni, perangkat, dll.).
Kenyataannya, banyak pihak yang sekarang ini ingin men-deploy WiMax rata-rata terhambat oleh satu hal: biaya chipset yang sangat mahal. Karena untuk memesan sample saja harus membayar 500 juta rupiah, apalagi biaya lisensi per-tahunnya. Karena itu, solusi yang selalu dinanti-nanti adalah: Indonesia mampu membuat chipset sendiri dengan biaya yang super murah.
Dari sini kemudian tampil lah satu perusahaan kecil yang baru berdiri yaitu
VSilicon. Dengan segala kemampuannya* berusaha mengembangkan chipset WiMax dan bersaing dengan chipset WiMax-nya Intel. Hanya dengan 15 orang engineer. Ini jelas nggak ada apa-apanya dibanding
jor-jor-an yang dilakukan
Taiwan untuk mengembangkan WiMax versi mereka sendiri.
Tak heran jika kemudian ada orang yang berceletuk, “Pak, kalo
VSilicon ini berhasil men-develop chipset WiMax, Intel nanti protes ke Tuhan.” Secara kalo dibandingkan, Intel sudah menghabiskan biaya
3 miliar US dollar untuk mengembangkan WiMax, sedangkan Indoneisa?
3 miliar rupiah. Sama-sama 3 miliar siiih, bedanya (cuma) Intel pake US dollar, Indonesia pake rupiah hehehehe ^^.
Anyway, ada bebrapa hal yang mungkin terlewatkan dari benak kita. Indonesia tentu tidak akan mulai dari nol. Belajar dari Jepang, China, dan Korea. Mereka jarang meng-invent sesuatu tapi kenapa teknologi mereka bisa maju dan kadang menjadi leading-on-technology? Salah satunya karena mereka mau meniru lalu mengembangkannya, reverse engineering and innovation (hal lain adalah karena mereka mau kerja keras tentunya).
Satu hal lagi yang tidak boleh lupa. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apa sih yang tidak mungkin bagi-Nya? (dan ternyata yang berceletuk tadi memang bukan orang muslim sih :P). Maksimalkan ikhtiar, sempurnakan tawakkal, kata Aa' Gym. Memiliki harapan dan impian itu gratis kok. Jangan lupa bahwa ada do'a. Do'a adalah senjata bagi setiap muslim. Tapi senjata itu pun bisa tumpul karena maksiat dan dosa. (kok jadi serius gini hehehe ^^).
Ya wes ya, Ganbarimashou!!!
Keep On Fire!! (jadi inget
Wada-sensei ^^)
*membantig tulang, memeras keringat, 24 jam sehari 7 hari seminggu... hoho, berlebihan banget nggak sih.. ^^
Further reading:
[1] Kantor Berita Antara,
"WiMax versi Indonesia"[2] Detik.com,
"Asia akan menjadi 'Raja' WiMax"[3] Reuters,
"Taiwan to spend $664 mln on WiMax development"Related terms:
[1]
Integrated Circiut.
[2]
SoC (System-On-a-Chip).